OPINI | HUKUM
“Ketimpangan sosial, tekanan ekonomi, hingga minimnya ruang ekspresi yang positif turut menyumbang pada meledaknya agresivitas remaja,”
Oleh : Retno Purwaningtias, S.IP
SEORANG remaja di Belawan meregang nyawa, lagi-lagi akibat tawuran. Bukan kali pertama, dan tampaknya bukan yang terakhir. Kekerasan remaja di kawasan pesisir ini sudah seperti siklus tanpa ujung, meledak, reda sejenak, lalu terulang. Seolah kematian pun tak cukup menjadi alarm bahaya.
Aksi saling serang antarkelompok pemuda kerap terjadi di malam hari, menebar ketakutan, merusak fasilitas umum, bahkan menutup akses jalan. Tak jarang, warga sipil pun ikut menjadi korban, baik secara fisik maupun psikologis.
Kondisi ini mengundang perhatian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Dalam kunjungannya ke Belawan, Komisioner Kompolnas Choirul Anam menegaskan bahwa penyelesaian konflik horizontal semacam ini tidak bisa hanya dibebankan kepada pihak kepolisian.
Ia menekankan pentingnya intervensi sosial yang melibatkan pemerintah kota, DPRD, tokoh masyarakat, dan lembaga sosial untuk meredam eskalasi kekerasan di akar rumput. Pernyataan ini disampaikan setelah rapat koordinasi bersama Polrestabes Medan, Polda Sumut, dan stakeholder lainnya (matatelinga.com, 8/5/2025).
Namun ironis, seruan ini bukanlah yang pertama. Pemerintah dan aparat sudah berkali-kali duduk bersama membahas solusi tawuran di Belawan. Bahkan berbagai program “pemuda sadar hukum”, “kampung bebas tawuran”, dan pendekatan budaya pun telah dijalankan.
Tapi faktanya, situasi tetap stagnan. Tawuran tetap terjadi. Korban terus berjatuhan. Ketakutan warga semakin menjadi. Lalu, di mana letak kesalahan sebenarnya?
Masalah ini bukan sekadar lemahnya koordinasi atau minimnya patroli keamanan. Ini adalah cermin dari kegagalan sistemik dalam membina remaja. Tawuran bukan muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari tanah kosong, dari jiwa-jiwa muda yang kehilangan arah, tak punya tujuan hidup, dan tumbuh di lingkungan yang keras serta penuh tekanan sosial.
Sistem pendidikan hari ini gagal menjadikan generasi muda sebagai pribadi yang kokoh secara spiritual dan sosial. Yang diajarkan adalah angka, bukan makna hidup. Yang ditanamkan adalah kompetisi, bukan kolaborasi.
Akibatnya, banyak anak muda yang mencari eksistensi lewat kekerasan. Tawuran menjadi pelampiasan frustrasi, ajang pembuktian, bahkan hiburan.
Lalu, di mana negara? Negara tampak reaktif, bukan preventif. Datang setelah korban jatuh. Rapat setelah nyawa melayang. Solusinya pun masih berkutat pada program mediasi, penyuluhan, atau patroli malam. Sementara akar masalahnya tetap dibiarkan, yaitu sistem kehidupan sekuler yang menjauhkan remaja dari nilai-nilai spiritual yang hakiki.
Kita tidak bisa berharap banyak dari pendekatan kultural semata. Kita butuh perubahan paradigma. Selama remaja tidak dibina dengan akidah yang membentuk kepribadian mulia, selama lingkungan sosial permisif terhadap kekerasan, dan selama sistem negara abai dalam membentuk masyarakat yang bertakwa, maka tawuran hanyalah bom waktu.
Akan meledak lagi. Dan lagi
Sistem kapitalisme juga tak bisa dilepaskan dari persoalan ini. Ketimpangan sosial, tekanan ekonomi, hingga minimnya ruang ekspresi yang positif turut menyumbang pada meledaknya agresivitas remaja. Saat negara lebih sibuk melayani kepentingan elite, remaja dibiarkan mencari jalan sendiri dalam dunia yang tak ramah.
