OPINI | POLITIK | MANCANEGARA
“Arogansi AS dalam konflik ini juga terlihat dari upaya campur tangan terhadap kepemimpinan negara lain. Pernyataan yang menuntut agar pemimpin Iran harus sesuai dengan kepentingan AS menunjukkan praktik dominasi politik yang sering dilakukan negara besar terhadap negara lain,”
Oleh : Khoeriyah Apendi
ESKALASI perang antara Iran dan aliansi Amerika Serikat (AS) serta entitas Zionis menunjukkan situasi konflik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah. Pernyataan arogan dari Presiden AS yang mengklaim kemenangan dan menyebut Iran telah kalah menggambarkan bagaimana kekuatan besar sering berusaha membangun narasi politik untuk memengaruhi opini dunia. Fakta di lapangan menunjukkan perang ini menimbulkan korban jiwa yang besar, dengan lebih dari 1.600 warga Iran tewas dan ribuan lainnya luka-luka akibat serangan militer yang terus berlangsung di berbagai wilayah, termasuk ibu kota Teheran.
Konflik tersebut tidak berhenti pada serangan sepihak, karena Iran juga melancarkan serangan balasan terhadap berbagai target strategis milik AS di kawasan Teluk serta terhadap wilayah yang diduduki Zionis. Serangan misil balistik dan drone yang diluncurkan Iran bahkan mampu menembus sistem pertahanan lawan dan menimbulkan kerusakan serta kepanikan di berbagai kota. Situasi ini menunjukkan perang modern bukan sekadar konflik militer, tetapi juga perang informasi di mana setiap pihak berusaha mengontrol narasi dan menutupi kerugian yang dialaminya.
Di balik konflik tersebut terdapat fakta geopolitik yang penting. Iran memiliki posisi strategis karena berada di jalur energi dan perdagangan dunia, terutama terkait Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak global. Posisi ini menjadikan Iran sebagai aktor penting dalam peta politik internasional. Karena itu, perebutan pengaruh di wilayah ini bukan sekadar soal keamanan, tetapi juga berkaitan dengan penguasaan sumber daya alam dan jalur ekonomi dunia.
Arogansi AS dalam konflik ini juga terlihat dari upaya campur tangan terhadap kepemimpinan negara lain. Pernyataan yang menuntut agar pemimpin Iran harus sesuai dengan kepentingan AS menunjukkan praktik dominasi politik yang sering dilakukan negara besar terhadap negara lain. Dalam banyak kasus sejarah, AS juga menggunakan alasan keamanan global, demokrasi, atau ancaman nuklir untuk membenarkan intervensi politik dan militer di berbagai wilayah.
Kondisi ini mencerminkan wajah sistem kapitalisme global yang menempatkan kepentingan ekonomi dan kekuasaan sebagai tujuan utama. Ideologi kapitalisme yang berakar pada sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, sehingga orientasi kebijakan internasional sering didorong oleh kepentingan materi, akumulasi modal, dan dominasi geopolitik. Akibatnya, peperangan, embargo ekonomi, dan tekanan politik menjadi alat yang digunakan untuk mempertahankan hegemoni negara-negara kuat.
Strategi dominasi tersebut dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari tekanan ekonomi, propaganda media, hingga intervensi militer langsung. Negara-negara besar sering memanfaatkan lembaga internasional, bantuan pembangunan, utang luar negeri, serta pengaruh budaya untuk memperluas kontrol terhadap negara lain. Ketika cara-cara tersebut tidak berhasil, kekuatan militer sering digunakan sebagai jalan terakhir untuk memaksakan kepentingan mereka.
Dalam perspektif Islam, kondisi dunia yang penuh konflik dan dominasi ini menunjukkan kegagalan sistem sekuler kapitalisme dalam menciptakan keadilan global. Islam memandang bahwa kepemimpinan manusia seharusnya bertujuan menegakkan keadilan dan melindungi seluruh manusia dari penindasan. Islam tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat eksploitasi, melainkan sebagai amanah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan hukum Allah.
Sejarah peradaban Islam menunjukkan ketika kepemimpinan Islam diterapkan, wilayah-wilayah yang berada di bawah naungannya justru merasakan keadilan dan kesejahteraan. Pada masa Rasulullah SAW dan para khalifah setelahnya, ekspansi wilayah yang terjadi bukan bertujuan untuk menindas, melainkan untuk membebaskan manusia dari tirani kekuasaan yang zalim. Banyak masyarakat di wilayah yang dibebaskan justru menyambut kepemimpinan Islam karena merasakan keadilan yang sebelumnya tidak mereka dapatkan.
Selama berabad-abad, umat Islam pernah hidup dalam satu kepemimpinan global yang dikenal dengan Khilafah. Dalam sistem ini, berbagai bangsa dan ras dipersatukan oleh akidah Islam sehingga mampu membangun peradaban yang maju di berbagai bidang, termasuk ilmu pengetahuan, ekonomi, dan pemerintahan. Persatuan ini menjadikan umat Islam sebagai kekuatan besar yang disegani dunia.
Namun sejak runtuhnya Khilafah pada awal abad ke-20, umat Islam terpecah menjadi banyak negara yang lemah dan saling terpisah. Kondisi ini memudahkan kekuatan asing untuk memengaruhi bahkan mengendalikan kebijakan politik di negeri-negeri Muslim. Banyak penguasa di dunia Islam yang lebih memilih mempertahankan kekuasaan dengan dukungan negara Barat daripada memperjuangkan kepentingan umat.
Realitas tersebut menjadi pelajaran penting bahwa kelemahan umat Islam saat ini tidak hanya disebabkan oleh kekuatan musuh, tetapi juga oleh hilangnya persatuan dan kepemimpinan yang berlandaskan Islam. Tanpa persatuan dan kepemimpinan yang kuat, umat akan terus berada dalam posisi tertekan dan menjadi objek permainan politik global.
Islam mengajarkan kemuliaan umat hanya dapat diraih dengan berpegang teguh pada ajaran Allah dan menjaga persatuan di antara kaum Muslimin. Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk berpegang pada tali agama Allah dan tidak berpecah belah sebagaimana disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 103. Ayat ini menjadi pengingat kekuatan umat terletak pada persatuan dan ketaatan kepada syariat.
Karena itu, masa depan umat Islam tidak terletak pada sistem politik global yang sarat kepentingan, melainkan pada upaya kembali kepada kepemimpinan yang berlandaskan ajaran Islam. Persatuan umat dan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan diyakini sebagai jalan untuk mengembalikan kemuliaan dan keadilan, serta menjadi solusi bagi berbagai krisis yang dihadapi dunia saat ini. (**)
*Penulis Adalah Angota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok


















