Pemimpin Baru Harapan Baru atau Bagai Punguk Merindukan Bulan

0
20
Saimarian Harahap/Foto : Ist.

OPINI | POLITIK

“Namun faktanya Indonesia menjadi baik masih seperti punguk merindukan bulan. Janji Presiden terpilih di masa kampanye dengan terciptanya 19 juta lapangan kerja justru berbanding terbalik dengan fakta yang ada. Indonesia, tidak sudah-sudah diterjang badai PHK massal,”

Oleh : Saimariah Harahap

BERDASARKAN sumber dari KOMPAS. com, Presiden dan wakil presiden terpilih periode 2024-2029, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, akan segera dilantik. Berdasarkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 3 Tahun 2022 tentang Tahapan dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Umum Tahun 2024, pengucapan sumpah/janji presiden dan wakil presiden dijadwalkan pada Minggu, 20 Oktober 2024.

Pelantikan Prabowo-Gibran rencananya digelar di Gedung MPR/DPR, Jakarta. Prabowo dan Gibran mendapatkan suara terbanyak dalam pemilihan Presiden-Wakil Presiden (Pilpres) 2024 yang digelar pada 14 Februari 2024.

Pemimpin baru ini akan memimpin rakyat selama lima tahun mendatang. Besar harapan masyarakat pada kepemimpinan baru ini. Tentunya masyarakat hanya ingin dipimpin dengan kepemimpinan yang amanah, yang dengan ini kita sebagai masyarakat berharap pemerintah dapat meningkatkan perekonomian Indonesia sehingga dapat menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Masyarakat banyak menaruh harapan agar bisa menjalankan tugasnya sebagai pemimpin yang adil dan mau menerima kritik dan saran dari rakyat dengan berbagai sudut pandang. Memperhatikan aspirasi masyarakat dan komunikasi yang efektif antara pemerintah dan masyarakat agar dapat terjalin sehingga kebijakan yang dibuat lebih sesuai dengan kebutuhan rakyat.

Terlebih bisa memperhatikan kebutuhan rakyat yang memiliki perekonomian menengah kebawah, baik itu dalam pekerjaan, sekolah, kesehatan dan bantuan untuk rakyat yang sama sekali tidak mempunyai tempat tinggal.

Pergantian pemimpin dianggap sebagian masyarakat adalah sebagai harapan baru yang bisa merubah kearah yang lebih baik lagi dan mereka banyak menaruh harapan kepada pemimpin yang baru. Hal ini wajar mengingat sebagian masyarakat hanya melihat bahwa sebuah keberhasilan ada ditangan individu pemimpin tersebut. Namun bangsa ini sepertinya lupa bahwa sejak negara Indonesia ini merdeka sudah banyak sekali dipimpin oleh pemimpin dari berbagai latar belakang yang berbeda, baik itu dari politikus, ilmuan, dan militer.

Namun faktanya Indonesia menjadi baik masih seperti punguk merindukan bulan. Janji Presiden terpilih di masa kampanye dengan terciptanya 19 juta lapangan kerja justru berbanding terbalik dengan fakta yang ada. Indonesia, tidak sudah-sudah diterjang badai PHK massal.

Pengangguran bertebaran dimana-mana. Tim Kampanye Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menilai target pertumbuhan ekonomi 6-7% sebagaimana yang ada dalam visi-misi mereka mutlak diperlukan. Dengan program makan bergizi gratis (MBG) justru berbuah polemik.

Tim Kampanye Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menilai target pertumbuhan ekonomi 6-7% sebagaimana yang ada dalam visi-misi mereka mutlak diperlukan. Dengan program makan bergizi gratis (MBG) justru berbuah polemik. Selain itu, Prabowo-Gibran juga memiliki target untuk menurunkan angka kemiskinan secara signifikan hingga di bawah 5% dalam waktu lima tahun.

Namun faktanya, Bank Dunia (World Bank) mengubah perhitungan untuk standar garis kemiskinan dan ketimpangan global mulai Juni 2025. Atas langkah tersebut, jumlah angka kemiskinan di Indonesia melonjak drastis hingga menyentuh angka 194,6 juta jiwa. (detikFinance/ 10 Juni 2025)

Masalah Tambang nikel Raja Empat, Korupsi triliunan setiap hari terus terjadi, Kejahatan terus meningkat dan masih banyak lagi. Faktanya masalah lama belum teratasi, masalah baru hadir menemani.

