WISATA
“Keunikan fisik ini membuatnya merasa terasing dan malu, karena ia merasa wajahnya lebih menyerupai binatang daripada manusia pada umumnya. Rasa rendah diri yang hebat membawanya pada sebuah keputusan sulit di puncak tebing Rewata’a,”
Majene | SULBAR | Lapan6Online : Bagi para pelancong yang melintasi jalur Trans Sulawesi di Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, tebing batu Rewata’a bukan sekadar pemandangan alam yang memukau.
Di balik dinding batu yang megah dan birunya panorama laut, tersimpan sebuah kisah pilu tentang To Mettanduk (Manusia Bertanduk), sebuah legenda yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah lisan masyarakat lokal.
Rewata’a kini menjadi titik singgah favorit bagi pengguna jalan untuk berfoto dan menikmati hembusan angin laut. Namun, sejarah mencatat lokasi ini sebagai saksi bisu peristiwa tragis seorang pria dengan rupa unik yang memilih mengakhiri hidupnya karena beban sosial yang mendalam.
Kisah Kepedihan di Balik Rupa yang Berbeda
Dikisahkan pada masa lampau, hiduplah seorang pria yang memiliki tanduk di kepalanya. Keunikan fisik ini membuatnya merasa terasing dan malu, karena ia merasa wajahnya lebih menyerupai binatang daripada manusia pada umumnya. Rasa rendah diri yang hebat membawanya pada sebuah keputusan sulit di puncak tebing Rewata’a.
Dalam detik-detik terakhir sebelum menjatuhkan diri, beliau meninggalkan pesan terakhir kepada saudaranya dalam bahasa daerah yang menyayat hati :
“Iyya dzi,e dite,e sekali na,upatei alawe,u Sawa nama, uwanga, tau Idza merrupa tau.” (Sekarang ini saya bunuh diri karena mau dibilang manusia tidak bermuka manusia).’
Ucapan tersebut menjadi pengingat abadi akan pergulatan batin sang To Mettanduk terhadap identitas dan penerimaan diri. Beliau kemudian melompat dari tebing tinggi tersebut, yang kini kita kenal sebagai kawasan Rewata’a.
Daya Tarik Wisata dan Warisan Budaya
Saat ini, Rewata’a telah bertransformasi menjadi salah satu ikon wisata rest area di Kabupaten Majene.
Pemandangannya yang cantik nan indah menjadikan tempat ini lokasi favorit bagi masyarakat lokal maupun wisatawan luar daerah untuk berpose dan mengabadikan momen perjalanan mereka.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya melihat Rewata’a sebagai tempat foto yang estetik, tapi juga menghargai nilai sejarah dan cerita rakyat yang ada di dalamnya. Kisah To Mettanduk adalah bagian dari kekayaan budaya Pamboang,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.
Pemerintah daerah dan masyarakat berharap, dengan tetap lestarinya cerita rakyat seperti To Mettanduk, daya tarik wisata Rewata’a akan semakin kuat, menggabungkan pesona alam visual dengan kedalaman narasi sejarah yang autentik.
Tentang Rewata’a :
Rewata’a adalah kawasan tebing batu yang terletak di pinggir pantai Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Terletak strategis di jalur Trans Sulawesi, tempat ini menawarkan pemandangan laut lepas dan struktur tebing yang ikonik, menjadikannya destinasi wajib bagi siapa pun yang melintasi pesisir Sulawesi Barat. (*HGDP/Lpn6)


















