Viral Dimedsos Tenggelam dalam Diam : Jeritan Warga Cimerang yang “Dilarang” Kabarkan Banjir

0
16
Foto : Ist.

PERISTIWA

“Teguran terakhir datang tepat saat ia baru saja bangun tidur dengan mata yang masih bengkak sisa tangisan semalam. Bukannya bantuan atau evakuasi yang didapat, melainkan intimidasi halus agar menutup mulut,”

Sukabumi | JAWA BARAT | Lapan6Online : Air bah itu bukan satu-satunya yang mencekik warga Cimerang, Kecamatan Purabaya, Sukabumi. Di tengah kepungan banjir yang dilaporkan nyaris menenggelamkan atap rumah, pada Jumat (23/1/2026), muncul sebuah ironi yang lebih dingin dari air hujan: perintah untuk bungkam.

Sebuah video viral yang beredar di media sosial menyingkap sisi gelap penanganan bencana di tingkat akar rumput. Di sana, seorang perempuan dengan mata sembab—bukan hanya karena lelah, tapi karena frustrasi—mempertanyakan nurani lingkungan tempat tinggalnya. Ia mengaku dilarang menyebarkan informasi, dilarang speak up, bahkan dilarang melakukan siaran langsung (live) terkait bencana yang sedang menimpa mereka.

“Menjelekkan Nama Perumahan”
Alasan di balik pembungkaman itu terdengar absurd di telinga awam, namun nyata terjadi di lapangan. Sang pengunggah video menuturkan bahwa para tetua lingkungan atau “bapak-bapak” setempat melarang penyebaran berita banjir dengan dalih: menjaga citra.

“Katanya menjelekkan nama perumahan sendiri,” ujar wanita tersebut dengan suara bergetar.

Ia mengaku telah ditegur hingga tiga kali. Teguran terakhir datang tepat saat ia baru saja bangun tidur dengan mata yang masih bengkak sisa tangisan semalam. Bukannya bantuan atau evakuasi yang didapat, melainkan intimidasi halus agar menutup mulut. Padahal, visual di latar belakang videonya menceritakan kisah yang mengerikan: air keruh yang bergulung, rumah-rumah yang tenggelam separuh badan, dan isolasi total.

Antara Gengsi dan Bencana
Kejanggalan ini memicu tanda tanya besar. Mengapa transparansi dianggap aib? Narasi yang tertulis dalam video, “Apakah karena sudah terlanjur menghujat dan mencaci daerah lain?”, memberikan petunjuk tentang beban psikologis sosial yang mungkin sedang terjadi. Ada indikasi bahwa keengganan untuk mempublikasikan bencana ini berakar dari rasa malu kolektif atau ketakutan akan “serangan balik” netizen, mengingat dinamika media sosial di mana bencana kerap kali menjadi ajang saling sindir antar-daerah.

Namun, sikap defensif ini justru menempatkan warga dalam bahaya yang lebih besar. Tanpa publikasi, bantuan dari luar tersendat. Tanpa speak up, urgensi penanganan bisa dianggap remeh oleh pemerintah pusat.

Menolak Bungkam
Perempuan dalam video itu memilih untuk menjadi anomali. Ia menyebut dirinya “orang yang ngeyel”. Di tengah tekanan tetangga dan otoritas lokal perumahan, ia tetap menyalakan kameranya.

“Ini menurut aku janggal banget. Ada apa sih sebenarnya?” gugatnya ke arah lensa kamera.

Pertanyaan itu kini menggantung di udara, sama beratnya dengan mendung yang menaungi Sukabumi. Di saat atap rumah warga nyaris hilang ditelan air, tampaknya ada pihak-pihak yang lebih khawatir “harga diri” perumahan ikut hanyut terbawa banjir, daripada menyelamatkan nyawa dan harta benda warganya sendiri.

Banjir Cimerang pada Januari 2026 ini akan dikenang bukan hanya karena tingginya air, tapi karena tembok kesunyian yang coba dibangun untuk menutupinya. (*BBS)