OPINI | POLITIK
“Miris sekali, perihal merazia kendaraan truk Aceh yang melintas di perbatasan wilayah Sumatera Utara tersebut tak seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin daerah provinsi meski dengan dalih untuk meningkatkan PAD,”
Oleh : Ardiana
WAKIL Ketua DPR menilai langkah Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menghentikan truk asal Aceh berpelat BL dan meminta diganti menjadi pelat BK berpotensi menimbulkan ketegangan antar daerah.
“Isu yang viral di media sosial terkait dengan razia pelat bernomor Aceh di wilayah Medan, Sumatera Utara, justru hal itu tidak boleh terjadi karena itu akan menimbulkan ketegangan antar daerah,” ujar Saan di Gedung DPR RI, Kamis (2/10/2025).
Miris sekali, perihal merazia kendaraan truk Aceh yang melintas di perbatasan wilayah Sumatera Utara tersebut tidak seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin daerah provinsi walaupun dengan dalih untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Apalagi kedua provinsi, Sumatera Utara dan Aceh sudah sejak lama memiliki hubungan yang sangat erat.
Tindakan yang dilakukan oleh Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, terkesan diskriminatif terhadap kendaraan Aceh justru akan berpotensi mencederai prinsip kerja sama antar daerah dan dapat menimbulkan konflik di antara kedua provinsi tersebut.
Razia semacam ini dapat memicu sentimen kedaerahan. Alih-alih meningkatkan PAD, langkah tersebut malah menurunkan kepercayaan publik dan menimbulkan ketegangan antar masyarakat bertetangga.
Padahal beberapa dari warga Sumatera Utara ada yang bekerja di Aceh. Mereka bekerja di perusahaan-perusahaan swasta dan ada juga yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dan begitu juga sebaliknya. Tidak sedikit warga Aceh yang mencari penghidupan di Medan dengan berwiraswasta dan berwira usaha.
Bahkan beberapa dari pemuda Sumatera Utara berkuliah di Perguruan tinggi negeri di Aceh seperti di Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) di Banda Aceh, Universitas Malikussaleh (UNIMAL) di Lhokseumawe dan sebaliknya ada juga pemuda Aceh yang berkuliah di perguruan tinggi negeri di Medan seperti di Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Negeri Medan (UNIMED) ataupun di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU).
Seorang pemimpin daerah seharusnya menjalankan pemerintahan dengan meletakkan rasa persatuan dan kesatuan di atas segalanya. Bukan mengesampingkan persatuan hanya karena memikirkan kepentingan daerahnya sendiri. Demi untuk mencari tambahan fiskal PAD maka hal yang tidak patut pun dilakukan.
Hal ini berawal dari dikuranginya anggaran belanja dari pusat ke daerah sehingga daerah harus mencari sendiri tambahan fiskal. Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Pusat mengalami defisit karena besarnya beban hutang negara yang harus ditanggung sedangkan bunga hutang sudah jatuh tempo. Dalam sistem kapitalis pemasukan negara sebagian besar berasal dari pajak dan hutang luar negeri.
Berbeda dalam sistem Islam, negara (Daulah) tidak akan kekurangan anggaran untuk membiayai kepentingan umat. Daulah memiliki sumber pendapatan negara berdasarkan Baitul Maal. Baitul Maal memiliki 3 pos pemasukan yaitu pos fa’i dan kharaj, pos kepemilikan umum dan pos zakat. Dari berbagai sumber anggaran ini Daulah tentu mampu mendanai pembangunan berbagai sarana dan prasarana yang dibutuhkan di daerah.
Selain itu didalam Daulah juga tidak akan mengalami defisit anggaran seperti sekarang, sebab semua sumber pemasukan negara akan dikelola dengan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan umat.
Khalifah akan bertanggung jawab penuh dalam meriayah umat karena ia menyadari bahwa hal itu merupakan kewajibannya.
Sebagaimana Rasulullah Saw pernah bersabda, “Ya Allah, barang siapa yang diberi tanggung jawab untuk menangani urusan umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Dan barang siapa yang diberi tanggung jawab untuk mengurusi umatku lalu ia memudahkan urusan mereka, maka mudahkanlah dia” (HR. Muslim).
Demikianlah sistem Islam sangat menjamin kehidupan umat. Keadilan, kesejahteraan, kemakmuran dan keberkahan umat akan benar-benar terwujud jika kita memakai sistem ini. Sistem Islam adalah solusi untuk segala permasalahan yang dihadapi umat saat ini. Wallahu a’lam bish-shawab. (**)
*Penulis Adalah Aktivis Dakwah


















