OPINI | BUDAYA
“Pada zaman dahulu kala, manusia belum mengenal bercocok tanam maupun menangkap ikan untuk pangan. Di masa itulah, Si Tomakappa dan To Malolo lahir dalam satu rahim namun dibesarkan di tempat yang berbeda,”
Oleh :Hasri Gandeng DP
JAUH sebelum masyarakat Mandar mengenal nasi dan ikan sebagai hidangan utama di atas dulang, sebuah kisah pilu tentang cinta, takdir, dan pengorbanan menyelimuti tanah Sulawesi Barat.
Kisah ini menceritakan tentang Si Tomakappa dan To Malolo, dua bersaudara yang terpisah sejak kecil namun dipertemukan kembali oleh garis nasib yang tragis.
Konon, pada zaman dahulu kala, manusia belum mengenal bercocok tanam maupun menangkap ikan untuk pangan. Di masa itulah, Si Tomakappa dan To Malolo lahir dalam satu rahim namun dibesarkan di tempat yang berbeda.
Berpuluh-puluh tahun lamanya mereka tak pernah bertatap muka, hingga waktu mengubah mereka menjadi sosok pria perkasa dan wanita yang jelita.
Pertemuan yang Menjadi Petaka
Tanpa mengetahui ikatan darah yang mengalir di tubuh mereka, takdir mempertemukan keduanya di sebuah persinggahan. Benih-benih cinta tumbuh begitu kuat. Singkat cerita, mereka memutuskan untuk menjalin hubungan serius dan berniat untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Namun, bak disambar petir di siang bolong, pengakuan jujur mereka kepada orang tua justru mengungkap tabir gelap. Restu yang mereka harapkan berubah menjadi isak tangis ketika orang tua mereka membeberkan kenyataan pahit: Si Tomakappa dan To Malolo adalah saudara kandung.
Petunjuk Sang Pemuka Agama
Dalam kebimbangan dan rasa sakit yang mendalam karena cinta terlarang tersebut, mereka mencari perlindungan dan petunjuk dari seorang pemuka agama setempat. Mereka bertanya, apakah ada cara bagi mereka untuk bisa bersatu selamanya tanpa melanggar hukum alam.
Pemuka agama tersebut memberikan sebuah jawaban yang menjadi cikal bakal kehidupan manusia di tanah Mandar. Ia berujar bahwa mereka tetap bisa bersatu, namun tidak lagi dalam wujud manusia.
“Kalian bisa bersatu, tetapi dengan cara satu di antara kalian harus menjadi ikan dan satunya harus menjadi padi. Di saat itulah, kalian akan saling melengkapi dan menyatu dalam kebermanfaatan bagi banyak orang,” demikian pesan sang pemuka agama.
Asal-Usul Kehidupan
Demi cinta yang tidak ingin terpisahkan, keduanya menerima takdir tersebut. Sang kakak, Si Tomakappa, menjelma menjadi padi yang tumbuh subur di bumi, sementara sang adik, To Malolo, menjelma menjadi ikan yang berenang bebas di lautan.
Hingga saat ini, masyarakat Mandar memercayai bahwa setiap kali nasi dan ikan dihidangkan bersama di dalam piring, itulah simbol pertemuan abadi antara Si Tomakappa dan To Malolo. Kisah ini bukan sekadar legenda, melainkan pengingat bagi generasi muda tentang pentingnya silsilah keluarga dan bagaimana alam menyediakan kehidupan dari sebuah pengorbanan. (**)
*Penulis Adalah Budayawan Muda Majene


