Tentu muncul pertanyaan dalam benak kita, mengapa pergantian pemimpin ini tak membawa perubahan yang signifikan? Hal ini karena Indonesian masih menerapkan sistem kapitalisme. Permasalahan sistemik yang dihadapi oleh Indonesia tentu bersumber dari sistem yang diterapkan, walaupun peran pemimpin yang terpilih juga ikut andil dalam menentukan arah kebijakan.

Sistem kepemimpinan saat ini adalah sistem politik demokrasi kapitalisme yang mana sistemnya ini berasal dari Yunani. Sistem ini memberikan kadaulatan dan kekuasan ditangan manusia, sehingga manusia bisa dan berhak membuat hukum untuk mengatur kehidupannya sendiri, seperti menetapkan suatu hukum dan bebas dalam merubah suatu ketetapan hukum.

Maka selama sistem demokrasi kapitalisme ini masih memimpin kehidupan rakyat, maka kehidupan rakyat masih tetap hidup dalam kemalaratan, karena sistem demokrasi kapitalisme ini sudah jelas terbukti gagal, karena sistem ini jauh dari nilai-nilai ajaran Islam, inilah penerapan sistem yang batil dan sistem yang sudah cacat sejak lahir.

Berbeda dengan Islam. Islam tak sekedar hanya sebuah agama ritual namun Islam juga adalah sebuah ideologi yang memiliki sistem yang lengkap perihal pengurusan negara. Islam telah mengatur kepemimpinan agar mendatangkan kebaikan, baik itu didunia maupun diakhirat kelak. Karena di dalam Islam seorang pemimpin harus memiliki jiwa yang amanah dan wajib mengemban kekuasaannya diatas pondasi agama yaitu Islam.

Di dalam sistem Islam, Islam akan menjaga dan melaksanakan hudud untuk melindungi kehormatan, harta, dan jiwa masyarakat muslim maupun non-muslim. Selain itu Islam juga menetapkan kehadiran pemimpin sebagai raa’in (pengurus) dan junnah pelindung) bagi rakyatnya.

Allah Swt berfirman dalam surah Al-Ma’idah: 8, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus menegakkan keadilan, melaksanakan syari’at dan membela kepentingan umat. Kerena seorang pemimpin yang sudah dipilih oleh rakyatnya harus menjalankan amanahnya secara adil, karena rakyat sudah banyak menaruh harapan kepada pemimpin yang mereka yakini akan bisa menjalankan kepemimpinannya dengan amanah dan adil.

Ibnu Taimiyyah menyatakan agama Islam tidak akan bisa tegak dan abadi tanpa ditunjang oleh kekuasaan, dan kekuasaan tidak bisa langgeng tanpa ditunjang dengan agama.

Jika bangsa ini mau maju, sejahtera adil dan makmur maka yang mereka butuhkan bukan hanya sekedar rezim atau penguasa baru saja. Namun juga harus merubah sistem yang ada dengan kembali pada sistem yang Allah perintahkan yakni sistem Islam. Dengan sistem Islam ini pemimpin harus menerapkan hukum syariat Islam secara kaaffah.

Allah Swt berfirman dalam surah Shad : 26, “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.”

Ayat diatas menjelaskan bahwa tugas seorang pemimpin itu harus bisa memutuskan suatu perkara dengan seadil-adilnya dan tidak hanya mengitu hawa nafsu. Karena setiap perbuatan atau keputusan yang dilakukan seorang pemimpin didunia akan dipertanggung jawabkan kelak diakhirat.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Islam mengecam pemimpin yang sewenang-wenang dan tidak memenuhi kewajibannya. Pemimpin yang zalim akan ditimpa dosa besar dan azab yang pedih. Dahulu Bani Israel diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia digantikan oleh nabi yang lain.

Sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku. Yang akan ada adalah para khalifah dan mereka banyak.” Para sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi bersabda, “Penuhilah baiat yang pertama. Yang pertama saja. Berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa yang diminta agar mereka mengurusnya.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Ibn Majah).

Will Durant, seorang sejarawan Barat, menyebutkan dalam bukunya, Story of Civilization, “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapa pun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.”

Oleh karenanya dibutuhkan perubahan sistem selain perubahan pemimpin. Karena Islam hadir membawa rahmat untuk seluruh alam semesta, maka ketika Islam sudah diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, maka keadalian dan kesejahteraan masyarakat pasti akan terwujud secara nyata. Wallahu a’lam bi ash-shawaab. (**)

*Penulis Adalah Aktivis Muslimah