Akibat Lemahnya Pengawasan BGN! Ratusan Siswa dan Guru Tekapar, Diduga Keracunan Menu MBG

0
48

HUKUM

“Sampel makanan dan muntahan sudah kami ambil untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sampel muntah diuji di Laboratorium Kesehatan Provinsi di Pontianak, sedangkan sampel makanan dikirim ke Balai POM Kalimantan Barat,”

Ketapang l KALBAR l Lapan6Online : Kasus dugaan keracunan pada pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Ketapang. Kali ini, ratusan siswa dan guru di Kecamatan Marau diduga menjadi korban setelah menyantap hidangan yang dibagikan di sekolah, pada Kamis (05/2/2026) pagi.

Peristiwa tersebut menimpa siswa dan tenaga pendidik di SMP Negeri 1 Marau, SMA Negeri 1 Marau, serta SMK Negeri 1 Marau. Tak lama setelah mengonsumsi makanan MBG, para korban mulai mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing, sakit perut, hingga diare.

Sebagian besar korban langsung dilarikan ke sejumlah puskesmas di wilayah setempat untuk mendapatkan penanganan medis. Hingga Kamis sore, beberapa di antaranya masih menjalani perawatan intensif.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, dr. Feria Kowira, mengungkapkan bahwa berdasarkan data sementara per pukul 17.00 WIB, total korban mencapai 162 orang, terdiri dari siswa dan guru dari tiga sekolah tersebut.

“Data terbaru pukul 17.00 WIB, total korban ada 162 orang. Mereka berasal dari tiga sekolah di Kecamatan Marau,” ujar dr. Feria saat dikonfirmasi, Kamis sore.

Ia menjelaskan, laporan pertama diterima sekitar pukul 10.00 WIB ketika para siswa mulai mengalami gejala secara serentak setelah menyantap makanan yang dibagikan.

“Saat tiba di puskesmas sekitar pukul 10.00 pagi, kondisi mereka muntah-muntah, pusing, dan beberapa mengalami diare. Secara umum mengalami dehidrasi,” jelasnya.

Untuk menangani kasus ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang segera mengerahkan lima tim medis gabungan yang terdiri dari Dinkes Ketapang, Puskesmas Marau, Puskesmas Jelai Hulu, Puskesmas Suka Mulia, dan Puskesmas Marau.

Selain fokus pada penanganan korban, tim juga melakukan langkah investigatif dengan mengambil sampel makanan MBG yang dikonsumsi serta sampel muntahan korban guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.

“Sampel makanan dan muntahan sudah kami ambil untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sampel muntah diuji di Laboratorium Kesehatan Provinsi di Pontianak, sedangkan sampel makanan dikirim ke Balai POM Kalimantan Barat,” pungkas dr. Feria.

Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab dugaan keracunan massal tersebut.

Peristiwa ini memunculkan sorotan terhadap pengawasan pelaksanaan Program MBG. Sejumlah pihak menilai pengawasan seharusnya dilakukan secara berlapis dan kolaboratif oleh instansi terkait, termasuk Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pengelola utama, bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan terkait standar gizi, BPOM dalam aspek keamanan pangan, serta melibatkan pemerintah daerah dan unsur pengawasan lainnya.

Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program MBG guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.

*Yulizar Lapan6Online