Sebaran Pengeluaran Penduduk SULSEL Makin Timpang

0
161
Tangkapan Layar Rilis BRS BPS Sulsel

EKONOMI

“Artinya kelompok atas mengalami peningkatan proporsi pengeluaran, sedangkan kelompok bawah menurun. Ini yang kemudian membuat ketimpangan pengeluaran meningkat,”

Makassar | SULSEL | Lapan6Online : Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan melaporkan ketimpangan pengeluaran penduduk, yang naik di provinsi ini pada Maret 2025. Kepala BPS Sulsel, Aryanto mengungkap dalam saluran YouTube resmi institusinya bahwa rasio Gini Sulsel, naik menjadi 0,388 dari 0,374 pada September 2024.

Artinya, terjadi peningkatan ketimpangan pengeluaran penduduk Sulawesi Selatan. Kondisi ini terjadi baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan,” katanya secara langsung pada Jumat (25/7/2025).

Kenaikan nisbah Gini yang mendekati ambang 0,4 secara umum menandakan ketimpangan serius, yang menunjukkan kelompok masyarakat dengan pengeluaran tinggi, makin jauh dari kelompok berpengeluaran rendah. Data BPS Sulsel menginformasikan ketimpangan pengeluaran di perkotaan naik dari 0,392 menjadi 0,403. Sedangkan di perdesaan meningkat dari 0,328 menjadi 0,336.

Ini menggambarkan bahwa di semua wilayah, baik kota maupun desa, terjadi peningkatan ketimpangan,” ucap Aryanto.

Sumber: BPS Sulsel

Laju ini memberi fakta pertumbuhan ekonomi, belum sepenuhnya merata. Walau terdapat perbaikan dari sisi angka kemiskinan, namun sebaran pengeluaran masih memperlihatkan celah lebar antara kelompok bawah dan atas. Aryanto melanjutkan, porsi pengeluaran kelompok 40 persen terendah, menurunan signifikan.

“Kelompok 40 persen terbawah hanya menguasai 17,91 persen dari total pengeluaran. Ini menurun dibandingkan dengan September 2024 yang sebesar 18,76 persen,” paparnya.

Sebaliknya, kelompok 20 persen teratas, pengeluarannya meningkat dari 45,56 persen menjadi 47,02 persen.

“Artinya kelompok atas mengalami peningkatan proporsi pengeluaran, sedangkan kelompok bawah menurun. Ini yang kemudian membuat ketimpangan pengeluaran meningkat,” jelasnya.

Kenaikan nisbah Gini Ratio memberi sinyal, kesejahteraan belum menyebar secara adil. Kelompok atas semakin kaya, sementara kalangan bawah, tertinggal nilai konsumsinya. Walaupun angka kemiskinan di Sulsel menurun.

Kenyataan ini menjadi catatan penting bagi perencana kebijakan, supaya mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sekaligus dinikmati semua warga. Pendekatan berbasis data, respons terhadap daerah, serta berpihak kepada kelompok rentan menjadi kunci guna menahan laju ketimpangan selanjutnya.

*Pewarta : Amrullah Andi Faisal