Dari Perbatasan untuk Indonesia : Tradisi Nopeng Ini Bikin Makna Lebaran Terasa Nyata

0
56

BUDAYA | WISATA

“Ini bukan sekadar tradisi, tapi cara kami menjaga kebersamaan di perbatasan. Nopeng sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Entikong setiap menjelang Lebaran,”

Entikong | Sanggau | KALBAR | Lapan6Online :Dari sebuah kawasan perbatasan yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar, warga Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, pada Ahad (22/03/2026) menunjukkan bahwa makna Lebaran sejatinya tidak terletak pada kemewahan, melainkan pada kebersamaan yang tulus.

Sore itu, sekitar pukul 15.30 WIB, puluhan pemuda yang tergabung dalam Ikatan Pemuda Perbatasan Entikong (IP2E) berjalan menyusuri kampung dengan wajah tertutup topeng. Mereka menghidupkan kembali tradisi “nopeng”, sebuah warisan budaya Melayu yang telah dijaga secara turun-temurun menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Di balik topeng yang mereka kenakan, tersimpan pesan sederhana namun kuat: menyambung silaturahmi.

Dari rumah ke rumah, para penopeng berdiri di depan pintu. Tanpa banyak kata, kehadiran mereka dipahami sebagai tanda kunjungan penuh hormat. Pintu-pintu terbuka, senyum mengembang, dan warga menyambut dengan minuman, makanan sederhana, hingga sedikit rezeki yang diberikan dengan penuh keikhlasan.

“Ini bukan sekadar tradisi, tapi cara kami menjaga kebersamaan di perbatasan. Nopeng sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Entikong setiap menjelang Lebaran,” ujar Rulian, Kordinator kegiatan.

Ucapan “minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin” terdengar berulang di setiap pertemuan. Kalimat yang mungkin sederhana, namun terasa lebih dalam ketika disampaikan langsung, dari hati ke hati.

Menariknya, seluruh hasil dari kegiatan nopeng tidak dinikmati secara pribadi. Para pemuda mengumpulkannya untuk kemudian dijadikan bagian dari kebahagiaan bersama. Keesokan harinya, warga menggelar lomba panjat pinang—permainan rakyat yang menjadi simbol kerja sama dan perjuangan.

Batang pinang yang licin memaksa setiap peserta untuk saling membantu. Mereka jatuh, bangkit, dan tertawa bersama. Tidak ada yang benar-benar kalah, karena yang dirayakan adalah kebersamaan itu sendiri.

Di sela kegiatan, para penopeng juga merekam video ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah di depan rumah warga RT 005 Entikong. Sederhana, tanpa panggung, namun sarat makna—sebuah pesan hangat dari perbatasan untuk seluruh Indonesia.

Tradisi nopeng menjadi bukti bahwa di tengah keterbatasan, masyarakat perbatasan tetap mampu menjaga nilai-nilai luhur. Bahwa Lebaran bukan hanya tentang perayaan, tetapi tentang kembali merajut hubungan, saling memaafkan, dan memperkuat rasa persaudaraan.

Dari Entikong, sebuah pesan sederhana mengalir untuk negeri: kebersamaan adalah kekayaan yang sesungguhnya.

Tentang Tradisi Nopeng :
• Asal dan Makna : Nopeng berasal dari bahasa Dayak Kanayatn yang berarti bertopeng, umum dilakukan di daerah seperti Desa Sebadu, Landak.
• Sosok Nopeng : Para pemain memakai topeng kayu (watak lucu hingga menyeramkan) dan sekujur tubuh ditutupi dedaunan, melambangkan sosok tak kasat mata atau hantu, khususnya dalam pertempuran zaman dulu.
• Prosesi Ritual : Diawali dengan musik, penari Nopeng keluar dari hutan, menari mengelilingi sesajian (pabayo) yang disiapkan Panyangahatn (pendoa), lalu menyusuri kampung.
• Fungsi Sosial : Di era modern, tradisi ini digunakan sebagai hiburan, mempererat tali silaturahmi saat perayaan hari besar seperti Lebaran, dan sebagai sarana mencari dana (pangkaras) untuk kegiatan desa.
• Variasi : Selain di Landak, terdapat juga Nopeng Nyeser di Sanggau yang bertujuan mengusir penyakit. (*SPL/Hairudin/Mahry)

Simak Video Terkait :