Krisis Tujuan Hidup Generasi Muda

0
21
Mustikawati Tamher /Foto : Ist.

OPINI | POLITIK

“Standar kesuksesan saat ini pun gampang berubah-ubah. Dorongan untuk selalu berprestasi dan bersaing dengan yang lainnya menjadi beban bagi mereka,”

Oleh : Mustikawati Tamher

MELIHAT kesibukan anak muda saat ini dalam mengejar karier, menunjukkan mereka memiliki ambisi besar meraih kesuksesan. Kegiatannya sangat padat dengan berbagai jadwal dan target. Dilihat dari luar, mereka tampak baik-baik saja. Namun, jika didengar lebih mendalam, tak sedikit dari mereka yang mengaku sangat lelah, cemas, merasa hampa hingga berujung depresi. Hari-hari terus dijalani untuk mengejar kesuksesan duniawi, tanpa memahami tujuan hidup yang sesungguhnya.

Kenyataan ini tentu bukan sepenuhnya kesalahan generasi muda, karena mereka tumbuh di tengah arus informasi yang sangat deras, juga tuntutan sosial yang tinggi. Standar kesuksesan saat ini pun gampang berubah-ubah. Dorongan untuk selalu berprestasi dan bersaing dengan yang lainnya menjadi beban bagi mereka. Namun, di balik dorongan itu, ada satu hal yang dilupakan yaitu pertanyaan “Untuk apa semua ini dijalani?”

Inilah potret kehidupan generasi muda dalam sistem sekuler kapitalisme. Mereka dibentuk dari kecil tanpa arahan hidup yang benar. Sistem yang memisahkan agama dan kehidupan membuat mereka tidak tahu makna hidup yang sesungguhnya. Yang ditanamkan hanyalah bagaimana agar sukses untuk mendapatkan keuntungan duniawi sebesar-besarnya.

Standar sukses yang mereka tahu adalah bentuk pencapaian materi dan validasi sosial. Perasaan gagal kerap muncul ketika tujuan itu tidak tercapai. Mirisnya, ketika tercapai pun, ternyata kebahagian itu hanya terasa sesaat dan hati menjadi kosong kembali.

Jika kita tarik fenomena ini dari kacamata Islam, Islam memandang, kegelisahan ini bentuk dari manusia telah jauh dari fitrahnya. Al-Quran telah menjelaskan, manusia diciptakan bukan tanpa tujuan, melainkan untuk beribadah kepada Allah SWT, Sang Pencipta. Sebagaimana yang tertulis dalam Al-Qur’an surah adz-Dzariyat: 56 yang artinya “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”.

Dari ayat di atas sudah jelas, hidup bukan sekadar rangkaian aktivitas, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Ketika tujuan hidup terlepas dari Sang Pencipta, wajar saja jika langkah terasa berat dan arah menjadi kabur.

Maka dari itu, pentingnya penanaman pemahaman sejak dini tentang arah tujuan hidup manusia yang sebenarnya. Namun, Islam tidak menyerahkan pembinaan generasi muda pada individu semata, melainkan dari keluarga, masyarakat dan negara.

Keluarga berperan sebagai madrasah pertama kepada anak untuk menanamkan akidah yang kuat. Masyarakat memiliki peran sebagai lingkungan pembentuk kepribadian yang menumbuhkan budaya amar ma’ruf nahi mungkar. Sehingga generasi muda tumbuh dengan standart hidup yang jelas. Lalu, negara memiliki peran yang sangat penting untuk memastikan sistem pendidikan, ekonomi, hukum, dan media pendukung yang baik. Dengan demikian, generasi muda tidak kehilangan arah, tetapi tumbuh sebagai generasi berkepribadian Islam dan berperan aktif membangun peradaban.

Krisis tujuan hidup pada generasi muda saat ini menjadi peringatan bagi kita semua untuk mengubah pola pikir dan pola sikap sesuai dengan fitrah yang sudah Allah perintahkan kepada manusia. Agar semangat yang dimiliki oleh anak muda terarah dengan benar dengan satu tujuan yaitu mengharap ridha Allah SWT. (**)

*Penulis Adalah Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok