EKONOMI
“Kontributor utama inflasi berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan laju 4,73 persen. Sementara kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan justru mengalami deflasi sebesar 0,58 persen,”
Sinjai | SULSEL | Lapan6Online : Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sinjai mencatat Indeks Perkembangan Harga (IPH) Oktober 2025 turun 0,69 persen. Penurunan ini terutama disebabkan bahan pangan strategis, seperti beras, udang basah, dan bawang merah.
Kepala BPS Sinjai, Syamsuddin mengatakan data IPH tersebut bersumber dari hasil olahan BPS RI berdasarkan Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan. “Komoditas yang memberi andil terbesar terhadap penurunan IPH Sinjai bulan Oktober adalah beras dengan kontribusi minus 0,35 persen, diikuti udang basah dan bawang merah,” ujarnya di Sinjai, pada Senin (4/11/2025).
Meski IPH Sinjai menurun, sebagian besar kabupaten di Sulawesi Selatan mengalami fluktuasi harga yang berbeda. Kabupaten Jeneponto mencatat kenaikan IPH tertinggi sebesar 1,77 persen, diikuti Pinrang 0,53 persen dan Luwu Utara 0,46 persen. Adapun penurunan terdalam terjadi di Takalar yang mencapai -3,39 persen, disusul Toraja Utara -1,79 persen.

Data menunjukkan cabai rawit menjadi komoditas paling berfluktuasi di hampir seluruh daerah Sulawesi Selatan, dengan nilai koefisien variasi (CV) tertinggi mencapai 0,23 di Jeneponto. Beberapa daerah lainnya juga mencatat fluktuasi tinggi pada cabai rawit seperti Enrekang (CV 0,22) dan Luwu Utara (CV 0,19).
“Cabai rawit cenderung menjadi indikator sensitif karena cepat merespons perubahan pasokan dan cuaca. Ini terlihat dari volatilitas harga minggu berjalan,” kata Syamsuddin.
Sementara itu, berdasarkan Berita Resmi Statistik dari BPS Sulsel, inflasi tahunan (y-on-y) di Provinsi ini pada Oktober 2025, tercatat 2,98 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,83.
Kepala BPS Sulsel, Aryanto dalam keterangannya menjelaskan inflasi tertinggi secara tahunan terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang sebesar 3,88 persen dengan IHK 106,41. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Palopo 2,67 persen dengan IHK 108,42.
“Kontributor utama inflasi berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan laju 4,73 persen. Sementara kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan justru mengalami deflasi sebesar 0,58 persen,” jelas Aryanto.
Adapun inflasi bulanan (m-to-m) Sulsel pada Oktober 2025 sebesar 0,10 persen, sedangkan inflasi year to date (y-to-d) mencapai 2,42 persen.
BPS mencatat tekanan harga pangan masih menjadi faktor dominan pergerakan inflasi di wilayah ini. Pola tersebut sejalan dengan hasil IPH mingguan yang menunjukkan komoditas hortikultura, khususnya cabai rawit dan bawang merah, sebagai penyumbang utama dinamika harga di pasar rakyat.
*Pewarta : Nafsul Muthmainnah
*Editor : Amrullah Andi Faisal


















