OPINI | POLITIK
“Ibu adalah madrasah pertama, dan ayah adalah pemimpin rumah tangga yang akan dimintai pertanggungjawaban atas keselamatan keluarganya di dunia dan akhirat,”
Oleh : Imam Suyudi
KETIKA sebuah bangsa kehilangan kepedulian terhadap masa depannya, yang pertama kali dikorbankan adalah pendidikan dan akhlak generasi mudanya.
Negara boleh sibuk berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, bonus demografi, dan transformasi digital, tetapi lupa bertanya satu hal mendasar, manusia seperti apa yang sedang kita bentuk?
Di sinilah Generasi Z dan generasi setelahnya berdiri atau lebih tepatnya, terhimpit dalam sistem yang memuja pasar, menuhankan kebebasan, dan mengukur kemajuan dari angka konsumsi. Anak muda hari ini nyaris tak bisa dilepaskan dari ponsel dan internet.
Sebagaimana dilansir CNBC Indonesia, warga RI berusia 16 tahun yang menggunakan ponsel untuk internetan jumlahnya mencapai 98,7%, berada di atas Filipina dan Afrika Selatan dengan angka 98,5%. Dan Ironisnya, koneksi yang masif ini tidak diiringi dengan kendali moral, arah nilai, dan tanggung jawab negara.
Kapitalisme digital bekerja tanpa nurani. Ia tidak bertanya apakah sebuah konten merusak akhlak atau menghancurkan masa depan anak.
Selama ada klik, trafik, dan keuntungan, semuanya dianggap sah. Maka wajar jika kita setiap hari disuguhi berita remaja yang terjerat judi online, terpapar pornografi, hingga terlibat eksploitasi seksual berbasis daring. Anak-anak diperlakukan bukan lagi sebagai manusia yang harus dilindungi, melainkan sebagai target pasar dan komoditas ekonomi.
Judi online misalnya, bukan sekadar soal uang yang hilang. Ia pintu masuk kehancuran sosial: konflik rumah tangga, utang, prostitusi, hingga kriminalitas. Begitu pula pornografi dan eksibisionisme daring, semuanya tumbuh subur karena negara memilih menjadi wasit pasar, bukan penjaga moral publik.
Negara hanya sibuk memungut pajak dan membuat regulasi administratif, sementara kerusakan mental dan akhlak generasi muda dianggap urusan personal.
Inilah watak asli kapitalisme: bebas nilai, bebas arah, dan bebas tanggung jawab. Ketika kebebasan dilepaskan dari kebenaran, maka yang lahir bukan kemajuan, melainkan kehancuran yang dilegalkan.
Solusi Islam : Mengembalikan Negara sebagai Penjaga Akhlak dan Masa Depan
Islam tidak memandang persoalan ini sebagai masalah teknis semata, melainkan sebagai persoalan sistemik yang membutuhkan solusi menyeluruh dari negara, masyarakat, hingga keluarga.
Dalam Islam, negara wajib mencegah masuknya informasi, aplikasi, dan konten yang haram serta merusak akhlak umat. Kebebasan tidak dibiarkan liar, tetapi diikat oleh hukum syariat. “Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi” (TQS al-An‘am: 151).
Ayat ini menjadi dasar kewajiban negara menutup seluruh sarana (sadd adz-dzari‘ah) yang mengantarkan pada kemaksiatan, termasuk konten pornografi dan judi online.
Islam tidak mentoleransi kejahatan yang merusak generasi. Judi, pornografi, dan eksploitasi seksual adalah kejahatan yang harus dihentikan dengan hukum yang tegas dan berefek jera. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar”
(TQS ali ‘Imran: 104).
Penegakan hukum dalam Islam bukan sekadar menghukum, tetapi menjaga masyarakat dari kerusakan yang lebih besar. Pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk kepribadian (syakhshiyah) Islam, bukan sekadar mencetak tenaga kerja. Anak-anak harus dibina dengan akidah yang lurus melalui halaqah, kurikulum Islam, dan keteladanan sejak usia dini.“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (TQS at-Tahrim: 6). Ayat ini menegaskan, pendidikan akidah adalah kewajiban, bukan pilihan.
Dalam jangka pendek, orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk mengawasi dan mengarahkan konsumsi konten anak. Keluarga adalah sekolah pertama sebelum negara dan masyarakat. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR Bukhari dan Muslim).
Ibu adalah madrasah pertama, dan ayah adalah pemimpin rumah tangga yang akan dimintai pertanggungjawaban atas keselamatan keluarganya di dunia dan akhirat.
Selama negara masih tunduk pada logika kapitalisme, selama kebebasan dibiarkan tanpa arah, maka Generasi Z akan terus menjadi korban. Islam hadir bukan sebagai wacana moral belaka, tetapi sebagai sistem yang melindungi manusia, akalnya, akhlaknya, dan masa depannya. Sebab membangun bangsa sejatinya bukan soal teknologi, melainkan soal nilai. (**)
*Penulis Adalah Aktivis Dakwah


















