OPINI | POLITIK
“Coba saja kita lihat ke sekeliling, pergaulan bebas makin dianggap wajar, asal “sama-sama suka, tak boleh ada yang melarang”, elgebete mulai dikampanyekan sebagai “hak asasi” bukan lagi sebuah penyimpangan perilaku seksual, riba merajalela, pinjol menjadi sebuah fenomena yang lumrah, utang bukan lagi untuk sekadar kebutuhan hidup tapi demi gaya hidup akibat dari budaya flexing alias pamer kekayaan jadi konten sehari-hari,”
Oleh : Dian Salindri
ZAMAN telah berubah, arus modernisasi menggiring masyarakat dari sesuatu yang tadinya dianggap tabu menjadi sesuatu yang lumrah, dari yang salah menjadi sesuatu hal yang benar.
Seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat justru membuat masyarakat menormalisasi segala hal yang tidak normal. Teknologi boleh berkembang pesat tapi kenapa masyarakat justru mengalami kemunduran dalam pergaulan.
Yah bisa dibilang masyarakat yang sekarang ini justru mengalami kemunduran dalam adab dan norma-norma masyarakat khususnya norma agama. Coba saja kita lihat ke sekeliling, pergaulan bebas makin dianggap wajar, asal “sama-sama suka, tak boleh ada yang melarang”, elgebete mulai dikampanyekan sebagai “hak asasi” bukan lagi sebuah penyimpangan perilaku seksual, riba merajalela, pinjol menjadi sebuah fenomena yang lumrah, utang bukan lagi untuk sekadar kebutuhan hidup tapi demi gaya hidup akibat dari budaya flexing alias pamer kekayaan jadi konten sehari-hari.
Dan mirisnya dari semua budaya flexing itu justru menghilangkan empati masyarakat, hidup seolah hanya untuk diri sendiri.
Pertanyaannya, kenapa hal-hal yang dulu dianggap salah, sekarang dianggap benar? Akar masalah dari peroblematika normalisasi yang enggak normal akibat diterapkannya sitem sekuler dalam tatanan kehidupan masyarakat, terutama umat Islam yang saat ini sudah semakin jauh dari syariah agamanya bahkan banyak yang gagal paham tentang sistem Islam sebagai solusi tuntas semua problematika umat manusia.
Karena cara pandang yang salah tentang hidup membuat masyarakat menempatan agama sebagai urusan ibadah saja, tapi tidak ikut mengatur ekonomi, sosial, gaya hidup, pendidikan, bahkan pergaulan. Akhirnya nilai-nilai Islam digantikan oleh nilai liberal yang mengedepankan kebebasan berkehendak bagi setiap individu dan juga cara pandang hidup yang materialistik.
Sebuah kebebasan yang sebebasnya selama tidak mengganggu orang lain menjadi slogan yang bergaung di tengah msayarakat yang hedon ini. Lagi-lagi hak asasi manusia menjadi tameng yang ampuh untuk menerapkan gaya hidup bebas ini. Bukan itu saja, masyarakat matrealistik mengukur kesuksesan dengan harta, semakin banyak harta berarti semakin sukses, tak peduli lagi dari mana ia dapatkan harta itu, meski haram yah diterobos saja yang penting bisa terlihat sukses.
Dari kebebasan berkehendak pula lahir masyarakat yang enggak punya malu, malu seakan sudah hilang bahkan dianggap sudah kuno, rasa takut terhadap dosa pun memudar karena akidah telah terkikis oleh kebebasan yang kebablasan ini. Yang menjaga diri dari pengaruh pergaulan bebas dan pemikiran liberal justru dianggap fanatik, dicap radikal bahkan disebut “mabuk agama”, sungguh miris.
Padahal Islam sebuah mabda yang mengatur seluruh hajat manusia, dari masuk wc sampai masuk surga, dari bangun tidur sampai bangun negara. Islam sungguh tegas dalam mengatur pergaulan antara laki-laki dan wanita. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah al-Isra ayat 32 yang artinya, “Janganlah kamu mendekati zina…” Jangankan berzina, mendekatinya pun dilarang. Karena itu Islam mengatur adab pergaulan misalnya menjaga pandangan, jaga aurat, jaga jarak, dan berinteraksi sesuai kebutuhan yang syar’i.
