Neraca Perdagangan Sulsel Defisit US$4,37 Juta

0
128

EKONOMI

“Pelabuhan Makassar membongkar barang impor paling banyak pada Januari 2026 dengan nilai US$64,75 juta atau mencakup 89,80 persen dari total nilai impor bulan ini,”

Makassar | SULBAR | Lapan6Online : Kinerja perdagangan luar negeri Sulawesi Selatan membuka tahun 2026 dengan catatan kurang menggembirakan. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel melaporkan defisit neraca perdagangan US$4,37 juta pada Januari 2026.

Kondisi ini dipicu penurunan tajam pada nilai ekspor yang berlawanan arah dengan impor yang justru melonjak. Berdasarkan data terbaru, nilai ekspor Sulsel tercatat US$67,74 juta, sedangkan impor mencapai US$72,11 juta.

Kepala BPS Sulsel dalam rilis Berita Resmi Statistik baru-baru ini, mengungkap ekspor Januari 2026 turun 39,33 persen dibanding Desember 2025, yang mencapai US$111,66 juta.

“Jika dibandingkan dengan kondisi bulan yang sama tahun sebelumnya (Januari 2025), nilai ekspor ini turun lebih dalam, yakni 45,43 persen dari semula US$124,14 juta,” papar Aryanto.

Meskipun secara total menurun, nikel tetap menjadi motor utama ekspor Sulsel dengan distribusi 26,72 persen. Komoditas unggulan lainnya meliputi kakao 22,63 persen, biji-bijian berminyak 11,83 persen, besi dan baja 11,14 persen, serta ikan dan udang 7,26 persen.

Tiongkok masih menjadi mitra dagang utama dengan menyerap 52,09 persen total ekspor provinsi ini. Negara tujuan lainnya ialah Jepang 30,11 persen, Vietnam 5,88 persen, Amerika Serikat 4,20 persen dan Taiwan 3,26 persen.

Berbanding terbalik dengan kinerja ekspor, nilai impor Sulsel justru meningkat pesat sebanyak 45,15 persen terhadap Januari 2025. Dari total impor senilai US$72,11 juta, kelompok olahan makanan hewan (25,04 persen) dan gandum-ganduman (24,36 persen) merupakan komoditas terbanyak didatangkan.

Australia tercatat sebagai negara asal impor terbesar (24,37 persen), kemudian Brasil (22,58 persen) dan Tiongkok (22,14 persen).

Secara logistik, Pelabuhan Makassar mengukuhkan perannya sebagai pintu masuk utama.

“Pelabuhan Makassar membongkar barang impor paling banyak pada Januari 2026 dengan nilai US$64,75 juta atau mencakup 89,80 persen dari total nilai impor bulan ini,” pungkas Aryanto.

Terjadinya defisit US$4,37 juta ini menandai tekanan pada neraca perdagangan Sulsel di awal tahun. Penurunan ekspor yang hampir separuh dari capaian tahun lalu (y-on-y) menunjukkan adanya tantangan besar pada permintaan pasar global atau produksi komoditas andalan. seperti nikel dan kakao.

Di sisi lain, tingginya impor gandum dan pakan ternak menunjukkan ketergantungan industri lokal pada bahan baku luar negeri yang terus meningkat.

*Pewarta : Nafsul Muthmainnah
*Editor : Amrullah Andi Faisal