Pembinaan Ibu dan Generasi sebagai Kunci Perubahan Umat

0
37
Karin Kurniawan Spd/Foto : Ist.

OPINI | HUKUM | POLITIK

“Dalam sistem kapitalisme digitalisasi tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi namun juga berperan sebagai sarana penyebaran ideologi batil yaitu kapitalime itu sendiri,”

Oleh: Nada Navisya S. Pd

MESKI tahun telah berganti, agaknya belum tampak adanya perubahan pada generasi muda yang kini semakin mendominasi ruang sosial, ekonomi, dan budaya yang ada di negeri ini.

Seharusnya refleksi besar harus dilakukan, di tengah bonus demografi yang membuat optimis, ada bahaya yang mengintai generasi muda yang membuat pesimis.

Bagaimana tidak, melihat fakta bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, banyak dari mereka yang tumbuh dalam arus informasi yang bebas ala barat tanpa ada standar yang jelas.

Algoritma media sosial yang secara halus namun pasti telah membentuk pola pikir dan pola sikap liberal pada diri generasi muda saat ini. Alhasil, mereka menjadi generasi yang pragmatis, hedonis, mengejar standar kesuksesan ala barat yang membuat mereka lelah baik secara fisik maupun mental.

Tak ayal mereka sering dijuluki generasi stroberi, generasi rentan mental health, hingga generasi sandwich. Jelas julukan tersebut mencerminkan realitas sosial yang kompleks di mana generasi saat ini telah disibukkan untuk mencari materi sebanyak-banyaknya di tengah sistem yang rusak yang memaksa mereka sibuk mengejar standar sukses ala barat dan melupakan tujuan hidup yang sebenarnya.

Belum lagi adanya fenomena degradasi moral dan karakter pada generasi muda baik dipengaruhi oleh lingkungan maupun tontonan liberal yang mereka dapatkan dari banyaknya platform media sosial yang akhirnya membawa virus individualisme, bullying, sex bebas, narkoba dan nilai-nilai buruk lainnya yang membuat batas antara benar dan salah kian kabur.

Tentu tanpa pondasi nilai yang kuat dari keluarga, pendidikan karakter dan agama maka sekulerisme yang menggerogoti generasi muda akan berubah menjadi kanker ganas yang semakin lama akan memakan sel-sel baik dalam tubuh generasi muda saat ini.

Sayangnya, kondisi kaum ibu pun tak kalah memprihatinkan, mereka para ibu juga mengalami degradasi peran. Yang seharusnya mereka hanya menjadi ummun wa rabbatul bayt yaitu menjadi ibu yang mendidik generasi malah merangkap sebagai pencari nafkah. Mereka dipaksa oleh sistem kapitalisme untuk memikul dua peran besar sekaligus.

Akhirnya banyak dari kaum ibu yang harus mengorbankan peran pengasuhan yang membuat fungsi pendidikan dalam keluarga melemah, ibu sendiri mengalami kelelahan mental dan fisik yang tentu saja akan berdampak pada kualitas generasi yang dibesarkan.

Digitalisasi berada di bawah hegemoni Kapitalisme
Derasnya arus digitalasi hanya akan berdampak buruk jika berada di bawah hegemoni kapitaliseme sekuler. Dalam sistem kapitalisme digitalisasi tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi namun juga berperan sebagai sarana penyebaran ideologi batil yaitu kapitalime itu sendiri.

Melalui platform digital, nilai-nilai sekuler terus digeruskan, gaya hidup liberal wara-wiri di media sosial, belum lagi ide materialistik terus dipaparkan tidak peduli bagaimana cara mendapatkannya, baik dan buruk atau halal dan haram tidak menjadi standar. Bahkan negara kapitalime yang saat ini diterapakan membiarkan oknum pemilik modal membuat platform pinjol dan bebas mengiklannya di berbagai media sosial.

Berbagai konten pornografi dan pornoaksi seakan tak ada pembatasan bebas bisa diakses. Lagi-lagi hal ini merupakan keniscayaan dalam sistem kapitalisme, dimana ada keuntungan dan manfaat maka tidak peduli jika itu merusak dan merugikan masyarakat atau generasi saat ini.

Dibalik gencarnya hegomoni barat dalam menormalisasikan serta memproduksi nilai-nilai sekuler, liberal dan materialistik di berbagai media, dilain sisi umat terus dijauhkan dari pandangan hidup Islam bahkan berusaha untuk direduksi menjadi urusan personal semata. Belum lagi kriminalisasi yang dilakukan terhadap konten-konten yang membahas ide-ide Islam kaffah.

Inilah buah dari sekulerisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan, umat diarahkan untuk perihal agama itu hanya urusan individu, kondisi ini membuat umat khususnya generasi muda semakin jauh dari pandangan hidup dalam Islam kaffah. Selain itu tanpa disadari hal ini akan membentuk pola pikir dan pola sikap sekuler yang selaras dengan kepentingan sistem kapitalime, sebaliknya generasi semakin jauh dari kepribadian Islam.

Kapitalisme hanya memandang Ibu dan Generasi Muda sebagai objek komersial
Negara sekuler hanya memandang generasi muda dan kaum ibu sebagai objek komersial. Orientasi generasi muda diarahkan untuk menjadi budak korporat dan juga menjadi pasar potensial dalam industri hiburan teknologi dan gaya hidup.

Dilain sisi kaum ibu diposisikan sebagai objek untuk meningkatkan ekonomi. Negara dengan penerapan sistem kapitalisme tidak memandang generasi pemuda dan kaum ibu sebagai subjek pembangun peradaban.

Penerapan asas sekulerisme kapitalisme dalam seluruh aspek kehidupan bernegara merupakan akar dari seluruh problematika umat, terutama Ibu dan generasi. Dalam sistem kapitalisme sekuler, pendidikannya sekuler sehingga output yang dihasilkan jauh dari misi penciptaan manusia.

Ekonominya ala kapitalisme yang kepemilikan umum dapat dikuasai oleh individu yang memiliki modal alhasil SDA yang seharusnya milik umum dapat diprivatisasi oleh individu yang menyebabkan uang hanya berputar di kalangan orang kaya saja. Belum lagi sistem pemerintahannya dimana kedaulatan ada di tangan manusia dimana manusia dapat bebas membuat aturan.

Manusia disini adalah para penguasa dan pemilik modal yang kongkalikong untuk membuat kebijakan yang menguntungkan mereka. Agama hanya muncul saat pemilu saja setelah itu agama akan dibatasi pada ranah privat saja.

Ibu dan Generasi muda butuh solusi tuntas
Realitas kehidupan saat ini yang dikendalikan oleh sistem kapitalisme, keberadaan jamaah dakwah Islam Ideologis menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.

Jaamah inilah yang akan membina kaum ibu dan generasi muda agar mereka tahu bagaimana cara agar terlepas dari virus kapitalisme sekulerisme.

Allah SWT berfirman QS. Ali Imran: 104 yang artinya ” Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Pada ayat tersebut Allah SWT jelas memerintahkan orang mukmin agar mereka berdakwah, dan ini menjadi landasan kuat kewajiban bagi setiap individu untuk mengkaji Islam dan berdakwah. Juga merupakan kewajiban untuk jamaah Islam yang memiliki visi ideologis dan tujuan perubahan sistemik.

Jamaah inilah yang akan membina ibu dan generasi muda agar memiliki kepribadian Islam yaitu pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan landasan akidah Islam.

Hal ini juga telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Rasul dulunya telah membentuk jamaah dakwah untuk membina umat yang pada saat itu masih terdiri dari para sahabat yang pertama kali masuk Islam di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam dengan Islam Ideologis.

Begitu juga dengan ibu dan generasi muda, Rasulullah menyiapkan mereka menjadi pelopor peradaban yang membela dan mengemban Islam kaffah. Pembinaan (tatsqif) merupakan tahapan awal metode dakwah Rasulullah di fase Makkah, yang kemudian dilanjutkan dengan interaksi dengan umat (tafa’ul ma’al ummah) dan berakhir pada (istilakmul hukmi) penyerahan kekuasaan untuk menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan.

Oleh karena itu, sudah saatnya generasi muda dan kaum ibu meninggalkan sistem kapitalisme yang telah gagal memberikan ketenangan, keadlilan dan kemulian dalam hidup. Sudah saatnya bergabung dengan jamaah dakwah dan terlibat aktif untuk mengambil peran strategis dalam memperjuangkan penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu’alam. (**)

*Penulis Adalah Aktivis Dakwah Muslimah