OPINI | POLITIK
“Bahkan sampai saat ini masih banyak korban banjir yang belum mendapatkan atau menerima bantuan, kerena jarak atau jalan menuju ketempat bencana tersebut belum ditemukan jalannya,”
Oleh : Saimariah Harahap
BADAN Nasional Penanggulangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat bertambah menjadi 961 jiwa per pukul 16.00 WIB, Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Abdul Muhari mengatakan tim SAR gabungan menemukan 40 jenazah korban bencana di sejumlah wilayah pada hari ini.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam rapat terbatas kemarin, Minggu (7/12), total korban meninggal dunia sebanyak 921 orang, korban hilang 392 orang, dan pengungsi di tiga provinsi mencapai 975.000 jiwa.

Tim pencarian dan pertolongan yang dipimpin Basarnas, didukung tim gabungan itu berhasil menemukan 40 jenazah dengan rincian untuk Aceh bertambah 23, dari 366, hari ini menjadi 389 jiwa meninggal dunia. Kemudian untuk Sumatra Utara, dari 329 jasad yang sudah ditemukan, hari ini bertambah 9 menjadi 338 jiwa meninggal dunia. Selanjutnya untuk Sumbar kemarin 226 jiwa, hari ini bertambah 8 jasad yang ditemukan menjadi 234 jiwa,” kata Muhari dalam jumpa pers yang disiarkan YouTube BNPB. Dilansir CNN Indonesia, Senin (8/12/2025).
Akhir November tahun 2025 Sumatera berduka atas banjir besar yang melanda tiga provinsi yaitu : Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh. Hujan deras yang tiada hentinya sampai beberapa hari sehingga dapat mengubah air sungai yang biasanya tenang dan menjadi arus liar yang meluluhlantakan permukiman warga.Banjir bandang dan tanah longsor itu telah menenggelamkan beberapa desa, merusak fasilitas umum, memutus akses listrik dan jalan.
Sehingga untuk mendapatkan informasi sudah tidak bisa lagi. Sehingga situasi semakin buruk dari hari ke hari. Bahkan sampai saat ini masih banyak korban banjir yang belum mendapatkan atau menerima bantuan, kerena jarak atau jalan menuju ketempat bencana tersebut belum ditemukan jalannya.
Banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat ini dipicu siklon tropis Senyar terjadi pada 25-27 November 2025. Banjir bandang membawa gelondongan kayu, batu dan lumpur menghantam permukiman warga. Tapi, di sisi lain warga masih bertanya-tanya, apa benar jika banjir ini disebabkan kerana curah hujan yang deras ?, masa iya hujan bisa menebang pohon begitu banyak dan juga rapi?
Bahkan saat ini masih banyak daerah yang belum terisolir. Masih banyak mayat bergeletakan, hewan yang sudah membusuk akibat terkubur lumpur, longsor bangunan dan gelondongan kayu. Dan bahkan ada warga yang menghimbau bahwa mereka tidak butuh bantuan seperti pakaian karena yg mereka butuhkan kain kafan. Mereka sudah mulai putus asa disebkan tidak adanya bantuan dari pemerintah.
Banjir dan longsor ini disebabkan penebangan liar atau ilegal logging di hutan-hutan Sumatera secara besar-besaran yang dicurigai menjadi penyebab deforestasi. Karena begitu banyak hanyutnya ribuan batang pohon yang terbawa arus banjir yang menjadikan bukti kuat aksi pembalakan liar berjalan di kawasan Sumatera.
Bahkan sampai hari ini bencana banjir dan longsor yang terjadi di tiga provinsi di Sumatera masih belum dinyatakan sebagai bencana nasional. Apalagi pada awal terjadi bencana, pihak BNPB menyatakan tragedi banjir itu hanya mencekam di medsos. Padahal sudah jelas bencana yang terjadi di tiga pulau Sumatera ini sudah sampai luar negara.
