Kisah Ibu Hanipa, Pejuang Kuliner Mandar di Tengah Harapan Ada Perhatian Pemerintah

0
5
Kepala Sekolah SDN No. 50 Konja, Arifuddin, S.Pd.,
EKONOMI
“Saya adalah pelanggan tetap beliau. Setiap pagi saya membeli dagangannya. Harus diakui, kue dan makanan khas Mandar seperti Jepa dan Bau Tapa buatan Ibu Hanipa ini sangat enak dan lezat,”
Majene | SULBAR | Lapan6Online : Di balik aroma gurih Jepa dan lezatnya Bau Tapa yang tersaji setiap pagi di sekitar SDN No. 50 Konja, terselip kisah perjuangan hidup seorang lansia bernama Ibu Hanipa (60). Meski usianya tak lagi muda, ia tetap setia menjajakan Makanan khas Mandar demi menyambung hidup, di tengah kondisi rumah yang kian memprihatinkan.

Ibu Hanipa, yang akrab disapa warga sebagai sosok pekerja keras, setiap hari menyediakan berbagai kudapan tradisional.

Ibu Hanipa (60), pejuang Kuliner Makanan Khas Mandar
Keahliannya mengolah kuliner lokal telah memikat hati banyak orang, termasuk para tenaga pendidik di wilayah tersebut.
Kepala Sekolah SDN No. 50 Konja, Arifuddin, S.Pd., yang merupakan salah satu pelanggan setia Ibu Hanipa, memberikan kesaksiannya. Ia mengaku hampir setiap pagi menyempatkan diri untuk membeli dagangan Ibu Hanipa sebelum memulai aktivitas di sekolah.
“Saya adalah pelanggan tetap beliau. Setiap pagi saya membeli dagangannya. Harus diakui, kue dan makanan khas Mandar seperti Jepa dan Bau Tapa buatan Ibu Hanipa ini sangat enak dan lezat. Bukan hanya saya, guru-guru di sekolah kami juga sering sekali berbelanja di sana,” ujar Arifuddin saat ditemui Lapan6Online.com, pada Kamis (16/04/2026) sedang membeli dagangan Ibu Hanipa.
Namun, di balik kelezatan masakan yang ia sajikan, tersimpan duka yang mendalam. Di usia senjanya, Ibu Hanipa (yang juga bersama Ibu Hapsa, 67 tahun) tinggal di sebuah rumah yang kondisinya sudah sangat reot dan tidak layak huni. Dinding yang mulai lapuk dan atap yang bocor menjadi saksi bisu kesehariannya.
Besar harapan Ibu Hanipa agar pihak pemerintah, baik tingkat desa maupun kabupaten, bersedia turun tangan melihat langsung kondisinya. Ia merindukan kehadiran sosok pemerintah yang dapat memberikan perhatian serta bantuan renovasi rumah sebagaimana mestinya bagi warga lansia yang kurang mampu.
“Saya hanya berharap pemerintah bisa datang berkunjung, melihat keadaan rumah saya ini. Saya ingin mendapatkan perhatian yang layak di masa tua saya,” ungkapnya dengan nada penuh harap.
Kisah Ibu Hanipa adalah potret nyata dedikasi terhadap pelestarian kuliner lokal yang berbenturan dengan keterbatasan ekonomi. Kini, bola panas ada di tangan pemangku kebijakan untuk memastikan bahwa pahlawan ekonomi lokal seperti Ibu Hanipa tidak terlupakan di sisa usianya. (*HGDP/Lpn6)