Gaza Lapar, Dunia Diam? Saatnya Umat Bangkit Membela!

0
61

OPINI | POLITIK | MANCANEGARA

“Mereka bisa menghentikan penderitaan ini, tapi mereka malah menggagalkan semua upaya pembelaan terhadap Gaza — dengan kekuasaan yang mereka banggakan. PBB? Hanya bisa mengecam,”

Oleh : Fitri Nur Hafisya

KITA bukan penonton. Kita bagian dari umat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Pernah nggak sih kita ngebayangin… gimana rasanya lapar bukan karena lupa makan, tapi karena memang nggak ada yang bisa dimakan sama sekali? Itu kenyataan yang dirasakan jutaan jiwa di Gaza hari ini.

Bukan sehari atau dua hari, namun berbulan-bulan. Anak-anak tidur dalam kondisi perut kosong. Ibu-ibu harus memilih: menyusui anaknya dengan tubuh lemah, atau menyerahkan anak itu kepada maut perlahan karena tak ada nutrisi. Dan dunia? Dunia tetap sibuk dengan urusan masing-masing, seolah nggak ada tragedi yang sedang berlangsung. Seolah nyawa-nyawa yang melayang itu bukan bagian dari kemanusiaan.

Hari ini, genosida di Gaza bukan lagi soal rudal dan bom. Kelaparan kini dijadikan senjata baru untuk membunuh. Zionis benar-benar biadab. Tapi lebih biadab lagi saat dunia membiarkan kekejaman ini terus terjadi. Negara-negara besar yang katanya punya kuasa justru berdiri di pihak penjajah.

Mereka bisa menghentikan penderitaan ini, tapi mereka malah menggagalkan semua upaya pembelaan terhadap Gaza — dengan kekuasaan yang mereka banggakan. PBB? Hanya bisa mengecam, tapi tak pernah mampu bertindak nyata.

Semua proposal gencatan senjata bisa dibungkam hanya dengan satu kata: “veto” dari Amerika Serikat. Dan yang lebih menyakitkan adalah diamnya para pemimpin Muslim. Seolah nyawa rakyat Palestina tak punya arti di mata mereka.

Kadang aku berpikir, apa yang membuat dunia bisa se-apatis ini? Apa karena yang terbunuh adalah Muslim? Apa karena yang dibunuh tidak berkulit putih dan tidak tinggal di negara barat? Atau karena sistem yang mengatur dunia hari ini memang tidak pernah berpihak pada keadilan sejati?

Tapi sebenarnya, bukan karena kita lemah. Umat Islam itu punya kekuatan besar. Dulu, umat ini pernah berjaya. Kita pernah punya satu perisai, yang disebut Khilafah. Yang membuat musuh gentar dan umat hidup mulia. Tapi sekarang, kita dijauhkan dari ajaran itu. Kita diajari cukup “empati” dan “donasi”, padahal kezaliman ini butuh kekuatan untuk dihentikan. Kita hanya diajak untuk mendoakan, padahal Rasulullah dan para sahabat dulu mengajarkan untuk berjuang.

Sebagai remaja Muslimah, aku gak bisa cuma diam. Aku tahu, aku belum bisa ke Gaza. Tapi aku bisa bersuara. Aku bisa mengajak teman-temanku, umat ini, untuk bangkit sadar. Kita harus kembali yakin bahwa Islam bukan hanya agama ibadah, tapi sistem kehidupan yang bisa menyelesaikan masalah, termasuk membebaskan Palestina. Hanya dengan jihad dan tegaknya Khilafah, penjajahan ini akan benar-benar berakhir.

Sekarang bukan waktunya diam. Sekarang waktunya para pengemban dakwah menyalakan kesadaran umat, menggugah pikiran dan hati mereka. Kita harus dekat dengan Allah, kuat dalam dakwah, dan siap menjadi bagian dari perjuangan besar ini. Kita harus menyebarkan kebenaran, membuka mata umat yang tertutup oleh media, dan menyadarkan mereka bahwa solusi sejati bukan pada negara-negara besar, bukan pada PBB, tapi pada umat ini sendiri yang kembali kepada Islam secara total.

Gerakan boikot adalah langkah awal. Tapi itu bukan satu-satunya. Kita harus menyadari akar persoalan: bahwa selama umat Islam tak memiliki kekuatan politik dan pemimpin yang menyatukan mereka, kezaliman ini akan terus terjadi. Karena penjajahan ini bukan sekadar soal perebutan tanah, tapi juga soal ideologi dan kekuasaan.

Penderitaan Gaza bukan sekadar soal makanan yang tak sampai, tapi karena kita—umat Islam—belum sungguh-sungguh bangkit menolong mereka. Kita masih nyaman dalam rutinitas, sibuk dengan urusan pribadi, dan hanya sesekali peduli saat berita viral.

Jangan tunggu semua ini menjadi sejarah kelam yang kita tangisi tanpa pernah berbuat apa-apa. La ghaaliba illa billah — tidak ada kemenangan kecuali dengan pertolongan Allah. (**)

*Penulis Adalah Pelajar