Islam sebenarnya menawarkan jalan keluar yang mendasar dan menyeluruh. Bukan dengan pendekatan tambal sulam, apalagi sekadar reaktif setelah masalah terjadi, melainkan dengan membangun sistem kehidupan yang utuh dan berlandaskan wahyu.
Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan hanya tempat mengejar nilai ujian atau prestise akademik. Ia adalah sarana pembentukan kepribadian yang berakar pada akidah Islam, yang membentuk cara berpikir dan bersikap anak didik sejak dini.
Masyarakat pun bukan sekadar kumpulan individu, melainkan lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran. Negara hadir bukan hanya sebagai penegak keamanan, tapi sebagai pengurus sejati yang memastikan setiap aspek kehidupan masyarakat berjalan sesuai aturan Allah.
Allah Swt. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (TQS. At-Tahrim [66]: 6).
Ayat ini bukan hanya seruan personal, tetapi juga penegasan akan pentingnya tanggung jawab kolektif, termasuk peran negara dalam menjaga arah hidup masyarakat.
Karena itulah, membina generasi muda tidak cukup dengan himbauan moral atau razia sesekali. Dibutuhkan sistem yang mampu menanamkan makna hidup sejak dini, menciptakan lingkungan yang menumbuhkan kesadaran, dan menjadikan negara sebagai pelindung serta pendidik rakyatnya.
Sistem Islam membangun pilar kehidupan dari tiga unsur yang saling terhubung, yaitu individu yang bertakwa, masyarakat yang peduli, dan negara yang menegakkan syariat. Tanpa salah satunya, upaya membina generasi akan selalu timpang.
Dalam sejarahnya, sistem Islam telah melahirkan generasi muda luar biasa yang dibina dalam lingkungan pendidikan dan masyarakat yang berpijak pada akidah. Sejak usia dini, mereka ditanamkan pemahaman tentang makna hidup, tanggung jawab sebagai hamba Allah, dan keberanian menegakkan kebenaran.
Lihatlah sosok Usamah bin Zaid, yang di usia 18 tahun telah dipercaya Rasulullah memimpin pasukan besar menuju wilayah Romawi. Atau Muhammad al-Fatih, yang sejak kecil dididik dalam suasana iman dan ilmu, hingga mampu menaklukkan Konstantinopel di usia 21 tahun.
Ini bukan sekadar karena faktor pribadi, tapi karena sistem yang membentuk kepribadian mereka dengan pendidikan yang menyatu dengan nilai Islam, masyarakat yang mendukung amal salih, dan negara yang serius membina dan mengarahkan potensi remaja. Inilah bukti nyata bahwa sistem Islam mampu melahirkan generasi pemimpin, bukan pelaku kekerasan.
Maka, jika kita ingin memutus mata rantai tawuran, saatnya berhenti mencari kambing hitam. Masalahnya bukan sekadar pada anak-anak muda yang terseret arus, tetapi pada sistem yang membiarkan mereka tumbuh tanpa arah. Bukan hanya pada aparat yang lambat bertindak, tapi pada negara yang gagal menciptakan sistem yang mendidik dan melindungi.
Hanya dengan perubahan total dan sistemik, yaitu dengan penerapan sistem Islam, Belawan dan daerah-daerah lain yang senasib bisa diselamatkan dari lingkaran kehancuran generasi.
Tak perlu lagi menunggu tragedi berikutnya untuk sadar. Saatnya mengoreksi akar persoalan dengan berani, dengan mengganti sistem yang gagal dengan sistem yang menjamin kehidupan penuh makna dan kemuliaan. Saatnya kembali pada sistem Islam, bukan hanya sebagai keyakinan, tetapi sebagai solusi peradaban. Wallahualam bissawab. (**)
*Penulis Adalah Pegiat Literasi


















