Banjir Melanda, Bagaimana Menurut Islam

0
72
Saimariah Harahap/Foto : Ist.

OPINI | POLITIK

“Banjir ini tidak sepenuhnya disebabkan hujan lebat. Banjir bisa terjadi karena perubahan lingkungan oleh aktivitas manusia yang mana sebelumnya mempunyai lingkungan hidup yang bagus tanpa merusak lingkungan alamnya,”

Oleh : Saimariah Harahap

BANJIR kembali datang melanda warga Jakarta di pertengahan 2025. Ratusan RT di Jakarta terendam hingga membuat ratusan warga mengungsi. Jakarta dikepung banjir sejak Minggu.

Hujan deras yang mengguyur sejak siang menjadi salah satu faktor yang mendorong terjadinya banjir. Namun curah hujan tinggi bukan satu-satunya penyebab yang membuat banjir merendam Jakarta, dikutip dari detikNews ( 6/7/2025 ).

Hujan lebat mengguyur wilayah Kota Jakarta, ratusan rumah terendam banjir. Air merendam permukiman karena curah hujan tinggi dan luapan Kali Sunter. Ketinggian air di Jakarta Timur 30-70 sentimeter.

Banjir hingga saat ini masih menjadi permasalahan di berbagai wilayah tertentu termasuk wilayah Kota Jakarta. Banjir ini tidak sepenuhnya disebabkan hujan lebat. Banjir bisa terjadi karena perubahan lingkungan oleh aktivitas manusia yang mana sebelumnya mempunyai lingkungan hidup yang bagus tanpa merusak lingkungan alamnya.

Bencana banjir ini terjadi karena faktor alam termasuk derasnya hujan dan adanya pasang naiknya air laut yang menyebabkan banjir. Disamping itu juga disebabkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, yaitu seperti pembangunan lahan bangunan yang tidak pas pada tempatnya , membuang sampah kedalam sungai, dan penebangan hutan untuk kepentingan sendiri tanpa memikirkan sebab akibatnya.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa hutan yang dulunya asri sekarang sudah mulai gundul disebabkan ulah para penguasa negara ini, pemerintah tidak mempertimbangkan apa yang akan terjadi bila penggundulan hutan ini dilakukan.

Mereka hanya memikirkan bagaimana caranya agar sumber daya alam di negara ini bisa diperoleh dan diimpor sehingga bisa menghasilkan uang yang fantastik.

Sumber daya alam di negara ini sudah mulai rusak, pengundulan hutan, pengerukan tambang terjadi di berbagai wilayah bahkan laut yang penuh keindahan pun sudah mulai dirusak oleh ulah para penguasa.

Hidup di era sistem kapitalisme ini sudah tidak heran lagi dengan aturan dan pola pemikiran pemerintah disaat ini, para pemimpin sekarang ini hanya mau untung, tidak mau merasakan rugi atas setiap tindakan perbuatan yang mereka perbuat untuk negara ini.

Menjaga dan melestarikan lingkungan merupakan ruang hidup bersama oleh karena kita diwajibkan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan tanpa merusak alam secara langsung, sebagai mana Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 205 :
Artinya: “Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan,”.

Maka jika terjadi musibah banjir ini meraka hanya mengatakan ini diakibatkan karena curah hujan yang lebat dan uapan air laut sehingga mengakibatkan banjir. Masyarakat sudah mulai muak melihat kinerja pemerintah sekarang, warga merasa bahwa pemerintah tidak pernah serius dalam penanganan banjir.

Pemerintah hanya memberikan saran yaitu untuk sementara mengungsi ketempat yang tidak terkena banjir alih-alih itu yang selalu keluar dari mereka, tanpa memberi solusi atau bantuan kepada korban banjir. Penguasa di sistem Kapitalisme ini, berperan sebagai kelompok yang akan memuluskan akal bulus para pemilik modal. Penguasa di sistem ini berkolaborasi mutualisme dengan si pemilik modal untuk menyengsarakan rakyat.

Sebagai mana Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 41: ” Telah nampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia”.. ( TQS. Ar-Rum: 41)

Sedangkan didalam sistem Islam untuk penanganan banjir pada masa Khilafah Islamiyah mencakup upaya preventif dan kuratif, dengan menekankan pada pembangunan infrastruktur seperti bendungan dan sistem drainase, serta pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Selain itu, terdapat juga penekanan pada kesadaran masyarakat dan tanggap darurat dalam menghadapi banjir.

Tujuan utama pembangunan bendungan adalah untuk mencegah banjir bandang. Sedangkan tujuan sekundernya adalah untuk kepentingan pertanian maupun peternakan. Dan untuk menghindari banjir ini agar tidak terulang lagi maka dihimbau para masyarakat harus berusaha untuk menjaga kebersihan tidak membuang sampah kedalam sungai dan senantiasa menjaga kebersihan lingkungan setempat.

Jika tidak memungkinkan, maka khilafah akan memerintahkan kepada penduduk setempat untuk diungsikan ketempat yang tidak terkena banjir dan bahkan khilafah akan memberi ganti rugi kepada penduduk yang terkena musibah secara berkala, begitu lah hidup di zaman khilafah yang mana para pemimpinnya sangat memperhatikan dan peduli terhadap rakyatnya tanpa membeda-bedakan rakyatnya.

Solusi atas setiap bancana yang kita hadapi sekarang itu semuanya ada di sistem aturan Islam, yang mana di sistem Islam setiap pembangunan atau proyek yang akan dilakukan itu terlebih dulu meninjau lokasi yang akan dibangun, karena pembangunan suatu proyek, Islam tidak mau ada rakyat yang terdampak dari proyek yang akan dilakukan itu. Begitulah Islam sangat mementingkan kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat. Wallahu’alam. (**)

*Penulis Adalah Aktivis Dakwah