BUDAYA
“Setelah rangkaian Massaula selesai maka acara pellattiqiang (mapaccing) dilakukan oleh pemuka agama terlebih dahulu di ikuti oleh raja atau pemuka hadat kerajaan secara berurutan,”
Majene | SULBAR | Lapan6Online : Bertempat Di Pendopo Rujab Bupati tampak Ratusan Kerabat Kerajaan menghadiri Acara Pellattiqiang (Mapaccing) dan Acara Akad Nikah Andi Nur Fariha, AS.SH.MH.(putri bungsu Dr.Andi Achmad Syukri Tammalele SE.MM dengan Ibu Hj Najmah Bachyt Fattah S.Ag.M.M, pada Sabtu (18/10/2025).

Acara sakral dan penuh hangat di hadapan para bangsawan Mandar (Pitu babana Binanga) dengan bangsawan dari berbagai daerah termasuk Andi Hikmawati Kumala idjo gelar Petta Umba Permaisuri, Andi Muh.Iman Daeng Situju,Kumala Idjo Karaeng Lembang,Parang Pati mataram putra,Mahkota kerajaan Gowa,Yang Diwakili Rahmatullah Daeng Nadja Karaeng Rapi Muh.Said Karaeng Tarang Gallarrang Saumata (Bate salapang RI Goa) Ketua Lembaga Adat Kakaraengang Labbakang, Andi Syukri HM,SP Karaeng Ramma Keturunan Andi Maruddani Daeng Pali Karaengta Bonto Bonto Bin i.laide Andi Muh.Arief Karaeng Tiro Karaengta Kaluwarrang Matindroe Ri Balang Raja Labbakang Ke- 22 ( 1837-1846 ) tamu terhormat lainnya juga hadir para pejabat forkopimda sekretariat Daerah para kepala OPD dan Ratusan tokoh masyarakat yang datang menyaksikan dan turut memberikan doa restu kepada calon pengantin.

Sebelum memulai mellatiqi prosesi adat budaya tradisi Massaula yang di Pandu oleh Indo Sando yang ditunjuk.
Setelah rangkaian Massaula selesai maka acara pellattiqiang (mapaccing) dilakukan oleh pemuka agama terlebih dahulu di ikuti oleh raja atau pemuka hadat kerajaan secara berurutan.

Kemudian setelah proses adat istiadat sudah selesai maka kemudian masuk ke acara inti yaitu menunggu pihak mempelai laki-laki datang untuk di lakukan pelaksanaan Akad Nikah oleh pemuka agama.
Kepala Dinas pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Majene, Drs. H. Ahmad Djamaan, M.Si., ini merupakan kekayaan masyarakat Indonesia sebuah budaya yang terus dijaga oleh turun temurun kalau di tanah mandar disebut mellatiqi kalau di Sulawesi Selatan disebut mapaccing sementara di Jawa dikenal dengan daun pacar atau Lawsonia inermis.

Daun pacar :
Ini adalah tumbuhan inti dari ritual mappacci. Daun ini digunakan untuk dioleskan ke tangan calon pengantin sebagai simbol penyucian diri.

Daun nangka :
Dalam bahasa Bugis disebut daun panasa, daun ini melambangkan harapan atau cita-cita calon mempelai dan sering kali disusun dalam jumlah tertentu di atas bantal.

Daun pisang :
Biasanya digunakan sebagai alas atau pembungkus dalam rangkaian ritual, sering kali menggunakan jenis seperti daun pisang raja, pisang batu, atau pisang kepok.

Di Suku Mandar sendiri ada beberapa daun tambahan seperti daun sekke sekke bangun tuda daun tangan tangan buah pinang daun sirih dan beberapa perlengkapan adat tradisi Massaula serta mellatiqi,yang penuh makna dan arti secara filosofi adat istiadat sejak turun temurun. (*HGDP)


















