Peran Generasi Muda Islam dalam Menebar Kebaikan di Dunia Digital

0
18
Ilustasi

OPINI | POLITIK

“Etika berkomunikasi menurut Islam, yakni seperti berkata baik, menahan amarah, dan memberi nasihat dengan hikmah, perlu diaktualisasikan dalam setiap interaksi digital,”

Oleh : Khoeriyah Apendi

ERA digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari terutama bagi generasi muda. Di Indonesia sendiri, penetrasi internet terus meningkat signifikan. Di tahun 2024 jumlah pengguna internet mencapai lebih dari 221 juta jiwa, dengan mayoritas berasal dari kelompok generasi Z dan milenial yang aktif mengakses media digital setiap harinya.

Rata-rata penggunaan internet mencapai 3 jam 11 menit per hari, dengan media sosial seperti Instagram dan YouTube menjadi platform favorit para pemuda (e-jurnal UIN SGD).

Situasi ini menyuguhkan peluang besar sekaligus tantangan serius bagi komunitas Muslim. Di satu sisi, media digital menjadi sarana efektif untuk menyebarkan dakwah, moral Islam, dan nilai-nilai kebaikan. Di sisi lain, tanpa pengelolaan yang baik, ruang digital juga dapat menjadi tempat berkembangnya konten negatif yang mengikis nilai etika dan keimanan.

Meski digital memberi peluang besar, hadir pula beberapa masalah yang perlu dicermati: Pertama, kurangnya literasi digital Islam. Banyak pemuda belum memiliki keterampilan literasi digital yang kuat yakni kemampuan menyaring, menilai, dan mengkritisi konten yang mereka jumpai. Tanpa keteraman ini, peluang kebaikan bisa berubah menjadi jebakan dosa seperti konsumsi konten vulgar, hoaks, atau debat yang tidak produktif.

Kedua, etika komunikasi yang buruk. Perilaku online seringkali jauh dari etika komunikasi Islami. Komunikasi anonim dan komentar tajam dapat memunculkan cyberbullying atau debat kusir yang melukai sesama. Generasi muda sering kali lupa akan adab, sabar, dan menghormati sesama saat berada di balik layar (Peran Al-Islam Kemuhammadiyahan dalam Menjaga Adab dan Etika Komunikasi Generasi Muda di Media Sosial. Jurnal Keilmuan Dan Keislaman, 4(4), 523–539).

Ketiga, ketergantungan pada platform tanpa kapasitas dakwah. Media sosial sering kali menjadi ‘alamat’ utama bagi pemuda, namun tidak semua konten dakwah yang bertebaran memenuhi standar dakwah yang benar, moderat, dan berwawasan luas. Hal ini menciptakan tantangan tersendiri bagi umat untuk menemukan konten Islam yang autentik dan bermanfaat.

Peran Generasi Muda Islam dalam Menebar Kebaikan
Dalam konteks tantangan tersebut, generasi muda Muslim memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan digital. Berikut beberapa peran nyata yang perlu dijalankan mnjadi penggerak dakwah digital.

Pemuda Islam dapat menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah yang kreatif dan relevan dengan membuat konten nasihat, kajian singkat, inspirasi Islami, atau video dakwah singkat yang berdampak. Dengan pendekatan yang menarik dan kontekstual, dakwah digital bisa lebih mudah diterima oleh banyak orang.

Tak hanya itu, generasi muda perlu dibekali kemampuan membaca, mengevaluasi, serta menyaring informasi dengan prinsip Islam. Konsep ulul albab yang menggabungkan dzikir, pikir, dan amal shaleh dapat menjadi kerangka dalam penguatan literasi digital Islam — di mana pemuda tidak sekadar cerdas secara teknologi, tetapi juga sadar secara spiritual dan etis.

Begitu juga, generasi muda harus menjaga etika dan adab dalam interaksi online. Etika berkomunikasi menurut Islam, yakni seperti berkata baik, menahan amarah, dan memberi nasihat dengan hikmah, perlu diaktualisasikan dalam setiap interaksi digital. Hal ini membantu meredam konflik, memperkuat persaudaraan, dan membangun komunitas digital yang sehat.

Bahkan, generasi muda Islam dapat menjadi contoh dalam hal pemakaian teknologi yang produktif, seperti menyelenggarakan kajian online, dukungan moral, atau aktivitas sosial berbasis komunitas digital. Peran ini sesuai dengan ajaran Islam yang mendorong umatnya menjadi khairu ummah yakni umat terbaik yang membawa kebaikan bagi manusia.

Jika kita lihat, dunia digital adalah ladang yang luas, baik untuk kebaikan maupun kesesatan. Generasi muda Muslim berada di garis terdepan dalam menghadapi tantangan tersebut. Dengan bekal literasi digital yang kuat, etika Islami yang tinggi, serta semangat dakwah yang kreatif, pemuda Muslim dapat memainkan peran strategis dalam menebar kebaikan di dunia maya.

Generasi ini bukan hanya menjadi konsumen digital, tetapi juga produsen konten kebaikan yang memberi manfaat besar bagi umat dan masyarakat luas. (**)

*Penulis Adalah Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok