OPINI | POLITIK
“Semua nasib buruk itu berubah ketika cahaya setelah Islam datang. Menghentikan segala bentuk kezaliman dan menjamin setiap hak manusia termasuk wanita. Islam memuliakan wanita dan menjaganya secara pribadi, masyarakat sampai Negara,”
Oleh : Nidya Lassari Nusantara
BERBAGAI kasus kriminal kini melibatkan ibu-ibu muda. Mulai dari sindikat narkoba sampai perdagangan manusia. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Marthinus Hukom mengungkapkan bahwa praktik peredaran narkoba belakangan ini semakin banyak melibatkan perempuan. Mereka terlibat sebagai kurir hingga menjadi bandar narkoba. (https;//www/tempo.co/24 Juni 2025).
Polda Jawa Barat (Jabar) berhasil mengungkap kasus dugaan penjualan bayi jaringan internasional. Sebanyak 12 orang wanita ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. (https;//news.detik.com/15 Juli 2025).
Menurut Anggota Komnas HAM, Anis Hidayah. kepada BBC News Indonesia pada Selasa (24/06). “Secara umum, perempuan kerap dijadikan sasaran terhadap tindak kejahatan.
Perempuan saat ini memang rentan dijadikan sasaran kejahatan karena beberapa faktor. Seperti kebutuhan ekonomi, tingkat pendidikan yang rendah sampai hubungan asmara. Inilah cerminan cara pandang kehidupan sekuler yang memisahkan aturan Sang Pencipta dengan kehidupan. Standard kebahagiaan dalam sistem ini adalah materi.
Asas perbuatannya adalah manfaat maka menjadi hal yang wajar bila potensi perempuan dimanfaatkan untuk meraih materi.
Melibatkan kaum wanita dalam peran-peran yang tak seharuskan mereka lakoni, seperti menjadi tulang punggung keluarga tanpa melihat apakah pekerjaan itu baik atau buruk, halal atau haram, berdosa atau tidak. Segala cara dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Biaya pendidikan mahal, sulitnya mendapatkan pekerjaan dengan upah yang layak dan banyak hal lain yang semua itu diatur dan menjadi tanggung jawab negara. Semua kebutuhan hidup menjadi berat membuat hidup kaum wanita semakin hilang arah.
Masa Kejayaan Perempuan
Di masa sebelum kedatangan Islam, seluruh umat manusia memandang hina kaum wanita. Seperti orang-orang Yunani menjadikan wanita sebagai tempat pemuas nafsu syahwat. Orang-orang Arab bahkan terbiasa membunuh bayi-bayi tak berdosa bila bayi tersebut berjenis kelamin perempuan.
Namun, semua nasib buruk itu berubah ketika cahaya setelah Islam datang. Menghentikan segala bentuk kezaliman dan menjamin setiap hak manusia termasuk wanita. Islam memuliakan wanita dan menjaganya secara pribadi, masyarakat sampai negara.
Rasulullah Saw bersabda:
اِسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729)
Didalam Islam, perempuan memiliki kebutuhan jasmani dan naluri yang sama dengan pria. Mempunyai hak dan kewajiban berbeda. Dalam Islam, lelaki yang sudah baligh wajib mencari nafkah. Sementara perempuan, wajib dinafkahi oleh lelaki yang menjadi Walinya, bekerja bagi perempuan adalah mubah (boleh) selama tidak melanggar hukum syariah.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Taubah [9]: 71)
Untuk urusan pendidikan, kesehatan dan perbuatan bertakwa kepada Allah, pria dan wanita memiliki perintah yang sama. “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisâ [4]: 124)
Semua syariat ini ditetapkan oleh Allah dalam rangka menjaga, menjamin tatanan kehidupan dan memuliakan wanita. Kedaulatan negara berada ditangan hukum syariah. Dalam hal ini Khalifah sebagai kepala negara bertanggung jawab untuk memastikan bahwa para perempuan terpenuhi hak-haknya di dalam rumah oleh para walinya. Memastikan kehormatannya terjaga dan kebutuhan hidupnya terpenuhi.
Khalifah memastikan perempuan hidup sesuai fitrahnya. Bangga dan terhormat menjadi ibu didalam keluarga dan juga menjadi ibu yang siap terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk menbina generasi umat.
Masa kejayaan perempuan hanya ada pada peradaban Islam. Selama 13 abad berjaya, daulah Islam menghadirkan sosok-sosok hebat dihadapan dunia dan akhirat. Kesibukan meraih pahala dari aktivitas dapur, sumur dan kasur tidak menghalangi kiprahnya dalam bidang lain. Di medan perang ada sosok sahabiyah Nusaibah binti Ka’ab yang mendapat gelar Sang Perisai Rasulullah karena keterlibatannya dalam perang Uhud dan Yamamah.
Dalam dunia pendidikan ada Fatimah binti Muhammad bin Ahmad al-Samarqand yang memiliki perpustakaan pertama. Bahkan seorang budak asal Spanyol berhasil meraih posisi hebat di pemerintahan sebagai sekretaris istana Abd al-Rahman III dan al-Hakam bin Abd al-Rahman.
Begitulah Islam menjamin kemuliaan wanita baik secara pribadi, masyarakat dan negara. Dengan Islam, perempuan hidup dalam kemuliaan. Tanpa Islam, wanita hidup sengsara hilang arah. Wallahualam bishawab. (**)
*Penulis Adalah Aktivis Dakwah Muslimah


















