Muliana, KepSek SDN 55 Deteng Deteng : Tak Mengenal Kata Terlambat Untuk Kebaikan

0
234
Muliana, S.Pd. M.M, Kepala Sekolah SDN 55 Deteng Detang/Foto2 : HGDPLapan6OnlineSULBAR

EDUKASI

“Peringatan ini menjadi sarana bagi umat Islam untuk merenungkan kembali perjuangan, ajaran, dan nilai-nilai luhur Nabi, seperti kasih sayang, persaudaraan, keadilan, dan kesederhanaan,”

Banggae | Majene | SULBAR | Lapan6Online : SDN 55 Deteng Deteng, Lingkungan Passarang, Totoli, Kec. Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat menggelar Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, pada Kamis (20/11/2025).

Tampak hadir dalam acara tersebut Hifni Zakariya, SE, Camat Banggae, Tokoh Masyarakat, alim ulama, dan warga sekitar. Pada kesempatan tersebut, Camat Hifni memberikan apresiasi atas terselenggaranya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan SDN 55 Deteng Deteng .

Esensi dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah untuk mengenang, bersyukur, dan mengambil pelajaran dari keteladanan serta akhlak mulia Rasulullah SAW, yang bisa dilakukan kapan saja, tidak terbatas pada satu hari.

Hifni Zakariya, SE, Camat Banggae

Pada momentum tersebut Muliana, S.Pd. M.M, Kepala Sekolah SDN 55 Deteng Detang pada saat mengikuti rapat koordinasi RKAS di SDN 49 Cilallang dalam a short break (istirahat sejenak,red) menceritakan beberapa item kegiatan silaturahmi di sekolahnya,”Alhamdulillah pak sekolah kami baru-baru ini juga mengadakan maulid nabi Muhammad Saw dihadiri oleh Camat Banggae tokoh masyarakat para guru dan siswa dan lainnya, mewakili rekan-rekan guru di SDN 55 kami tidak mengenal yang namanya terlambat dalam berbuat kebaikan,” urai Muliana.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sudah menjadi agenda tetap SDN 55 Deteng Deteng setiap tahunnya digelar.

Muliana menambahkan,”Syukur Alhamdulillah, kami (SDN 55 Deteng Deteng,red) setiap tahun menggelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, karena momen penting untuk mengenang kelahiran Rasulullah dan meneladani akhlak mulia serta ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Peringatan ini menjadi sarana bagi umat Islam untuk merenungkan kembali perjuangan, ajaran, dan nilai-nilai luhur Nabi, seperti kasih sayang, persaudaraan, keadilan, dan kesederhanaan. Selain itu, Maulid juga menjadi ajang memperkuat spiritualitas dan mempererat silaturahmi Kami para guru, siswa, orangtua siswa, dan tentunya masyarakat sekitar,” tambahnya.

Banyak organisasi, majelis taklim, atau komunitas bahkan pesantren yang merayakan Maulid Nabi di luar bulan Rabiul Awal karena menyesuaikan jadwal atau agenda, dan hal ini sah-sah saja.

Tidak ada dalil tegas dalam Al-Qur’an maupun Hadis yang secara spesifik melarang perayaan Maulid di luar tanggal kelahirannya.

Jadi, jika ada alasan tertentu yang menyebabkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW diadakan terlambat, hal tersebut bukanlah masalah, asalkan substansi acaranya tetap berisi hal-hal yang baik dan bermanfaat, seperti ceramah, sholawat, dan pengajian untuk meningkatkan keimanan. (*HGDP/Lapan6OnlineSULBAR)