Kebebasan yang bablas juga menormalisasikan kaum lagibete. Sekarang malah banyak yang bilang “itu normal, itu pilihan hidup”, “enggak apa-apa yang penting dia baik dan enggak merugikan orang lain”. Bahkan ini menjadi salah satu agenda yang dideraskan Barat untuk menormalisasikan prilaku menyimpang ini lewat media sosial, hampir semua film garapan Barat termasuk film kartun menyisipkan agenda ini, mengerikan.
Islam jelas melarang, makanya kaum Nabi Luth dibinasakan karena menyebarkan perilaku ini secara terbuka. Dan Allah sebut perbuatan itu sebagai kekejian (fahisyah). Hukumannya enggak main-main. Pelaku dan korban pun mendapat hukuman, apa pasal? sebab ini adalah sebuah penyakit yang menular. Enggak ada orang yang terlahir dengan perilaku yang menyimpang, sudah dibuktikan secara ilmiah bahwa ini dikarenakan faktor lingkungan ataupun trauma masa lalu dan masuk kategori penyakit kejiwaan.
Enggak hanya menormalisasikan pergaulan bebas dan kaum lagibete, hari ini riba dan pinjol yang merupakan dosa besar malah dianggap solusi. Banyak keluarga terjerat utang dari bank atau pinjaman online berbunga tinggi, demi “modal usaha” atau “nutup kebutuhan harian”. Padahal Islam mengharamkan riba, bahkan menyebut pelakunya sebagai musuh Allah (QS al-Baqarah: 275-279). Tentu saja fenomena ini disebabkan karena sistem ekonomi kita bukan sistem Islam, kita dipaksa hidup dalam sistem riba yang sangat merugikan umat.
Belummm selesai marimar, masih ada budaya flexing alias pamer gaya hidup demi validasi. Ini jadi hal yang normal banget di kalangan gen Z. Konten flexing makin marak. Ibu muda pun banyak yang ikut-ikutan. Demi flexing sampai rela pinjol, demi validasi sampe rela korupsi. Sedangkan Islam ajarkan kesederhanaan, bukan pamer. Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah kekayaan itu banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa” (HR Bukhari dan Muslim).
Dari budaya flexing ini pun melahirkan masyarakat kurang empati-nya, sibuk gaya eh lupa berbagi. Banyak yang rela ngeluarin jutaan buat outfit atau gadget, tapi cuek kalau lihat tetangga butuh bantuan. Kita terlalu sibuk menata feed, sampai lupa menata hati. Bahkan kurangnya empati ini melahirkan istilah generasi sandwich yang merupakan sebutan untuk kelompok orang—biasanya usia produktif (sekitar 30–50 tahun)—yang terjepit di antara dua tanggung jawab keuangan: menanggung kebutuhan orang tua, sekaligus menanggung kebutuhan yang di bawahnya (adik ataupun anak-anaknya). Jadi ibarat sandwich, mereka ada di tengah-tengah roti: harus menopang generasi di atasnya dan generasi di bawahnya secara bersamaan.
Padahal dalam Islam diperintahkan untuk berbakti kepada orang tua, dan menafkahi oaring-orang yang memang menjadi tanggung jawab kita. Islam tentu saja punya solusi Islam, berikut beberapa solusinya:
Pertama, ubah cara pandang, hidup bukan sekedar untuk senang-senang. Hidup ini bukan tentang gaya, tapi tentang ibadah dan ketaatan. Kita hidup untuk mencari ridha Allah, bukan validasi manusia. Kedua, bangun keluarga yang Islami. Ajarkan anak sejak kecil tentang batasan pergaulan, pentingnya malu, dan nilai syukur. Jangan biarkan anak lebih kenal artis daripada kenal Nabi.
Ketiga, lingkungan yang saling menjaga. Bentuk komunitas atau circle yang saling mengingatkan kebaikan. Saling mendukung untuk hidup sesuai syariat, bukan ikut-ikutan tren. Keempat, butuh sistem yang menerapkan islam secara kaffah.
Selama kita hidup dalam sistem yang jauh dari Islam, masalah seperti riba, seks bebas, dan elgebete akan terus difasilitasi. Maka solusi besarnya adalah menerapkan Islam secara menyeluruh — bukan cuma di masjid, tapi juga di sistem hukum, ekonomi, pendidikan, dan sosial.
Yuk kita mulai dari diri sendiri dan keluarga untuk tidak terbawa arus. Karena kita hidup bukan untuk mencari validasi manusia tetapi sejatinya kita hidup untuk mencari ridha Allah SWT. [**]
*Penulis Adalah Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok


















