Empat Kunci Kebangkitan, Kekuatan dan Kemuliaan Umat

0
0

MEGAPOLITAN

“Syariah berisi aturan untuk mengatur kehidupan dan memberi solusi atas setiap persoalan kehidupan. Aturan dalam Islam memiliki dua sumber yakni Al-Qur’an dan Sunnah,”

Depok | JAWA BARAT | Lapan6Online : Di hadapan 18 peserta, Aktivis Dakwah, Ustadzah Mega Marlina menegaskan, setidaknya ada empat kunci kebahagiaan, kekuatan dan kemuliaan umat.

Hal tersebut diungkapnya dalam Kajian Muslimah Shalihah Rutin, Kunci Kebangkitan dan Kemuliaan Umat, pada Sabtu, (18/4/2026) di Depok.

Adapun keempat kunci tersebut yakni: Pertama, akidah. “Secara sederhana artinya, keyakinan yang kokoh atau bisa disebut pondasi keimanan,” jelasnya.

Menurutnya, keyakinan yang kokoh atas jawaban dari tiga pertanyaan mendasar, dari mana manusia berasal (dengan jawaban diciptakan dari Sang Khalik), untuk apa manusia ada di bumi ini (dengan jawaban hanya untuk beribadah kepada Allah SWT) dan akan ke mana manusia setelah meninggal (dengan jawaban akan dibangkitkan kemudian dihisab atau dimintai pertanggungjawaban atas amal yang mereka lakukan di dunia dan diberi balasan berupa surga yang penuh kenikmatan atau neraka yang penuh siksaan.

Kedua, syariah. “Syariah berisi aturan untuk mengatur kehidupan dan memberi solusi atas setiap persoalan kehidupan. Aturan dalam Islam memiliki dua sumber yakni Al-Qur’an dan Sunnah,” ujarnya.

Tak hanya itu, tambahnya, syariah Islam juga memcakup aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT seperti shalat, zakat, shaum, hubungan manusia dengan dirinya seperti pakaian, makan, minum, dan akhlak, serta hubungan manusia dengan sesama manusia seperti ekomoni, politik, hukum.

Bahkan, terangnya, Allah SWT menegaskan secara tegas dan rinci terkait syariah Islam dalam Al-Qur’an surah an-Nahl ayat 89 yang artinya, “(Ingatlah) hari (ketika) Kami menghadirkan seorang saksi (rasul) kepada setiap umat dari (kalangan) mereka sendiri dan Kami mendatangkan engkau (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang Muslim.”

Ketiga, dakwah (seruan). “Rasulullah SAW berdakwah di Makkah selama 13 tahun dan di Madinah 10 tahun,” katanya.

Di Makkah juga, lanjutnya, Nabi SAW membina para sahabat agar memiliki aqidah dan syaksiyah Islam, kemudian membentuk kelompok atau kutlah yang beranggotakan para sahabat yang telah memiliki akidah dan syaksiyah Islam.

“Di Makkah, Nabi SAW dan para sahabat pun berinteraksi dengan masyarakat untuk menyampaikan Islam kepada mereka, tapi masyarakat Makkah tetap berpegang teguh kepada ajaran nenek moyangnya bahkan menentang dan menusuhi Islam,” ungkapnya.

Sementara itu, lanjutnya, masyarakat Madinah mau menerima dakwah Islam, mau diatur dengan aturan Islam, juga atas landasan iman dengan sukarela menyerahkan kekuasaannya kepada Nabi SAW. Maka atas titah Allah SWT, Rasulullah dan para sahabat pun hijrah ke Madinah dan mendirikan daulah Islam yang pertama di sana.

Keempat, khilafah yakni negara pemersatu ummah, pelaksana syariah, dan pengemban dakwah.

“Setelah wafatnya Rasulullah SAW, dakwah dilanjutkan dan dipimpin oleh para Khulafaur Rasyidin pada 632 M, yakni Abu Bakar ra (632-634), Umar bin Khattab ra (634-644), Utsman bin Affan (644-656), Ali bin Abi Thalib (656-661). Setelah itu, lanjutnya, pada 661 M ada Kekhilafahan Umayyah, pada 750 M ada Kekhilafahan Abbasiyah dan pada 1517 M ada Kekhilafahan Utsmaniyah, kemudian pada 1924 M khilafah dihancurkan oleh Mustafa Kemal Yahudi Durnamah seorang agen yang disusupkan ke dalam militer Turki untuk menghancurkan Khilafah Utsmaniyah,” sebutnya.

Setelah itu, tegasnya, umat Islam diterpa berbagai masalah, tercerai berai, terpuruk, ditindas, tidak punya pemimpin, tidak punya negara yang menerapkan syariah Islam secara kaffah. Maka, kaum Muslim membutuhkan Khilafah agar bisa mengembalikan kemuliaan kaum Muslimin. (*Siti Aisyah/Lpn6)