Hancurnya hutan di tanah air disebabkan oleh kebijakan negara yang menyimpang dari syariah Islam. Seperti yang diketahui bahwa negara telah bekerjasama dengan para penguasa asing untuk pertambangan, penebangan dan pembukaan lahan perkebunan sawit. WALHI Sumatera Utara menyebutkan tujuh perusahaan berkontribusi pada bencana ekologis yang melanda kawasan Tapanuli, termasuk banjir dan longsor.
Maka dari itu, bencana yang menimpa penduduk Sumatera bukan hanya karena fenomena alam, tetapi sebab kebijakan kapitalistik yang keji. Kerakusan para penguasa dan para pemimpin dinegara ini, para penguasa menebang hutan liar tanpa memikirkan sebab akibat apabila hutan liar ditebang apa yang akan terjadi. Mereka hanya memikirkan uang dan keuntungan demi mengumpulkan pundi-pundi kekayaan.
Di dalam Islam ada tiga kepemilikan umum yang haram dikuasai oleh perorangan atau swasta. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda:
“Muslim berserikat dalam tiga perkara yakni Padang rumput , air, dan api”. (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Dalam hal ini negara atau khilafah lah yang mengelolah pertambangan dan hutan. Seluruh hasil dan manfaat dari pertambangan dan hutan akan diberikan kepada rakyat, karena rakyat berhak memiliki dan menikmati hasilnya, bukan dibuat menjadi milik pribadi bahkan diperjual belikan ke penguasa asing.
Di dalam Islam sudah ditegaskan larangan untuk merusak lingkungan dan pentingnya menjaga bumi agar tidak menjadi bencana bagi umat manusia.
Sebagaimana firman Allah SWT didalam Al-Qur’an :
“Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) Syu’aib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman.” (Al-A’raf ayat 85)
Ayat ini menegaskan bahwa pentingnya menjaga bumi ini, karena Allah SWT telah menghiasa bumi ini begitu indah dan banyak nikmat, maka dari itu kita sebagai umatnya harus bisa menjaganya dengan baik bukan malah merusak nya, karena sesungguhnya Allah SWT sangat membenci orang-orang yang melakukan kerusakan dimuka bumi ini.
Bencana banjir dan longsor yang terjadi dipulau Sumatera ini sebagai pengingat keras bagi seluruh umat manusia, merusak alam bukan hanya dosa, akan tetapi bisa mendatangkan bala bencaa yang begitu dahsyat.Sebagai manusia mari menekankan sebagai khilafah yang bisa menjaga bumi ini sesuai dengan perintahnya bukan malah sebaliknya akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat bertambah menjadi 961 jiwa per pukul 16.00 WIB, Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Abdul Muhari mengatakan tim SAR gabungan menemukan 40 jenazah korban bencana di sejumlah wilayah pada hari ini.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam rapat terbatas kemarin, Minggu (7/12), total korban meninggal dunia sebanyak 921 orang, korban hilang 392 orang, dan pengungsi di tiga provinsi mencapai 975.000 jiwa.
Tim pencarian dan pertolongan yang dipimpin Basarnas, didukung tim gabungan itu berhasil menemukan 40 jenazah dengan rincian untuk Aceh bertambah 23, dari 366, hari ini menjadi 389 jiwa meninggal dunia. Kemudian untuk Sumatra Utara, dari 329 jasad yang sudah ditemukan, hari ini bertambah 9 menjadi 338 jiwa meninggal dunia. Selanjutnya untuk Sumbar kemarin 226 jiwa, hari ini bertambah 8 jasad yang ditemukan menjadi 234 jiwa,” kata Muhari dalam jumpa pers yang disiarkan YouTube BNPB. Dilansir CNN Indonesia, Senin ( 8/12/2025 ).
Akhir November tahun 2025 Sumatera berduka atas banjir besar yang melanda tiga provinsi yaitu: Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh. Hujan deras yang tiada hentinya sampai beberapa hari sehingga dapat mengubah air sungai yang biasanya tenang dan menjadi arus liar yang meluluhlantakan permukiman warga.Banjir bandang dan tanah longsor itu telah menenggelamkan beberapa desa, merusak fasilitas umum, memutus akses listrik dan jalan. Sehingga untuk mendapatkan informasi sudah tidak bisa lagi.
