EKONOMI | POLITIK
“Sinjai mengalami deflasi 0,44 peresn, yang terutama disumbang oleh beras, bawang merah dan udang basah. Namun harga cabai rawit yang paling berubah di pekan terakhir oktober ini,”
Sinjai | SULSEL | Lapan6Online : Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah dari Pusat Pengendalian dan Pengawasan Barang Kebutuhan Pokok (P2KP) Kementerian Perdagangan, indeks perubahan harga (IPH) di Sulawesi Selatan menunjukkan fluktuasi pada pekan keempat Oktober 2025.
Dari 17 kabupaten/kota yang tercatat, sebagian besar daerah mengalami penurunan IPH, sementara beberapa kabupaten menunjukkan kenaikan harga bahan pokok.
Kepala BPS Kabupaten Sinjai, Syamsuddin pada Senin (27/10/2025) menjelaskan Jeneponto mencatat kenaikan IPH tertinggi sebesar 1,57 persen, dengan komoditas andil terbesar, yaitu udang basah (0,8911), tepung terigu (0,3902) dan minyak goreng (0,2409). Kenaikan juga terjadi di Kabupaten Luwu Utara (0,63%), Pinrang (0,55%), Soppeng (0,21%) dan Gowa (0,14%).

Adapun komoditas yang paling berpengaruh terhadap kenaikan harga di beberapa wilayah antara lain daging ayam ras, cabai merah, cabai rawit dan telur ayam ras. Di Jeneponto, fluktuasi harga tertinggi pada minggu berjalan, tercatat pada komoditas pisang dengan koefisien variasi 0,205196.
“Sinjai mengalami deflasi 0,44 peresn, yang terutama disumbang oleh beras, bawang merah dan udang basah. Namun harga cabai rawit yang paling berubah di pekan terakhir oktober ini,” kata Syamsuddin.
Sementara itu, penurunan IPH terbesar terjadi di Kabupaten Takalar sebesar -3,54 persen, disusul Barru (-2,43%), Toraja Utara (-1,42%) dan Bantaeng (-0,64%). Di Takalar, penurunan harga terutama disumbang oleh beras (-1,4641), daging ayam ras (-0,0867) dan tempe (-0,2886).
Syamsuddin menambahkan, beberapa daerah yang mengalami penurunan IPH umumnya disebabkan turunnya harga beras, cabai merah dan bawang merah yang menjadi komoditas utama pemantauan harga.
Data BPS juga mencatat bahwa fluktuasi harga mingguan tertinggi di Sulawesi Selatan secara umum masih dipengaruhi cabai rawit dan cabai merah, dengan nilai koefisien variasi tertinggi mencapai 0,205196 di Jeneponto dan 0,183380 di Pinrang.
*Pewarta : Nafsul Muthmainnah


















