Krisis Gaza : Pelaparan Sistemis dan Momentum Kebangkitan Umat

0
30
Ilustrasi/Net

OPINI | POLITIK | MANCANEGARA

“Meski tekanan internasional menguat, Hamas hingga kini belum menunjukkan niat jelas untuk menyerahkan kekuasaan. Beberapa pejabat kelompok tersebut bahkan memberikan pernyataan yang saling bertentangan terkait masa depan Gaza pasca perang,”

Oleh : Alin Aldini, S. S.,

NEGARA-negara Arab dan Muslim, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Mesir, pertama kalinya resmi mendesak Hamas untuk melucuti senjata dan menyerahkan kekuasaan atas Jalur Gaza kepada Otoritas Palestina (PA).

Seruan tersebut disampaikan dalam deklarasi bersama yang diumumkan dalam konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Selasa (29/7/2025). Deklarasi ini ditandatangani oleh 22 negara anggota Liga Arab, seluruh Uni Eropa, serta 17 negara lainnya, dan menjadi sinyal perubahan signifikan dalam sikap dunia Arab terhadap kelompok militan yang telah menguasai Gaza sejak 2007 (cnbcindonesia.com, 31/07/2025).

Masih dilaman yang sama, meski tekanan internasional menguat, Hamas hingga kini belum menunjukkan niat jelas untuk menyerahkan kekuasaan. Beberapa pejabat kelompok tersebut bahkan memberikan pernyataan yang saling bertentangan terkait masa depan Gaza pasca perang.

Sementara itu, Mesir, sebagai mediator utama dalam negosiasi gencatan senjata bersama Qatar, sebelumnya telah merancang rencana pemerintahan pasca perang tanpa keterlibatan Hamas. Draf rencana menunjukkan proposal pembentukan komite Palestina sementara yang akan mengambil alih kendali Gaza sebelum diserahkan ke PA. Arab Saudi juga terus mendorong kebangkitan solusi dua negara sebagai jalan keluar konflik berkepanjangan ini.

Bahkan Mesir pun ikut menekan Imam Besar Al Azhar untuk mencabut pernyataannya tentang Zionis, padahal dunia menyaksikan pelaparan sistemis (systemic starvation) menjadi senjata Yahudi untuk genosida. Meski kabar tersebut dihapus dari media publik dan dalam tahap konfirmasi, ini jelas membuktikan umat Islam sedang dipecah-belah. Namun sayangnya, kejadian ini justru menjadi bumerang yang membunuh musuh-musuh Islam, karena faktanya sudah mulai semakin banyak negara yang akan mengakui Palestina karena terbuka boroknya Zionis Yahudi sejak zaman Rasulullah SAW dan kejahatannya semakin tampak jelas. Sungguh miris jika masih ada orang yang ‘diam’ atas hal ini.

Kalau Prancis saja resmi mengakui negara Palestina, lantas mengapa negeri-negeri Muslim justru malah mendukung Amerika dan Israel agar Zionis menguasai Palestina atau hanya sebatas solusi dua negara?

Para penguasa Muslim sudah buta dan tuli atas realita di Gaza, seolah keimanan mereka tergadai hanya dengan kekuasaan dan ketakutannya pada negeri kafir harbi fi’lan (yang jelas-jelas sudah memusuhi Islam), seharusnya mereka malu, mereka mampu memberi bantuan logistik, pangan, dan bahkan militer, tapi tidak dilakukannya. Padahal Allah SWT telah mengingatkan ikatan ukhuwah Islamiyah adalah landasan hubungan antar muslim.

Disebutkan dalam ayat,

وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ

“Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, kalian wajib menolong mereka.”(QS al-Anfal [8]: 72).

Demikian halnya Rasulullah SAW di dalam hadis,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)” (HR Bukhari dan Muslim).

Umat terbaik kini hanya menjadi buih di lautan, kekuatannya hanya sebatas ‘kecaman’ tanpa perbuatan nyata yang mampu menghentikan kezaliman. Umat Islam yang memiliki kekuatan jika bersatu, kini terpecah menjadi banyak negara yang bahkan mengabaikan penderitaan saudara muslim yang lain, bahkan negara tetangga yang batas teritorialnya hanya dihalangi tembok.

Khalifah Umar bin Khaththab ra. pernah berkata, “Dahulu kita adalah kaum yang paling hina, tetapi Allah memuliakan kita dengan Islam. Kapan saja kita meminta kemuliaan selain dari apa yang telah dimuliakan Allah terhadap kita maka Allah akan menghinakan kita.”

Padahal Allah SWT menjanjikan umat Islam akan berada dalam keadaan aman sentosa, sejahtera dan berjaya, sebagaimana firman-Nya dalam sura h an-Nur ayat 55 yang artinya, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Peradaban yang telah diperjuangkan Rasulullah SAW, para Sahabat Rasul Saw, tabi’in (generasi anak-anak sahabat Rasul SAW), tabi’ut tabi’in (generasi anak-anak tabi’in) seketika hanya cerita sejarah belaka, padahal semua itu rekam jejak yang perlu kita contoh agar dapat mengembalikan peradaban mulia tersebut.

Kisah Khalifah Al Mu’tashim Billah yang membela kehormatan seorang perempuan karena bangsa Yahudi dan sikap tegas sultan Abdul Hamid II yang menolak menyerahkan tanah Palestina pada Yahudi pun potret penguasa yang menjaga kemuliaan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Siapakah yang justru mampu mengembalikan kemuliaan umat yang sudah dirampas oleh para penjajah? Palestina menjadi saksi bahwa kepemimpinan/kekuasaan umat Islam akan bersatu, dan bahkan sedang mereka ‘kandung’ di tengah perang melawan Zionis, Palestina sudah selayaknya menjadi rahim peradaban mulia tersebut, hanya saja siapa yang akan ‘membidani’ peradaban itu? Bukankah kita sudah selayaknya menjadi ‘pejuang’ yang membantu saudara-saudara kita dan bukan hanya menonton?

Namun apakah cukup isu kemanusiaan ini yang menjadi pemersatu atau pembela hak-hak kaum Muslim di Gaza? Sungguh tidak cukup. Hamas membutuhkan kekuatan nyata dari para penguasa muslim, menyatukan kekuatan dengan kepemimpinan yang bisa menyatukan umat.

Allah SWT berfirman di dalam ayat,

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ

“Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian” (QS al-Baqarah [2]: 190).

Rasulullah SAW telah mencontohkan ketika di Madinah, dakwah bukan hanya sekadar ‘ucapan/khatbah’, tapi membutuhkan implementasi dalam sebuah negara yang utuh dan kompleks, yaitu bersatunya umat Islam. Tahapan untuk sampai ‘memerangi’ Zionis dibutuhkan tiga tahapan: (1) pembinaan (tastqif), sebagaimana yang pernah dilakukan Rasulullah SAW di rumah Arqam bin Abi Arqam, (2) interaksi dengan umat (tafa’ul ma’a al-ummah, juga dilakukan di Makkah, dan (3) penerapan kekuasaan oleh negara (tathbiq al-ahkam), yakni penguasa Madinah menyerahkan kekuasaannya pada Rasulullah SAW dengan sukarela dan dipimpin untuk memerangi para penguasa zalim. Karena sejatinya, Rasulullah SAW bukan hanya sekadar Nabi tapi juga seorang penguasa negara dan pemimpin/panglima perang. (**)

*Penulis Adalah Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok