Krisis Global dan Ilusi Kekuatan Kapitalisme

0
4
Ilustrasi/Net

OPINI POLITIK

“Negara berkembang seperti Indonesia makin terjepit, tergantung impor, rentan nilai tukar, dan dibebani utang. Kedaulatan ekonomi menjadi ilusi dalam sistem yang dikendalikan pihak luar,”

Oleh : Siti Komariah

ESKALASI konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada 2026 membongkar satu fakta penting: sistem global hari ini rapuh. Gangguan di Selat Hormuz saja mampu mengguncang ekonomi dunia, harga energi melonjak, inflasi naik, dan pasar bergejolak. Ini bukan krisis biasa, tapi kegagalan sistemik.

Kapitalisme global terbukti tidak melindungi rakyat saat krisis. Mekanisme pasar justru memperparah keadaan, harga naik, beban hidup meningkat, sementara keuntungan tetap mengalir ke pemilik modal. Sumber daya alam dikuasai korporasi, negara kehilangan kontrol, dan rakyat menanggung dampaknya. Inilah wajah kapitalisme: untung diprivatisasi, rugi disosialisasikan.

Negara berkembang seperti Indonesia makin terjepit, tergantung impor, rentan nilai tukar, dan dibebani utang. Kedaulatan ekonomi menjadi ilusi dalam sistem yang dikendalikan pihak luar.

Di tengah tekanan, Iran menunjukkan kemandirian itu mungkin. Dengan strategi “resistance economy”, ia bertahan melalui produksi domestik dan kemandirian strategis. Ini menegaskan, kekuatan sejati bukan sekadar ukuran ekonomi, tapi kemampuan lepas dari dominasi sistem global.

Namun pelajaran utamanya lebih besar, dunia Islam punya potensi raksasa, energi, jalur strategis, dan sumber daya namun terpecah oleh nasionalisme. Akibatnya, mereka tetap lemah, dieksploitasi, dan hanya jadi pasar.

Karena itu, persatuan umat bukan pilihan, tapi kebutuhan strategis. Tanpa itu, krisis akan terus berulang. Dengan persatuan, umat Islam bisa mengonsolidasikan kekuatan dan keluar dari ketergantungan.

Lebih dari sekadar persatuan, Islam memberikan sistem alternatif. Pengelolaan sumber daya oleh negara untuk rakyat, distribusi berbasis keadilan, bukan keuntungan. Ini bukan utopia, tapi solusi ideologis yang mampu mencegah krisis berulang.

Krisis hari ini adalah peringatan, sistem kapitalisme tampak kuat, tapi rapuh. Sebaliknya, Islam menawarkan fondasi kokoh. Akidah, syariah, dan persatuan. Pertanyaannya sekarang bukan apakah perubahan itu mungkin, tapi apakah umat siap keluar dari ketergantungan dan mengambil peran sebagai pengatur, bukan sekadar korban. (**)

*Penulis Adalah Pemerhati Isu Sosial dan Ekonomi Global