Gelar Seni Budaya Hingga Bazzar UMKM Turut Meriahkan Halal Bihalal Warga Paniron Kebumen di Perantauan

0
4
MEGAPOLITAN
“Kami ingin warga tidak hanya kumpul dan bermaafan, tapi juga bisa menikmati hiburan khas daerah dan mendukung usaha sesama warga perantauan,”
Jakarta | Lapan6Online : Suasana meriah dan penuh keakraban mewarnai acara Halal Bihalal warga Paniron, Kebumen, Jawa Tengah  di perantauan yang digelar di Taman Bumi Perkemahan Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Ahad (19/4/2026).

Mayjen TNI Purn.Suparno, Pembina Wallet Emas
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga dimeriahkan dengan gelar seni budaya dan bazzar UMKM. Acara yang digagas oleh paguyuban warga Paniron di Jabodetabek ini dihadiri ratusan warga dari berbagai wilayah.
Tujuannya untuk mempererat tali persaudaraan sesama perantau asal Paniron, Kebumen, sekaligus melepas rindu kampung halaman di momen Idulfitri 1447 H.

Kades Peniron, Triyono Adi
Tampak hadir dalam acara tersebut, Ketua PKBPK, Sawadi, Sesepuh PKBPK, Soekotjo, Kades Peniron, Triyono Adi, Tokoh Masyarakat, Dadiyono, Panitia Festival Wallet Emas, Karien, Mayjen TNI Purn.Suparno, Pembina Wallet Emas, Kyai Sohibun, Penanggungjawab, Sutarno, momen silaturahmi yang dihadiri ratusan Warga Paniron yang memadati Aula Taman Bumi Perkemahan Ragunan pun mendapat jamuan Jamjaneng Paniron, Ebeg atau Lengger
Suradi alias Abel, Ketua panitia mengatakan, Halal Bihalal tahun ini dikemas lebih semarak. “Kami ingin warga tidak hanya kumpul dan bermaafan, tapi juga bisa menikmati hiburan khas daerah dan mendukung usaha sesama warga perantauan,” ujarnya kepada awak media.

Sutarno Ketua paguyuban
Berbagai kesenian tradisional Kebumen ditampilkan, mulai dari kuda lumping, tari lengger, hingga tembang-tembang Jawa yang membuat suasana makin terasa seperti di kampung.
Para pengunjung tampak antusias, terutama anak-anak muda yang lahir di perantauan.
Tak kalah menarik, bazzar UMKM yang diisi oleh warga Paniron juga ramai dikunjungi. Beragam produk ditawarkan, mulai dari makanan khas Kebumen seperti lanting, geblek, sate ambal, hingga kerajinan tangan dan produk fashion.

Anggota DPRD DKI Jakarta periode 2024–2029 dari Fraksi Partai Golkar, Dadiyono
“Sekalian reuni, sekalian jualan. Lumayan, dagangan saya laris karena banyak yang kangen masakan kampung,” kata Siti, salah satu pelaku UMKM asal Paniron yang membuka lapak makanan.
Sementara itu, Anggota DPRD DKI Jakarta periode 2024–2029 dari Fraksi Partai Golkar, Dadiyono, yang juga sebagai Tokoh Masyarakat Paniron menghadiri Halal Bihalal Paguyuban Keluarga Besar Peniron Kebumen di Jakarta, pada Minggu (19/04/2026). Ia menyoroti pentingnya menjaga solidaritas warga perantauan.
Acara yang diikuti warga dari Jabodetabek, Bandung, hingga Banten ini juga dirangkaikan dengan gelar seni budaya dan bazar UMKM sebagai penggerak ekonomi komunitas.
Dadiyono Tekankan Soliditas dan Peran Politik
Dalam berbagai hal, Dadiyono mengapresiasi konsistensi warga Peniron dalam menjaga budaya dan kebersamaan di perantauan. Ia menyebut kegiatan ini sebagai bentuk nyata tradisi daerah “nguri-uri”.
“Ini luar biasa, semangat kebersamaan warga Peniron di perantauan tetap terjaga,” ujar Dadiyono di hadapan peserta.
Ia juga mengisyaratkan pentingnya keterwakilan politik bagi daerah asal. Menurut dia, Peniron membutuhkan tokoh yang bisa memperjuangkan aspirasi di tingkat legislatif.
“Peniron butuh figur yang duduk di DPRD. Kalau ada yang siap, partai siap memfasilitasi,” ujarnya, disambut respon peserta yang antusias.
Saya sempat berdiri di barisan tengah saat itu. Reaksi penonton terasa spontan—bukan sekadar seremoni, tapi ada harapan nyata soal representasi daerah.
Tantangan Anggaran dan Harapan bagi Desa
Dadiyono juga menyoroti keterbatasan anggaran desa yang diperkirakan semakin ketat ke depan. Ia meminta pemerintah desa aktif membangun komunikasi dengan pemerintah daerah hingga pusat.
“Ruang fiskal semakin terbatas. Tapi komunikasi dan ikhtiar harus tetap jalan,” ujarnya.
Menurut dia, peran DPRD menjadi penting untuk menjembatani aspirasi warga, termasuk masyarakat perantauan yang tinggal di Jakarta.
Di sisi lain, ia menekankan bahwa Jakarta sebagai kota majemuk harus menjadi ruang bersama bagi semua latar belakang, termasuk warga asal Kebumen.
Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menggerakkan perekonomian melalui UMKM dan memperkuat identitas budaya daerah di tengah kehidupan kota besar.
Seorang peserta yang saya temui di bazar area mengaku datang bukan hanya untuk bertemu kerabat. “Di tempat ini kami merasa tetap punya akar, meski hidup di Jakarta,” ujarnya.
Paguyuban berharap kegiatan ini terus berlanjut setiap tahun sebagai ruang konsolidasi sosial dan ekonomi warga Peniron di perantauan.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan seluruh warga Paniron di perantauan dan kemajuan desa asal. Paguyuban berharap kegiatan ini bisa rutin digelar setiap tahun sebagai wadah silaturahmi sekaligus pemberdayaan ekonomi warga. (*Haris Supriyono/Lpn6)