WISATA
“Dengan khusyuk, warga mendatangi pusara leluhur dan ulama penyebar Islam—seperti tradisi ziarah ke makam To Salama di Bulo Bulo, yang ikonik—untuk mendoakan mereka yang telah mendahului,”
Majene | SULBAR | Lapan6Online : Bagi masyarakat suku Mandar, Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan usai sebulan berpuasa. Ia adalah magnet rindu yang sangat kuat, sebuah panggilan pulang yang mampu membuat para perantau tangguh menempuh perjalanan berminggu-minggu, melewati samudra dan daratan, demi satu tujuan: bersimpuh di kaki orang tua.

Tradisi Mudik dan Silaturahmi yang Mendalam
Bagi orang Mandar, mudik adalah ritual suci untuk mempererat simpul kekeluargaan. Tak peduli seberapa jauh jarak memisahkan, mereka rela meluangkan waktu panjang untuk berkunjung ke rumah orang tua kandung, mertua, sanak famili, hingga sahabat lama. Momen ini menjadi ruang untuk saling memaafkan dan menguatkan ikatan batin yang sempat renggang oleh kesibukan di tanah rantau.
Selain silaturahmi kepada yang masih hidup, ziarah makam juga menjadi agenda wajib. Dengan khusyuk, warga mendatangi pusara leluhur dan ulama penyebar Islam—seperti tradisi ziarah ke makam To Salama di Bulo Bulo, yang ikonik—untuk mendoakan mereka yang telah mendahului.

Kuliner Khas : Pengingat Identitas dan Kerabat
Di balik keriuhan silaturahmi, meja makan di rumah-rumah warga Mandar menjadi pusat perhatian dengan sajian khas yang menggugah selera. Hidangan autentik seperti Bau Peapi (olahan ikan dengan cita rasa asam segar) dan Jepa (makanan pokok dari singkong) hadir sebagai hidangan utama yang selalu dirindukan.
Tak ketinggalan, aneka kudapan tradisional dan modern tersaji rapi. Mulai dari Kue Tetu yang manis lembut, Kue Apang, hingga Pupu Mandar menjadi pendamping setia obrolan hangat bersama kerabat handai taulan. Aroma masakan khas ini bukan sekadar pengisi perut, melainkan “mesin waktu” yang mengingatkan setiap anak cucu akan akar budaya dan kasih sayang keluarga besar mereka.

Melalui perayaan Idul Fitri, adat dan kebiasaan orang Mandar terus lestari, membuktikan bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, hati akan selalu menemukan jalan pulang ke Tanah Mandar. (*HGDP/Lpn6)


















