Letkol Albertinus Mariano Apresiasi Tradisi Dayak Bakati di Ngarantek Sawa Bahu ke-IX Kecamatan Lumar

0
104

KOMANDO | BUDAYA

“Suasana kebersamaan dan gotong royong begitu terasa, meneguhkan nilai-nilai persaudaraan yang menjadi fondasi masyarakat adat Dayak Bakati,”

Bengkayang | KALBAR | Lapan6Online : Ribuan warga memadati Ramin Adat Binua Lumar, Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, pada Senin, 9 Juni 2025, untuk mengikuti pelaksanaan Ritual Adat Ngarantek Sawa Bahu ke-IX. Tradisi sakral ini merupakan warisan budaya masyarakat Dayak Bakati yang terus dilestarikan secara turun-temurun.

Dengan balutan busana adat penuh warna dan simbol-simbol sakral, suasana ritual berlangsung meriah namun tetap khidmat. Musik tradisional, tarian ritual, serta doa-doa adat yang dipanjatkan para tetua menyatu dalam semangat kebersamaan menyambut musim tanam padi.

Ngarantek Sawa Bahu adalah ritual penting bagi masyarakat Dayak Bakati sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan alam, sekaligus permohonan restu untuk musim tanam yang diberkahi, hasil panen melimpah, dan terhindar dari marabahaya.

Memasuki pelaksanaan ke-9 tahun ini, ritual tersebut menjadi bukti keteguhan masyarakat adat dalam menjaga akar budaya di tengah arus modernisasi.

Acara ini turut dihadiri oleh Komandan Kodim 1209/BKY, Letkol Inf Albertinus Mariano, S.E., yang menyampaikan apresiasinya atas kekuatan budaya masyarakat Dayak Bakati.

“TNI akan terus hadir dan mendukung kegiatan seperti ini sebagai bagian dari kemanunggalan TNI dengan rakyat,” ujar Letkol Mariano.

Ia juga menegaskan pentingnya pelibatan generasi muda dalam menjaga keberlangsungan adat. Menurutnya, pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya milik para tetua adat.

Tak hanya aspek spiritual dan budaya, acara ini juga berdampak pada peningkatan ekonomi lokal. Ribuan pengunjung memberikan peluang bagi para pedagang, pengrajin, dan pelaku seni untuk memperkenalkan serta menjual produk mereka.

Beragam kegiatan budaya seperti pementasan seni, lomba tradisional, dan diskusi adat menjadi sarana edukasi efektif bagi generasi muda. Mereka tidak sekadar menjadi penonton, melainkan ikut terlibat langsung dalam setiap prosesi.

“Suasana kebersamaan dan gotong royong begitu terasa, meneguhkan nilai-nilai persaudaraan yang menjadi fondasi masyarakat adat Dayak Bakati,” tambah Letkol Mariano.

Lebih dari sekadar seremoni tahunan, Ngarantek Sawa Bahu menjadi momentum penting untuk merawat warisan leluhur, memperkuat jati diri budaya, serta mempererat persatuan masyarakat adat.

“Apalagi di tengah tantangan zaman, semangat untuk menjaga adat dan budaya tetap menyala, mengakar kuat dalam hati masyarakat Dayak Bakati,” tutupnya.

*Yulizar | Lapan6online