OPINI | POLITIK
“Kekuatan Pamboang tidak hanya di medan laga. Ia juga ada di ruang-ruang gerakan sosial. Muhammadiyah, yang berakar kuat sejak tahun 1933, adalah bukti bahwa Pamboang adalah lahan subur bagi para aktivis, tempat ide-ide pencerahan bertumbuh dan memberi dampak,”
Oleh : Muhammad Fauzan, S.T , S.Sos., M.Si.
LITAQ Pamboang—ia bukan sekadar sebidang tanah di pesisir Mandar. Ia adalah Kawah Candradimuka bagi Litaq Assamalewuang. Sebuah rahim peradaban yang tak pernah letih melahirkan generasi-generasi hebat, penakluk zaman, dan penjaga marwah, lintas masa.
Dari haribaan tanah inilah, pada abad ke-17 M, gema syiar Islam mengalun. Sayyed Zakariah Al Yamani dan R.M. Suryodilogo memilih Pamboang sebagai dermaga dakwah, menanam benih-benih keimanan yang tak hanya tumbuh menjadi komunitas, tetapi juga mewariskan keturunan yang menjaga api spiritual itu hingga kini. Api itu tidak hanya api iman. Ia adalah api perjuangan.

Ketika Ibu Pertiwi memanggil, Pamboang menjawab dengan darah dan keringat. Militansi dan semangat patriotisme putra-putrinya adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Kita menengok pada Betteng Adolang, yang berdiri angkuh sebagai palang pintu pertama pertahanan mandar Ammana Pattolawali dan Ammana I Wewang.
Perjuangan itu bersambung. Generasi selanjutnya, nama-nama seperti Aco Pocer Daenna Maniara (Andi Adjis) Abd. Hae, Kapten Muhammad Amir, K.H. M. Yahya, Aco Sinrang, St. Maemunah, M. Djud Pance, Hammasa, St. Jala, M. Idris Radha, Jamaluddin Pangeran, Baharuddin, Haedar Mahmud, H. Dahlan, hingga Makmur Juhaeni, adalah sebagian dari ukiran nama yang rela mengorbankan segalanya demi tegaknya Merah Putih di Litaq ini.
Kekuatan Pamboang tidak hanya di medan laga. Ia juga ada di ruang-ruang gerakan sosial. Muhammadiyah, yang berakar kuat sejak tahun 1933, adalah bukti bahwa Pamboang adalah lahan subur bagi para aktivis, tempat ide-ide pencerahan bertumbuh dan memberi dampak.

Dan di atas segalanya, Pamboang adalah Negeri Para Pelaut Ulung. DNA maritimnya teruji, berlayar menantang ombak hingga Malaka. Warisan itu hidup; ia menjelma dalam diaspora warganya yang kini mendiami Pulau-Pulau Pangkep, Pulau Laut di Kalimantan Selatan, hingga Sumenep dan Sepekan di Madura. Mereka membawa nama Pamboang ke mana pun Lete’, Ba’go dan Pakur dilabuhkan.
Warisan yang Tak Terputus
Kawah Candradimuka itu terus bekerja. Hingga hari ini, Pamboang tak pernah berhenti melahirkan kader-kader terbaik bangsa.
Di mimbar akademik, ia melahirkan para profesor dan doktor yang mencerahkan—dari Prof.Dr. Ir. Hazairin Zubair, M.Sc. (Unhas), Prof. Dr. Alfian Noor, M.Sc. (Unhas) Prof. Dr. Ir. Rahmadi Tambaru, M.Si. Prof. Dr. Atjo Wahyu, M.Kes, Prof. Muhammad Aswad S Si, Ph D. Apt., Prof. Dr. Wahyuddin Naro, M.Hum. hingga sederet doktor antara lain :
Dr. Zulkarnain Bustan Mahmud, SH. MH. (Untad), Dr. Ir. H. Basyar Bustan Mahmud, MT. (Politeknik Ujung Pandang), Dr. Ir. H. Ikhsan Asad Mahmud , ST., M.Sc. Ph.D (Unri), Dr. Abd. Wahab, M.Pd. (UMI Makassar)
yang tersebar mendedikasikan ilmunya.

Di panggung seni dan budaya, ia mewariskan kehalusan rasa lewat sosok Alm. H. Syaiful Sinrang, Alm. H. Mas’ud Abdullah, hingga talenta modern seperti Nurdin KDI dan Putri Isanari.
Di ranah politik dan birokrasi, Pamboang menempatkan putra-putrinya di pos-pos strategis—dari Alm. Ketua DPRD M. Mahmud, Alm. Wagub Sulsel Drs. Masnawi A.S., Alm. Bupati Drs. H. Muhammad Darwis, Alm. Muchtar Mahmud, Alm. Salahuddin Mahmud, Bupati Luwuk Banggai Drs. Muhammad Yunus, Wabup Matra Drs. H. Muhammad Saal, Ir. Kaemuddin Mahmud, Alm. Ketua DPRD H. Sudarmi, Sekda H. Syamsiar Muchtar Mahmud, dan puluhan nama lain yang menjadi motor penggerak pemerintahan.
Daftar ini adalah bukti. Sebuah penegasan bahwa Pamboang adalah sumber daya yang tak ada habisnya.
Panggilan untuk Bersatu: Messulekka Siola-siola
Kita memiliki segalanya. Kita punya warisan spiritual, darah pejuang, DNA pelaut, ketajaman intelektual, dan bakat kepemimpinan.
Namun, semua warisan agung itu kini menanti untuk disatukan. Energi-energi besar ini harus dirajut dalam satu harmoni. Potensi-potensi yang mungkin sementara ini terpisah, kini saatnya dipanggil pulang ke dalam satu barisan.
Pamboang hari ini butuh Rekonsiliasi Akbar.
Bukan rekonsiliasi untuk melupakan masa lalu, tetapi rekonsiliasi untuk merayakan masa lalu. Sebuah rekonsiliasi untuk menyatukan kembali kepingan-kepingan kekuatan yang kita miliki. Kita harus meletakkan perbedaan-perbedaan kecil di bawah sebuah kepentingan yang jauh lebih besar: membangun kembali Litaq Assamalewuang.
Inilah saatnya kita menggaungkan tema agung itu:
“Messulekka siola-siola nama ke’deq membali Pallayarang Tallu Litaq Pamboang.” (Mari kita Duduk bersama bersatu-padu, mendayung bersama, agar kita tegak kembali sebagai Tiga Layar Terkembang-nya Litaq Pamboang.)
Mari kita bersatu, siola-siola, merapatkan barisan. Cendekiawan, politisi, budayawan, aktivis, pelaut, dan seluruh elemen masyarakat Pamboang. Kita harus messulekka—bersama-sama mendayung—agar perahu besar Pamboang ini dapat ke’deq (berdiri tegak) dan membali (kembali) menjadi Pallayarang Tallu, simbol kemakmuran, kekuatan, dan kejayaan di jantung Tanah Mandar.
Rekonsiliasi akbar ini adalah jembatan kita, dari Pamboang yang hebat di masa lalu, menuju Pamboang yang jaya di masa depan. Kampung Luaor, 5 Nopember 2025. (**)
*Penulis Adalah Anak Pamboang yang jadi Kabid di DPMD Kab. Majene


















