OPINI | POLITIK
“Program MBG tidak tersentuh efisiensi anggaran. Seolah program MBG paling penting. Padahal di lapangan, banyak sekali kritik terhadap program MBG ini,”
Oleh : Eva Arlini
SAKIT hati menyaksikan kebijakan pemerintah yang tidak bijak. Luar biasa kerakusan mereka. Baru – baru ini diberitakan, Badan Gizi Nasional (BGN) membeli 21 ribu lebih motor trail listrik untuk Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan alasan kendaraan tersebut dibutuhkan untuk distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di daerah yang sulit akses jalannya.
Motor tersebut per unitnya seharga 42 juta rupiah. Bila dikalikan pembelian sekitar 21.800 unit, maka total anggaran yang dihabiskan hampir 1 triliun. Apakah mesti membeli dengan harga motor yang semahal itu?
Ada konten kreator yang mengungkap bahwa sebenarnya banyak motor merk lokal yang tak kalah bagus namun harganya jauh lebih murah dari harga motor tersebut. Bila dikatakan bahwa penyaluran Makanan Bergizi Gratis (MBG) butuh fasilitas mewah seperti motor trail ini, sudah sejak lama masyarakat di daerah merasakan akses jalan yang sulit. Terutama untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan.
Baru – baru ini juga viral video seorang wanita hamil sedang ditandu oleh beberapa pria. Kejadian itu di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Jarak yang mereka tempuh 9 km menuju ke Puskesmas.
Wanita itu terpaksa ditandu karena akses jalan yang rusak. Jauhnya jarak yang ditempuh dengan berjalan kaki, tentu membahayakan kondisi wanita tersebut yang harus segera ditangani pihak medis. Bukankah kondisi ini lebih urgen mendapat fasilitas kendaraan?
Bagaimana dengan anak – anak sekolah di daerah yang mesti berjalan ke sekolah melewati jalan berlumpur dan jembatannya hampir roboh seperti di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara?
Pasca bencana banjir bandang di Sumatera kemarin, membuat semakin bertambah jumlah jalan yang rusak dan bertambah jumlah anak yang sulit mengakses jalan ke sekolah. Belum lagi bicara masalah serupa di daerah lainnya, juga soal gaji guru honorer yang sangat minim.
Mereka juga butuh solusi. Soal sekolah – sekolah di daerah yang kondisinya tak layak. Fasilitas kesehatan di daerah yang sangat minim. Sungguh ini masalah yang lebih layak diperhatikan ketimbang memfasilitasi pelaksana program MBG.
Namun justru pemerintah melakukan efisiensi, memangkas anggaran di berbagai bidang yang lebih dekat pada rakyat, kecuali program MBG. Program MBG tidak tersentuh efisiensi anggaran. Seolah program MBG paling penting. Padahal di lapangan, banyak sekali kritik terhadap program MBG ini.
Mulai dari makanan yang tidak bernilai gizi, porsi makanan yang tak sesuai anggaran per anak, hingga kasus keracunan mewarnai pelaksanaan program MBG selama ini. Sampai – sampai program MBG digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) oleh sejumlah pihak. Mereka menilai program MBG telah melanggar konstitusi karena memangkas sepertiga anggaran pendidikan. (bbcnewsindonesia.com/ 30/01/26)
Rindu Pemimpin Empati
Terhadap pemimpin zhalim, Rasulullah saw pernah berdoa: “ Ya Allah, siapa saja yang memimpin (mengurus) urusan umatku ini, yang kemudian ia menyayangi mereka, maka sayangilah dia. Dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia”. (HR. Muslim No 1828)
Doa Rasulullah saw tak pernah ditolak oleh Allah swt. Hendaklah para pemimpin menyadari hal ini. Namun sepertinya sulit berharap penguasa memperhatikan peringatan dalam agama. Sebab mereka tidak menjadikan agama sebagai standar aturan bernegara. Sistem demokrasi sekuler yang saat ini diterapkan dalam kehidupan kita mengajarkan pemisahan agama dari kehidupan.
Agama dijadikan urusan pribadi semata, tidak dipakai dalam menjalankan perpolitikan.
Tak heran politik demokrasi dikenal sebagai dunia kotor, karena iman dan ketaatan kepada Allah swt tidak mejadi kontrol dalam menjalankan pemerintahan. Uanglah yang menjadi aspek penting dalam kekuasaan. Uang menjadi syarat meraih kekuasaan. Uang pula yang menjadi tujuan saat berkuasa. Kita sudah sangat lelah dengan kebijakan pemerintah yang tak pro rakyat, menandakan bahwa kekuasaan mereka hanya untuk kenikmatan pribadi saja.
Kita berharap pemimpin kita sadar atau tergantikan dengan pemimpin amanah yang menjalankan sistem kepemimpinan amanah yakni sistem Islam secara kaffah. (**)
*Penulis Adalah Guru Tahsin Quran


















