Akibat Pendidikan Tunduk pada Pasar : Nilai TKA SMA Anjlok!

0
21
Ilustrasi

OPINI | EDUKASI | POLITIK

“Dalam konteks inilah, jebloknya nilai TKA mencerminkan kegagalan sistemik, bukan kegagalan individu peserta didik semata,”

Oleh : Alin Aldini, S.S.,

ANJLOKNYA nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA bukan sekadar persoalan teknis evaluasi belajar, melainkan alarm keras bagi dunia pendidikan nasional.

Fenomena ini menyedot perhatian banyak pihak, terutama para guru dan pakar pendidikan, karena menunjukkan adanya kerusakan yang bersifat struktural.

Ketika nilai TKA merosot secara masif, pertanyaan dasar dari masalah ini bukan hanya sekadar; “Apa yang salah dengan siswa?”, melainkan “Sistem pendidikan apa yang sedang kita jalankan? Apa pengaruhnya pada nilai TKA?”

Selama ini, pendidikan sering dipersempit maknanya menjadi proses pencapaian angka, peringkat, dan kelulusan administratif. Kurikulum silih berganti, metode evaluasi terus diubah, tetapi orientasinya tetap sama, yaitu menyiapkan lulusan agar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Sekolah diposisikan sebagai pabrik tenaga kerja, siswa sebagai komoditas (barang dagangan), dan guru sebagai operator sistem. Dalam konteks inilah, jebloknya nilai TKA mencerminkan kegagalan sistemik, bukan kegagalan individu peserta didik semata.

Dalam sistem pendidikan yang tunduk pada logika pasar (kapitalisme), esensi pendidikan sebagai proses pembentukan akal, karakter, dan kepribadian justru terpinggirkan. Mata pelajaran dipilah berdasarkan “nilai jual”, bukan nilai pembentukan pola pikir dan pola sikap manusia. Siswa dibebani target capaian kognitif instan, sementara proses berpikir kritis, mendalam, dan bermakna tidak mendapat ruang yang cukup. Akibatnya, ketika diuji melalui instrumen akademik yang menuntut pemahaman, daya nalar, dan analisis, hasilnya pun mengecewakan.

Kondisi ini tidak terlepas dari sistem sekuler-kapitalisme yang menjadi pondasi kebijakan sistem pendidikan. Negara lebih berperan sebagai regulator yang mengikuti kebutuhan industri, bukan sebagai penanggung jawab utama pembentukan generasi. Pendidikan diarahkan untuk melayani pasar, bukan untuk membangun peradaban. Inilah mengapa kebijakan pendidikan sering berubah mengikuti tren global, bukan kebutuhan riil peserta didik dan masyarakat.

Islam memandang pendidikan dari sudut yang sangat berbeda. Dalam Islam, pendidikan adalah sarana membentuk manusia agar memiliki kepribadian (syakhsiyah) Islam. Bukan hanya beriman dan bertakwa, tapi juga berilmu pengetahuan dan berilmu teknologi.

Tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak tenaga kerja, melainkan membangun generasi yang mampu berpikir kritis, memahami realitas, dan mengabdikan ilmunya untuk kemaslahatan (kepentingan) umat. Dengan orientasi ini, kualitas akademik tidak diukur hanya dari nilai, tetapi dari kemampuan berpikir, kedalaman pemahaman, dan kematangan sikap.

Negara dalam sistem Islam memiliki tanggung jawab penuh terhadap pendidikan. Negara wajib menyediakan pendidikan berkualitas secara gratis, merata, dan berorientasi pada pembentukan akal dan kepribadian.

Kurikulum disusun berdasarkan akidah Islam, sehingga ilmu pengetahuan tidak tercerabut dari nilai dan tujuan hidup manusia. Guru diposisikan sebagai pendidik sejati, bukan sekadar pelaksana administrasi atau pengejar target angka.

Jika pendidikan dikelola dengan hukum Allah SWT, maka proses belajar tidak akan terjebak pada logika pasar. Negara akan memastikan, evaluasi akademik benar-benar mengukur kemampuan berpikir dan pemahaman, bukan sekadar hafalan atau strategi mengerjakan soal. Dengan sistem seperti ini, anjloknya nilai TKA tidak akan menjadi fenomena berulang, karena pendidikan tidak dibangun di atas pondasi rapuh.

Anjloknya nilai TKA SMA sejatinya adalah cermin dari arah pendidikan yang salah. Selama pendidikan terus tunduk pada kepentingan pasar dan kapitalisme, selama itu pula kualitas generasi akan terus tergerus. Sudah saatnya sistem pendidikan kembali pada tujuan hakikinya, yakni membentuk manusia yang bukan hanya pandai dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga beriman dan bertakwa. Islam menawarkan solusi sistemik yang tidak hanya menyelesaikan persoalan nilai, tetapi juga menyelamatkan masa depan generasi. (**)

*Penulis Adalah Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok