Negara Kaya SDA, Rakyat Kaya Sabar

0
30
Acara Human Capital Summit 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC)/Foto : Net

OPINI | POLITIK

“Kalau pemerintah sadar bahwa bonus demografi akan dan sudah melanda bangsa kita, maka harusnya lebih gencar juga memanfaatkan potensi kaum muda yang produktif ini untuk keberlangsungan dan kemajuan negeri,”

Oleh : Nurul Fahira

LAPANGAN pekerjaan adalah hal yang diidam-idamkan sampai saat ini. Berbagai lapisan masyarakat berlomba-lomba untuk mendapatkan pekerjaan. Yang tentu saja, tidak semua masyarakat mendapatkan pekerjaan.

Namun, yang terjadi adalah, semakin banyak wisudawan, semakin banyak pula penganggurannya. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menanggapi kritik masyarakat terkait minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan di Indonesia. Dia meminta semua pihak untuk introspeksi diri serta bersyukur dalam menghadapi permasalahan yang ada.

“Jadi kalau ada yang mengatakan bahwa lapangan pekerjaan tidak ada, saya pikir harus kita menjadi intropeksi kolektif gitu ya. Dan jangan kufur nikmat gitu,” ucap Bahlil dalam acara Human Capital Summit 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC) (Merdeka.com ( 04/06/2025).

Pahit, namun begitulah adanya. Pihak pemerintah bukannya mengevaluasi dan memperbaiki apa yang seharusnya bisa dilakukan, yakni membuka lapangan pekerjaan yang merata untuk masyarakatnya, tetapi malah meminta masyarakat untuk introspeksi.

Apakah benar, negara sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuka lapangan pekerjaan? Menurut data, Jumlah pengangguran naik tipis sebesar 1,11 persen dari tahun sebelumnya menjadi 7,28 juta. Melihat angka jumlah pengangguran sebelumnya saja sudah menyayat hati. Ditambah lagi tiap tahun selalu bertambah jumlahnya.

Padahal, era ini rata-rata dipenuhi oleh Gen Z, tetapi tetap saja, kalau tidak ada peran langsung dari pemerintahnya, peran anak muda bakal selalu dimandulkan. Seharusnya, kalau pemerintah sadar bahwa bonus demografi akan dan sudah melanda bangsa kita, maka harusnya lebih gencar juga memanfaatkan potensi kaum muda yang produktif ini untuk keberlangsungan dan kemajuan negeri. Bukan malah menonjolkan AI, bukan malah mendatangkan tenaga kerja asing dari luar, dan bukan malah memposisikan keluarga sendiri saja yang mendapatkan pekerjaan yang layak.

Ini adalah bentuk pengangguran tersistematis. Masyarakat bukannya tidak mempunyai skill/kemampuan. Kalau skill sudah dikuasai, tetapi tempat menyalurkan kemampuan tersebut tidak ada, bagaimana mau menghidupi keluarga dan diri sendirinya sehari-hari? Inilah mengapa masyarakat berlomba-lomba untuk mencari pekerjaan ke negeri yang lain.

Dan itupun malah disindir oleh penguasa hari ini. Sangat dilanda simalakama. Apakah semuanya rela pergi jauh-jauh dari tanah kelahiran, demi mendapatkan penghasilan? Tentu ada yang iya dan tidak. Kalaulah di negara sendiri tersedia lapangan pekerjaan yang merata untuk semuanya, tentu tidak perlu repot-repot mencari pekerjaan di luar negeri.

Balik lagi mengenai pengangguran tersistematis, akan terus berlanjut sampai generasi selamnjutnya apabila kita terus bertahan di sistem kapitalisme ini. Segalanya dilakukan hanya untuk mendapatkan keuntungan semata. Contohnya kedatangan tenaga asing pasti sudah terjalin kerjasama dengan negara bersangkutan, sudah terjalin kontrak di dalamnya.

Negara mengeruk tambang, yang bekerja malah orang asing. Sudahlah sumber daya alam yang dikeruk habis-habisan, tidakkah terpikir untuk menyediakan lapangan pekerjaan juga untuk warga setempat? Tentu pasti ada keuntungan yang diraih dari aktivitas tersebut.

Oleh karenanya, ini bersumber dari gharizah baqa’ manusia yang tidak terbendung dan tiada batasan. Demi keuntungan pribadi, segalanya dikorbankan. Termasuk masa depan anak bangsa. Apabila “takut kepada pencipta” lebih diduluankan dalam segala aktivitas, otomatis naluri kita untuk menguasai segalanya akan terkontrol. Maka dari itu, pentingnya edukasi dan pemahaman mengenai kepemilikan. Mana yang bisa kita miliki, mana yang seharusnya milik publik. Ini bisa kita ketahui apabila berada dalam sistem islam.

Sistem islam yang tentunya berasal dari pencipta dan pengatur manusia akan mengarahkan manusia agar tidak bersifat tamak dan rakus. Mengatur segala naluri manusia agar tetap berada pada koridor yang sesuai fitrah. Apabila ditemukan pengeksploitasian akan segera ditindaklanjuti.

Apalagi jika ditemukan bahwa suatu pihak menguasai apa yang milik umum. Inilah mengapa kita harus membentengi diri kita sendiri dengan ilmu. Apabila kita sudah memahami mengenai sistem ekonomi, sistem kepemilikan, sistem pendidikan, politik dan lain-lain, hendaknya kita menyampaikan kepada yang lain. Agar sistem islam bisa segera terwujud seperti yang sudah pernah terjadi di zaman khulafaurrasyidin, yang sesuai dengan manhaj kenabian. (**)

*Penulis Adalah Mahasiswi USU