Sehingga situasi semakin buruk dari hari ke hari. Bahkan sampai saat ini masih banyak korban banjir yang belum mendapatkan atau menerima bantuan, kerena jarak atau jalan menuju ketempat bencana tersebut belum ditemukan jalannya.
Banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat ini dipicu siklon tropis Senyar terjadi pada 25-27 November 2025. Banjir bandang membawa gelondongan kayu, batu dan lumpur menghantam permukiman warga.
Tapi, di sisi lain warga masih bertanya-tanya, apa benar jika banjir ini disebabkan kerana curah hujan yang deras ?, masa iya hujan bisa menebang pohon begitu banyak dan juga rapi?
Bahkan saat ini masih banyak daerah yang belum terisolir. Masih banyak mayat bergeletakan, hewan yang sudah membusuk akibat terkubur lumpur, longsor bangunan dan gelondongan kayu. Dan bahkan ada warga yang menghimbau bahwa mereka tidak butuh bantuan seperti pakaian karena yg mereka butuhkan kain kafan. Mereka sudah mulai putus asa disebkan tidak adanya bantuan dari pemerintah.
Banjir dan longsor ini disebabkan penebangan liar atau ilegal logging di hutan-hutan Sumatera secara besar-besaran yang dicurigai menjadi penyebab deforestasi. Karena begitu banyak hanyutnya ribuan batang pohon yang terbawa arus banjir yang menjadikan bukti kuat aksi pembalakan liar berjalan di kawasan Sumatera.
Bahkan sampai hari ini bencana banjir dan longsor yang terjadi di tiga provinsi di Sumatera masih belum dinyatakan sebagai bencana nasional. Apalagi pada awal terjadi bencana, pihak BNPB menyatakan tragedi banjir itu hanya mencekam di medsos. Padahal sudah jelas bencana yang terjadi di tiga pulau Sumatera ini sudah sampai luar negara.
Hancurnya hutan di tanah air disebabkan oleh kebijakan negara yang menyimpang dari syariah Islam. Seperti yang diketahui bahwa negara telah bekerjasama dengan para penguasa asing untuk pertambangan, penebangan dan pembukaan lahan perkebunan sawit. WALHI Sumatera Utara menyebutkan tujuh perusahaan berkontribusi pada bencana ekologis yang melanda kawasan Tapanuli, termasuk banjir dan longsor.
Maka dari itu, bencana yang menimpa penduduk Sumatera bukan hanya karena fenomena alam, tetapi sebab kebijakan kapitalistik yang keji. Kerakusan para penguasa dan para pemimpin dinegara ini, para penguasa menebang hutan liar tanpa memikirkan sebab akibat apabila hutan liar ditebang apa yang akan terjadi. Mereka hanya memikirkan uang dan keuntungan demi mengumpulkan pundi-pundi kekayaan.
Di dalam Islam ada tiga kepemilikan umum yang haram dikuasai oleh perorangan atau swasta. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda:
“Muslim berserikat dalam tiga perkara yakni Padang rumput , air, dan api”. (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Dalam hal ini negara atau khilafah lah yang mengelolah pertambangan dan hutan. Seluruh hasil dan manfaat dari pertambangan dan hutan akan diberikan kepada rakyat, karena rakyat berhak memiliki dan menikmati hasilnya, bukan dibuat menjadi milik pribadi bahkan diperjual belikan ke penguasa asing. Di dalam Islam sudah ditegaskan larangan untuk merusak lingkungan dan pentingnya menjaga bumi agar tidak menjadi bencana bagi umat manusia.
Bencana banjir dan longsor yang terjadi dipulau Sumatera ini sebagai pengingat keras bagi seluruh umat manusia, merusak alam bukan hanya dosa, akan tetapi bisa mendatangkan bala bencaa yang begitu dahsyat.Sebagai manusia mari menekankan sebagai khilafah yang bisa menjaga bumi ini sesuai dengan perintahnya bukan malah sebaliknya. WalLaahu a’lam bi ash-shawaab. (**)
*Penulis Adalah Aktivis Muslimah


















