OPINI | POLITIK
“Faktor tekanan kerja, beban administratif, minimnya pelatihan pedagogi dan manajemen emosi, lemahnya dukungan institusi, serta kurikulum yang silih berganti bak “hilang arah” cukup melelahkan bagi para guru dan tenaga pendidik, sehingga guru tidak bisa fokus mengajar,”
Oleh : drh. Siska Pratiwi
BELAKANGAN ini, terjadi beragam fenomena terkait relasi guru ataupun tenaga pendidik dengan para siswa di sekolah. Kejadian di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, pada 14 januari 2026 lalu misalnya. Seorang guru terlibat keributan hingga berujung dikeroyok dan dilempari batu oleh siswanya sendiri.
Menurut keterangan guru yang bersangkutan, keributan bermula saat salah satu siswa menegurnya dengan bahasa yang menurutnya tidak sopan, sehingga ia menampar siswa tersebut dengan dalih bentuk pendisiplinan moral.
Sementara itu, keterangan para siswa merasa bahwa guru tersebutlah yang memicu keributan usai menghina salah satu siswa dengan perkataan ‘miskin’. Meski sempat dimediasi pihak sekolah, keributan pada akhirnya tetap tidak terhindarkan (dilansir Detikedu).
Kasus lainnya pada 3 september 2025, seorang guru honorer di Kutalimbaru, Sumut, dilaporkan wali murid ke polisi atas tuduhan penganiayaan. Dalam kasus ini, guru tersebut sebenarnya hanya bermaksud mencegah dua kelompok siswa di sekolahnya yang hendak tawuran (dilansir dari Kompas.com). Kriminalitas terhadap guru menimpa Kepala sekolah SMAN 1 Cimarga, Dini Fitria pada oktober 2025.
Dini dilaporkan ke polisi imbas menampar siswanya yang ketahuan merokok di sekolah. Meskipun yang bersangkutan sudah menerangkan bahwa tidak ada pukulan yang keras dalam aksi pendisiplinan terhadap siswa tersebut, namun dari kejadian itu sebanyak 630 siswanya protes dengan mogok sekolah hingga menuntut pencopotan jabatannya.
Kasus ini akhirnya berujung damai, namun bagi Dini sebagai tenaga pendidik, pengalaman ini menjadi trauma tersendiri dalam niatan mendidik generasi kedepannya (dilansir dari Kompas.com).
Ironisnya, dari beragam konflik yang melibatkan relasi guru dan siswa, telah nampak bahwa saat ini sekolah menjelma menjadi ‘arena stres bersama’. Guru yang berperan sebagai pendidik perlahan bergeser menjadi korban, lalu menjadi pelaku.
Demikian pula siswa yang berperan sebagai pelajar dan generasi penerus, tidak selalu menjadi korban, sebab terkadang justru siswa yang menjadi pemicu kriminalitas di sekolahnya.
Dalam hal ini, baik guru maupun siswa tidaklah lahir sebagai pelaku tunggal. Pendidikan yang chaos justru buah dari sistem yang gagal. Faktor tekanan kerja, beban administratif, minimnya pelatihan pedagogi dan manajemen emosi, lemahnya dukungan institusi, serta kurikulum yang silih berganti bak “hilang arah” cukup melelahkan bagi para guru dan tenaga pendidik, sehingga guru tidak bisa fokus mengajar.
Belum lagi tuntutan dan tantangan dalam mendidik generasi. Merosotnya moral pelajar serta penghayatan adab terhadap guru dan ilmu tidaklah terjadi dengan sendirinya.
Ditambah lagi, paradigma sekuler-kapitalis yang mewarnai arus modernisasi telah menggeser standar dan nilai hidup sehingga sistem pendidikan gagal membentuk syakhsiyah (kepribadian yang baik) pada guru dan peserta didik.
Stigma ‘gap generation’ juga seolah semakin menjadi tembok yang menghambat para guru untuk memahami siswanya, demikian pula menghambat para siswa meresapi adabnya kepada guru selama proses menuntut ilmu.
Hal yang demikian seharusnya akan terminimalisir jika sistem pendidikan berasas kepada Islam. Pendidikan dalam Islam memiliki visi untuk membentuk syakhsiyah/kepribadian yang islami.
Sehingga apapun keilmuan yang digeluti peserta didik, tidak akan memisahkannya dari tuntunan akhlak yang baik. Adapun guru dalam pandangan Islam, semestinya tidaklah dibebankan dengan berbagai tekanan administratif yang jelas menampakkan komersialisasinya pendidikan seperti era sekarang.
Guru, akan difokuskan dalam mendidik generasi, tidak sekedar transfer ilmu/informasi, melainkan juga pembentukan kepribadian yang islami.
Tentunya, Islam memiliki langkah preventif dalam mencegah penyimpangan-penyimpangan moral yang melibatkan relasi guru dan peserta didik. Sehingga, pendidikan akan menempati perannya, bukan sekedar formalitas zaman semata. Wallahu a’lam bi ash-shawab. (**)
*Penulis Adalah Aktivis Dakwah dan Praktisi Dokter Hewan
















