Gen-Z : Potensi Besar Kebangkitan Umat

0
44
Bella Lutfiyya/Foto : Ist.

OPINI | POLITIK

“Aksi penolakan atas kezaliman ini merupakan fitrah manusia, apalagi slogan bertajuk “kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat” milik Sistem Demokrasi yang selalu dielu-elukan seharusnya menjadi hal yang bisa diterima oleh pemerintah bukan?,”

Oleh : Bella Lutfiyya

GEN-Z sendiri sering disalahpahami dengan kelakuan yang minim adab, malas, tidak bisa diatur, dan sebagainya. Tapi lihatlah peristiwa kemarin, kecaman yang digaungkan para Gen-Z melalui postingan-postingan yang dibagikan di sosial media masing-masing menunjukkan keresahan, empati, dan haus akan perubahan untuk menjadi lebih baik.

Mereka belajar politik, mereka berusaha memahami isu terkini, mereka mengajak orang-orang sekitar untuk tidak berdiam diri.

Menurut Psikolog Anak & Remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi, alih-alih melakukan tindakan destruktif, Gen-Z memilih berbicara dengan cara khas mereka, yakni menggunakan media sosial, meme, poster kreatif, higga estetika visual.

Mereka bicara tanpa harus membakar fasilitas-fasilitas umum. Hal ini terbukti efektif menggaet massa, termasuk dari kalangan Gen-Z itu sendiri. Penyampaian yang unik ini akhirnya mempermudah masyarakat untuk lebih memahami permasalahan yang teradi.

Shinta, salah seorang mahasiswi perguruan tinggi di Jakarta juga tak ketinggalan dalam kampanye tuntutan 17+8 kemarin. Ia turut membagikan kampanye lewat sosial media, karena merasa geram atas hak-hak istimewa yang didapatkan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sementara rakyat sipil semakin tergerus dengan kebijakan-kebijakan yang tak berpihak pada mereka.

Sistem yang Mengubur Fitrah Manusia
Masyarakat yang turun ke jalan ataupun para netizen yang bersuara lewat sosial media memiliki alasan yang kuat, yaitu perasaan yang satu atas ketidakadilan dan kebobrokan pemerintah. Aksi penolakan atas kezaliman ini merupakan fitrah manusia, apalagi slogan bertajuk “kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat” milik Sistem Demokrasi yang selalu dielu-elukan seharusnya menjadi hal yang bisa diterima oleh pemerintah bukan?

Nyatanya, pemerintah enggan mendengar. Mereka seakan-akan tuli, bisu, dan menyerang balik dengan memutarbalikkan fakta, kabur ke luar negeri, bahkan melakukan pengalihan isu. Kapan amarah rakyat akan padam kalau pemerintah antikritik, sedangkan rakyat hanya menginginkan solusi dan keadilan?

Islam, Way of Life
Berbanding terbaik dengan Islam yang sangat menghormati fitrah manusia dalam menyalurkan naluri baqa’-nya. Islam memiliki mekanisme untuk mengoreksi penguasa (muhasabah lil hukkam), sehingga rakyat mempunyai ruang untuk menyampaikan kritik, saran, aspirasi, tanpa perlu takut dengan ancaman dan pengabaian.

Islam dalam sudut pandang banyak orang –termasuk Muslim itu sendiri- seringkali dikerdilkan hanya sebatas agama yang mengatur ibadah kaumnya saja. Padahal, Islam mengatur kehidupan umat manusia di muka bumi. Islam mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, diantaranya terkait interaksi, jual-beli, pendidikan, keamanan, bahkan pemerintahan.

Pemuda adalah penerus generasi yang memiliki potensi besar pada suatu peradaban. Dalam Islam, banyak pemuda yang patut kita jadikan panutan atas semangat, kegigihan, dan visi besar mereka terhadap Islam yang diwadahi dengan baik oleh negara Islam. Semangat juang tersebut harus kita lanjutkan di zaman ini dengan meningkatkan kualitas diri sebagai individu muslim.

Di zaman yang tak luput dari fitnah, kezaliman, dan dominasi pemikiran asing yang menggerus keimanan dan ketaqwaan umat, memperdalam ilmu terutama ilmu Islam adalah kewajiban bagi setiap individu sebagaimana dalam hadist berikut ;
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga..” (HR. Abu Daud)

Solusi Hakiki
Semangat juang Gen-Z saat kampanye 17+8 patut diapresiasi, namun muncul pertanyaan, “Benarkah ini yang kita butuhkan?”

Berkali-kali mengganti pemimpin, perombakkan kabinet, perubahan undang-undang, nyatanya tidak menyelesaikan permasalahan sampai pada akarnya. Demo & kampanye kemarin akan terus terjadi, karena akar permasalahan yang sesungguhnya tidak dicabut, yaitu sistem yang zalim.

Sistem Demokrasi-Kapitalisme, pada dasarnya adalah buah dari penjajahan pemikiran asing. Sistem ini adalah buatan manusia, sehingga aturan maupun kebijakkannya hanya akan dibuat sesuka hati penguasa dan antek-anteknya.

Undang-undang mudah sekali direvisi sesuai kepentingan segelintir orang, hukum dengan mudahnya dibeli dengan uang, “Tajam ke bawah, tumpul ke atas”.

Sementara Sistem Islam yang menerapkan hukum syariat dari Allah SWT memiliki sifat yang adil, universal –berlaku bagi seluruh umat manusia-, serta fleksibel dan dinamis –mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman-. Hukum Islam tidak memandang mana Si Kaya & Si Miskin, mana Si Penguasa & Si Rakyat Sipil, sehingga aturan dan kebijakkan yang ada dapat menyejahterakan rakyat secara keseluruhan.

Semangat juang Gen-Z akan terbayarkan dengan sistem yang bisa memperlakukan manusia sebagai manusia seutuhnya dan mewadahi potensi besar pemuda dalam perjuangan. Wadah itu, tak lain adalah Sistem Islam. Maka, kewajiban bagi seluruh umat Muslim adalah mempelajari Islam, menerapkan Islam secara keseluruhan, dan mendakwahkan Islam kepada khalayak luas, agar mereka tahu bahwa Islam adalah solusi yang hakiki. (**)

*Penulis Adalah Alumnus Universitas Gunadarma