Nasionalisme dan Negara, Bangsa Menghalangi Perjuangan Membebaskan Palestina

0
31
Ilustrasi

OPINI | MANCANEGARA

“Ribuan peserta Global March To Gaza tertahan di pintu perbatasan Rafah. Bahkan Pemerintah Mesir pun bungkam, seolah tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan, padahal mereka adalah negara yang berbatasan langsung dengan Gaza,”

Oleh : Misriyaningsih

AKSI Internasional Global March To Gaza (GMTA) menjadi harapan baru bagi umat Muslim di seluruh dunia. Aksi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mendorong respons global terhadap upaya pembebasan blokade di Gaza. Ribuan aktivis kemanusiaan dari berbagai negara turut andil, termasuk rombongan dari Indonesia yang terdiri atas para aktivis kemanusiaan dari kalangan artis dan influencer.

Hati mereka tergerak untuk menyuarakan ketidakadilan yang menimpa saudara seiman di Palestina. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh salah satu aktivis, Zaskia Adya Mecca, dalam podcast bersama Ustadzah Oki. Ia mengatakan bahwa keterlibatannya dalam aksi ini adalah bentuk panggilan hati.

Ketika seseorang telah mendedikasikan dirinya sebagai pelayan umat, ia tak bisa tinggal diam melihat saudara seiman di Palestina terus-menerus dibombardir oleh Zionis tanpa adanya solusi yang hakiki, padahal krisis ini telah berlangsung sangat lama. Upaya ini menjadi bukti nyata bahwa kita tidak tinggal diam, tetapi turut bergerak menyuarakan penyelesaian atas permasalahan ini.

Munculnya gerakan Global March To Gaza (GMTA) menujukkan besarnya kepedulian umat terhadap penderitaan rakyat Palestina. Ditambah, dalam akidah Islam, seluruh umat Muslim adalah satu tubuh. Jika saudara seiman merasakan kesusahan dan ketidakadilan, seyogianya kita pun merasakan sakit yang serupa. Sebab, kita adalah saudara seakidah dan ikatan itu, tentunya, lebih besar daripada ikatan apapun.

Namun, ironisnya penguasa yang mempunyai kekuatan justru seakan diam membiarkan tragedi ini terus berlangsung. Hal ini menandakan bahwa umat tidak lagi bisa menggantungkan harapan pada lembaga-lembaga internasional maupun para penguasa Muslim yang telah dibungkam. Maka tak heran jika gerakan ini muncul sebagai wujud panggilan hati di tengah matinya peran para penguasa saat ini.

Sayangnya, aksi ini tidak serta-merta berjalan dengan lancar. Banyak peserta Global March to Gaza yang diusir dan dideportasi dari Mesir dengan alasan yang tidak jelas. Belum lagi, dari segi keamanan, mereka juga tidak terjaga karena tidak mendapatkan jaminan keamanan dari negara asal. Mereka senantiasa diawasi dan dipantau gerak-geriknya, bahkan sempat ada yang diculik dan diamankan aparat.

Ribuan peserta Global March To Gaza tertahan di pintu perbatasan Rafah. Bahkan Pemerintah Mesir pun bungkam, seolah tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan, padahal mereka adalah negara yang berbatasan langsung dengan Gaza. Kekuatan politik mereka dibungkam oleh berbagai kebijakan dan kerja sama internasional dengan negara-negara pendukung Zionis. Semua ini terjadi karena umat Islam hari ini terpecah belah dalam sekat nasionalisme yang disebut negara.

Paham ini kian menggerogoti hati nurani dan rasa kemanusiaan di antara para penguasa Muslim di seluruh dunia. Sikap diam mereka seolah membiarkan tragedi pembantaian terhadap saudara mereka di hadapan mata mereka sendiri. Diamnya para penguasa inilah yang menjadi tonggak munculnya Gerakan Global March to Gaza, karena umat sudah tak bisa lagi berharap pada penguasa Muslim untuk menyelesaikan konflik ini.

Mirisnya, penguasa negara-negara Islam justru ikut menjaga kepentingan para pembantai, hanya demi meraih keridaan dari negara adidaya yang menjadi tumpuan kekuasaan mereka, yakni Amerika. Demi melanggengkan kekuatan politik negara, mereka rela menukar dengan nyawa saudara mereka sendiri.
Hal ini merupakan permasalahan umat yang sangat serius.

Umat Islam harus menyadari betapa berbahayanya paham nasionalisme dan konsep negara-bangsa yang kian hari semakin memecah belah persatuan umat Islam. Paham ini melemahkan kekuatan umat, baik dari segi akidah maupun kekuasaan. Terbukti dari tragedi pembantaian yang dilakukan Zionis, yang hingga kini belum memiliki solusi hakiki untuk menghentikannya.

Padahal, Palestina dikelilingi oleh negara-negara besar Islam seperti Iran, Yordania, Mesir, Arab Saudi, dan lainnya, yang diketahui memiliki kekuatan militer yang besar. Namun, lagi-lagi, sekat nasionalisme dan paham kapitalisme yang merasuk ke dalam jiwa para pemimpin itu telah merusak akidah Islam mereka dalam memandang persoalan Palestina.

Hal ini memang sudah menjadi tujuan dari para musuh Islam. Mereka paham betul bahwa umat Islam akan menjadi kekuatan besar apabila bersatu, dan sebaliknya akan melemah jika terpecah belah. Persatuan umat Islam menjadi hal yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam karena Islam dengan kekuatan politik yang sentral dan terpusat akan memporak-porandakan rezim-rezim kafir dunia.

Apabila dilihat dari sisi pemikiran maupun sejarahnya, upaya memecah belah umat Muslim dengan menanamkan paham nasionalisme ini telah lama digunakan musuh-musuh Islam, terutama saat meruntuhkan Khilafah di akhir kekuasaannya dan melanggengkan penjajahan di negeri-negeri Islam hingga hari ini.

Maka dari itu, umat Islam harus memahami bahwa arah pergerakan untuk menyelesaikan konflik Palestina harus bersifat politik. Fokus utama umat adalah membongkar sekat negara-bangsa dan mewujudkan satu kepemimpinan politik Islam di dunia, yaitu Khilafah ‘ala minhajul nubuwwah. Dengan kekuatan politik yang terpusat, akan sangat mudah untuk menumpas Zionis dengan mengirimkan tentara Muslim, sekaligus menjaga keamanan bagi seluruh umat manusia.

Apa yang bisa kita lakukan adalah terus memberikan kesadaran dan edukasi pada umat mengenai solusi hakiki yang mampu menyelesaikan konflik di Palestina sampai ke akar-akarnya.

Dengan mendukung dan bergabung bersama gerakan politik ideologis yang berjuang tanpa kenal sekat nasionalisme, serta terbukti konsisten memperjuangkan tegaknya kepemimpinan politik Islam di berbagai penjuru dunia. Dengan penerapan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah, akidah dan jiwa umat Islam akan terlindungi, serta memberikan kesejahteraan hakiki bagi seluruh makhluk hidup dan alam semesta. (**)

*Penulis Adalah Aktivis Muslimah