Anak Muda Jaga Mental, Bukan Sekadar Ikut Tren Digital

0
24
Ilustrasi

OPINI | POLITIK

“Sistem kapitalisme-sekularisme yang melahirkan budaya serba cepat dan instan juga memperparah keadaan. Alih-alih menghadirkan manusia yang kuat, sistem ini justru melahirkan generasi rapuh yang mudah cemas, gampang stres, bahkan tidak sedikit yang memilih jalan pintas berupa bunuh diri,”


Oleh : Novia Riawati

TINGGINYA tuntutan akademik, derasnya arus informasi digital, hingga maraknya cyberbullying membuat generasi muda hari ini menghadapi tantangan mental yang tidak ringan. Medan, sebagai salah satu kota besar dengan interaksi digital yang sangat tinggi, menghadirkan realita bagaimana gawai dan media sosial bisa menjadi pedang bermata dua.

Data menunjukkan, penetrasi internet di Indonesia terus meningkat dan hampir menyentuh mayoritas penduduk. Angka ini menggambarkan betapa derasnya interaksi digital yang dihadapi generasi muda setiap hari.

Sayangnya, kesadaran menjaga kesehatan mental masih sangat minim. Banyak yang beranggapan masalah psikologis adalah hal sepele atau cukup diselesaikan dengan hiburan sesaat. Padahal, faktor internal seperti hormon, pola hidup tidak sehat, hingga faktor eksternal berupa tekanan sosial dan gaya hidup kapitalistik sering menjadi pemicu rapuhnya kondisi mental seseorang.

Sistem kapitalisme-sekularisme yang melahirkan budaya serba cepat dan instan juga memperparah keadaan. Alih-alih menghadirkan manusia yang kuat, sistem ini justru melahirkan generasi rapuh yang mudah cemas, gampang stres, bahkan tidak sedikit yang memilih jalan pintas berupa bunuh diri.

Islam hadir dengan tawaran solusi yang menyeluruh. Islam tidak hanya menenangkan sesaat, tetapi memberikan pondasi hidup yang kuat agar setiap individu bisa menghadapi tantangan dengan sabar, tawakal, dan optimisme.

Allah ﷻ berfirman:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. At-Talaq: 2-3)
Ayat ini menegaskan bahwa kekuatan mental sejati lahir dari iman dan tawakal kepada Allah.

Rasulullah ﷺ pun bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim)
Hadits ini menekankan bahwa kekuatan mental, fisik, dan spiritual adalah bekal utama menghadapi kehidupan.

Oleh karena itu, solusi menjaga kesehatan mental bukan hanya sekadar seminar motivasi atau hiburan sesaat. Yang lebih penting adalah membangun pola pikir Islam dalam setiap aspek kehidupan, mengenali tujuan hidup, menguatkan hubungan dengan Allah, serta membangun keluarga dan lingkungan yang penuh kasih sayang. Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” Inilah fondasi yang membuat seorang Muslim kokoh menghadapi badai kehidupan.

Dengan paradigma Islam, generasi muda tidak akan mudah rapuh meski diterpa derasnya arus digital. Justru mereka akan tampil sebagai pribadi yang kuat, produktif, berakhlak mulia, serta siap menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. (**)

*Penulis Adalah Aktivis Dakwah Muslimah