
POLITIK
“Memaafkan bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan. Luka boleh ada, batas boleh dibuat. Yang dilepas adalah dendam dan keinginan membalas. Ini penting agar kita tidak merasa terpaksa atau merasa dirugikan lagi,”
Depok | JAWA BARAT | Lapan6Online : Di hadapan sekitar tiga belas peserta, Aktivis Muslimah, Siti Aisyah menjelaskan terkait beberapa tips agar hati mudah memaafkan orang lain.
“Ada delapan tips agar hati dimudahkan memaafkan orang lain,” ungkapnya dalam Kajian Muslimah Shalihah Rutin, Memaafkan, Kunci Terhapusnya Dosa Kita, Sabtu (07/02/2025) di Cipayung, Depok, Jawa Barat.
Adapun tipsnya yakni: Pertama, sadarilah kita juga banyak salah. “Tidak ada manusia yang bersih dari dosa. Setiap hari kita berharap Allah memaafkan kesalahan kita baik yang disengaja maupun tidak. Saat mengingat ini, hati akan lebih lunak untuk memberi maaf. Ingatlah, jika kita ingin diampuni Allah, maka aku pun harus belajar memaafkan,” jelasnya.
Kedua, bedakan memaafkan dengan melupakan. “Memaafkan bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan. Luka boleh ada, batas boleh dibuat. Yang dilepas adalah dendam dan keinginan membalas. Ini penting agar kita tidak merasa terpaksa atau merasa dirugikan lagi,” sebutnya.
Ketiga, serahkan urusan balasan kepada Allah. “Menyimpan marah hanya melelahkan hati. Percayalah, tidak ada satu pun kezaliman yang luput dari keadilan Allah. Saat kita memilih memaafkan, kita sedang memindahkan beban dari hati ke tangan Allah Yang Maha Adil,” ujarnya.
Keempat, mulai dari doa, bukan perasaan. “Jangan menunggu hati terasa ringan dulu. Justru hati menjadi ringan setelah berdoa. Doa sederhana sudah cukup, ‘Ya Allah, aku belum ikhlas, tapi aku ingin ikhlas. Tolong lembutkan hatiku’,” jelasnya.
Kelima, ingat pahala dan ampunan yang dijanjikan Allah. “Setiap menahan amarah dan memaafkan, ada dosa yang dihapus dan derajat yang diangkat. Mungkin kita tidak melihat hasilnya di dunia, tapi kelak di akhirat, itulah yang paling kita butuhkan,” katanya.
Keenam, lepaskan luka sedikit demi sedikit. “Tidak harus langsung sempurna. Hari ini mungkin masih sakit, besok sudah berkurang. Memaafkan adalah proses, bukan perlombaan. Allah menilai usaha hati, bukan hasil instan,” ungkapnya.
Ketujuh, fokus pada ketenangan diri, bukan kesalahan orang. “Memaafkan bukan hadiah untuk orang lain, tapi hadiah untuk diri sendiri. Hati lebih tenang, tidur lebih nyenyak, ibadah lebih khusyuk dan kita pantas mendapatkan ketenangan itu,” sebutnya.
Kedelapan, ingat, hati yang lapang lebih dekat dengan surga. “Rasulullah SAW menyebutkan orang yang tidak menyimpan dendam sebagai ahli surga. Bukan karena ibadahnya paling banyak, tapi karena hatinya bersih. Sebagaimana sabda Nabi SAW yang diriwayatkan dari Ibnu Majah, “Seseorang yang hatinya bersih, jujur, dan tidak menyimpan kebencian kepada siapa pun, itulah penghuni surga”,” tegasnya.
Menurutnya, memaafkan memang berat, tapi menyimpan dendam jauh lebih melelahkan. “Maka sebaiknya lepaskan saja, agar hidup lebih ringan mudah diampuni Allah atas dosa-dosa kita di masa lalu,” pungkasnya. (*Mega Marlina)

















