OPINI | HUKUM
“Seperti itulah potret buram para pemuda kita sekarang pemuda yang terpancing emosi, frustrasi dan sangat bangga jika melakukan perbuatan Kriminal, inilah jati diri pemuda yang salah pada zaman hari ini,”
Oleh : Rahma Yani, S.Pd
TELAH terjadi lagi, Seorang pemuda berinisial A (20) Tewas usai terkena panah saat ikut tawuran di Kampung Kolam, Kelurahan Belawan Bahagia, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan. Kasi Humas Polres Pelabuhan Belawan, AKP Edy Suranta, menyampaikan bahwa mulanya terjadi tawuran antara dua kelompok pemuda di lokasi pada Jumat ( 27/6/2025) subuh.
“Mereka tawuran dengan membawa senjata tajam. Lalu, korban terkena panah di bagian dada,” Kata Edy saat dihubungi Kompas. com melalui saluran telepon pada Minggu (29/6/2025) Dia menjelaskan bahwa korban dibawa ke Rumah Sakit Husada Cipta di Belawan. Naa’snya, nyawa korban A, warga Jalan Belanak ini, tak dapat diselamatkan. “ korban meninggal di rumah sakit,” sebut Edy.
Faktanya kita melihat pemuda zaman ini sangat-sangat jauh dari Islam. Mereka tidak lagi memiliki ketaqwan individu, tak ada lagi rasa takut kepada orang tua, keluarga, bahkan kepada Tuhannya.
Perilakunya menyimpang dari ajaran islam, sampai-sampai para pemuda ini mengabaikan kewajiban-kewajiban mereka sebagai umat muslim. Perilaku negative mereka pertontonkan dengan gamblang tanpa rasa bersalah dan berdosa. Ibadah-ibadah yang seharusnya mereka kerjakan, mereka skip dengan seenaknya.
Tidak hanya itu saja, bahkan perilaku-perilaku negatif tersebut juga dijadikan trend di kalangan pemuda. Contohnya saja seperti tawuran, judol, narkoba dll.
Seperti itulah potret buram para pemuda kita sekarang pemuda yang terpancing emosi, frustrasi dan sangat bangga jika melakukan perbuatan Kriminal, inilah jati diri pemuda yang salah pada zaman hari ini.
Seharusnya pemuda sebagai agen perubahan ( agent of change) yang memiliki peran penting dalam pembangunan dan kemajuan bangsa. Sudah seharusnya mereka memberikan kontribusi yang positif di tengah –tengah masyarakat bukan malah merusak dan meresahkan warga. Kita juga harus melihat bagaimana peran orang tua dalam mendidik dan memberikan pengawasan kepada anaknya, peran aktif orang tua dalam membentuk karakter anak sangat dibutuhkan.
Tapi, fenomena zaman ini menjadikan orang tua sibuk bekerja dari pagi hingga malam tanpa memperhatikan perilaku anaknya. Para orang tua tak ada waktu lagi memberikan pendidikan agama di rumah dan akibatnya anak pun bisa melampiaskan kebebasannya di luar rumah tanpa orang tua tau bagaimana lingkungan pertemanan anaknya di luar.
Para pemuda ini merasa nyaman dan bahagia dalam lingkungan pertemanan yang bebas. Sistem Pendidikan saat ini pun belum bisa di andalkan. Sistem pendidikan saat ini belum bisa melahirkan generasi yang cerdas dan bertakwa. Sekolah hanyalah sebagai tanda bahwa anak pernah belajar, bukan lagi tempat pembentukan karakter islam. Guru-guru juga disibukan dengan administrasi sekolah yang banyak sehingga anak hanya dibebankan tugas saja.
Padahal, sejatinya Orang tua memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan agama, termasuk memberikan perhatian , kasih sayang dan pengawasan terhadap anak. Orang tua berkewajiban memperhatikan pergaulan anak agar tidak menyimpang dari hal-hal negative. Orang tua juga memberikan contoh yang baik kepada anak, karena anak cenderung meniru perilaku orang tua.
Dalam pandangan Islam setiap tindakan yang mengganggu keamanan, menzolimi orang lain, melakukan kekerasan tergolong pelanggaran hukum syara’ seperti tawuran.
Islam memerintahkan hukum yang tegas, dan tidak pandang bulu bagi siapa saja pelakunya. Hukuman dalam islam pun akan menimbulkan efek jera bagi yang melihatnya. Sehingga tidak akan ada lagi yang melakukan kejahatan yang serupa.
Dalam Q.S. Almaidah: 33 yang artinya “Hukuman bagi yang memerangi Allah dan Rasulnya dan membuat kerusakan di bumi hanyalah dibunuh dan disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan akhirat mereka mendapatkan azab yang besar”. Allahu a’lam bisshawab. (**)
*Penulis Adalah Aktivis Dakwah Alumni FKIP UMSU


















