Rajab Bulan Berkah, Momentum Membumikan Islam Kaffah

0
9
Ilustrasi

OPINI | POLITIK

“Peristiwa ini menjadi ujian keimanan untuk para sahabat, karena yang dialami Rasul ketika Isra Mi’raj jauh di luar nalar manusia, masyarakat Makkah meragukan, tidak percaya kepada Rasul, bahkan Rasul dikatakan gila,”

Oleh : Sri Rahayu

RAJAB bulan mulia, meningkatkan amal suatu keharusan berdasar pada sabda Nabi Muhammad SAW karena Allah SWT melipatgandakan pahala dari amal yang dilakukan pada bulan tersebut. Rajab salah satu bulan mulia, yakni bulan Haram dari 4 bulan haram lainnya, hal ini termaktub dalam Al-Qur’an surah at-Taubah ayat 36 yang artinya, “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.”

Dipertegas dengan dalil hadits Rasulullah SAW, “Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Dua dalil di atas menunjukkan kemuliaan Bulan Rajab. Lantas kenapa Bulan Rajab itu istimewa? Di antara banyaknya peristiwa yang terjadi pada Bulan Rajab yaitu Perang Yarmuk, Perang Tabuk, pembebasan Baitul Maqdis yaitu Palestina, terdapat juga Peristiwa besar yang patut dikenang, sekaligus penghibur Rasul karena pada tahun tersebut beliau kehilangan istri tercinta yang menjadi penopang dakwah, wafatnya Abu Thalib bin Abdul Muthalib, paman yang menjaga dan melindungi beliau dari makar kafir Quraisy yang selalu mengganggu dan menjegal dakwah beliau.

Di Bulan Rajab juga ada peristiwa Isra Mi’raj yang merupakan salah satu mu’jizat yang terbesar setelah Al-Qur’an. Peristiwa ini menjadi ujian keimanan untuk para sahabat, karena yang dialami Rasul ketika Isra Mi’raj jauh di luar nalar manusia, masyarakat Makkah meragukan, tidak percaya kepada Rasul, bahkan Rasul dikatakan gila. Sahabat setia yang langsung percaya dan akhirnya mendapat gelar As-Shidiq yaitu Abu Bakar. Bahkan, beliau berkata jika ada hal yang lebih lagi yang dikatakan Rasul jauh melampaui akal pikiran, ia akan percaya.

Memang, Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang tidak dapat dicerna oleh akal manusia dan membutuhkan keimanan untuk percaya, menunjukkan bagaiman hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin bagi Allah. Hal ini juga menunjukkan keharusan keimanan secara total terhadap apa pun yang dikatakan, apa pun yang diperbuat Rasul dan mempertebal keyakinan kepada Allah SWT.

Satu peristiwa lain yang memilukan, menyedihkan, yang menjadi cikal bakal kerusakan manusia yaitu runtuhnya Khilafah Islam yang sudah memimpin dunia dan menjadi simbol persatuan umat selama 1.342 tahun, lalu runtuh pada 1924 Masehi oleh seorang agen Inggris bernama Kemal At Tartuk.

Dengan runtuhnya Khilafah Islam yang menjadi perisai umat, keterpurukan dan kerusakan manusia terus berlanjut, seperti narkoba merajalela, pergaulan bebas menjadi hal lumrah para remaja, perceraian, pembunuhan, riba, suap menyuap, korupsi, rusaknya akal, hilangnya akhlak dan masih banyak lagi kerusakan lainnya.

Maka, momentum Rajab harus menjadi momentum perubahan hakiki atau menyeluruh, yakni dengan membumikan Islam kaffah. Pasalnya, Allah SWT perintahkan manusia untuk masuk Islam dan menjalankan syariatnya secara kaffah/keseluruhan. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 208 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu.”

Dengan momentum Bulan Rajab inilah kita harus meningkatkan takwa dengan ibadah, kembali kepada syariat, beramal ma’ruf nahyi mungkar, menjalankan Islam kaffah dan berusaha mengemban dakwah kepada seluruh umat sehingga akan terwujud kesejahteraan mendapatkan kemenangan sejati. (**)

*Penulis Adalah Guru SDIT Bina Al-Kheir, Depok