Bencana Usai, Derita Pendidikan Masih Berlanjut

0
12
Foto : Dok.Antara

OPINI | EDUKASI | POLITIK

“Kondisi ruang kelas yang rusak, sarana belajar yang belum pulih, serta lingkungan sekolah yang belum aman membuat proses pembelajaran berjalan dalam keterbatasan,”

Oleh : Nafiisah Mumtazah

BENCANA alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera memang telah berlalu. Aktivitas masyarakat perlahan kembali berjalan, termasuk kegiatan belajar mengajar disebagian sekolah terdampak. Namun dibalik itu, persoalan pendidikan pasca bencana masih menyisahkan masalah serius yang belum sepenuhnya tertangani.

Meski banyak sekolah terdampak bencana di Sumatera mulai aktif kembali, ratusan sekolah di Aceh Utara dilaporkan masih berlumpur dan belum sepenuhnya layak digunakan kembali. Kondisi ruang kelas yang rusak, sarana belajar yang belum pulih, serta lingkungan sekolah yang belum aman membuat proses pembelajaran berjalan dalam keterbatasan.

Nafiisah Mumtazah

Berdasarkan laporan Detik.com, Kementrian Pendidikan mencatat ribuan sekolah di wilayah Sumatera terdampak banjir dan longsor, dengan sebagian masih dalam tahap pembersihan dan rehabilitasi ( Detik.com, Januari 2026).

Kondisi memprihatinkan juga dialami lembaga pendidikan Islam. Di Aceh Timur, sekitar 120 pesantrren serta puluhan balai pengajian dilaporkan rusak akibat banjir bandang. Kerusakan tersebut mencakup ruang belajar, asrama santri, hingga fasilitas ibadah. Hal ini menyebabkan aktivitas pendidikan dan pembinaan akidah santri terganggu ( Antara Aceh, Januari 2026).

Kerusakan fasilitas pendidikan tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan teknis semata. Pemulihan ratusan sekolah dan pesantren yang rusak akibat bencana merupakan tanggungjawab Negara. Beban ini tidak boleh dialihkan kepada masyarakat yang juga tengah berjuang memulihkan kehidupan mereka pasca bencana. Pendidikan adalah hak dasar setiap anak dan kewajiban Negara menjaminnya, sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi.

Selain pemulihan fisik dan bangunan, Negara juga harus menjamin keberlangsungan pendidikan anak-anak korban bencana secara menyeulruh. Anak-anak yang terdampak tidak hanya kehilangan ruang belajar, tetapi juga menghadapi trauma dan tekanan psikologis. Menurut berbagai laporan kemanusiaan, pemulihan mental dan psikososial merupakan bagian penting dari pendidikan darurat pasca bencana, namun sering kali kurang mendapat perhatian.

Dalam konteks ini, peran sekolah dan pesantren menjadi sangat penting. Lembaga pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu, tetapi juga sebagai ruang pembentukan akidah, akhlak, dan kesadaran hidup. Pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam menanamkan pemahaman bahwa manusia adalah khalifah dimuka bumi, yang bertanggungjawab menjaga alam dan kehidupan, bukan merusaknya hingga memicu bencana terulang.

Islam sendiri mewajibkan Negara untuk menjamin pendidikan gratis bagi selutruh warga Negara. Sisrtem pendidikan Islam berbasis aqidah bertujuan membentuk peserta didik yang memiliki kepribadian Islam- berpikir dan bertindak sesuai nilai-nilai kebenaran. Karena itu, pemulihan sekolah dan pesantren pasca bencana tidak boleh ditunda, agar proses pendidikan dan pembinaan generasi tidak terhenti.

Bencana yang berulang seharusnya menjadi pengingat bahwa ada aturan kehidupan yang selama ini diabaikan. Pendidikan yang tertinggal pascabencana bukan sekedar akibat alam, tetapi cermin dari sistem yang belum menempatkan amanah Allah sebagai landasan. Selama pendidikan hanya dipandang sebagai urursan teknis dan bukan kewajiban syar’i yang dijamin Negara, maka derita serupa akan terus berulang.

Islam telah memberi arah yang jelas. Negara wajib menjamin pendidikan bagi seluruh rakyatnya tanpa terkecuali, dengan sistem yang membentuk akidah, akhlak, dan tanggungjawab manusia sebagai khalifah di bumi. Pendidikan Islam bukan hanya untuk mencetak generasi cerdas, tetapi generasi yang sadar amanah, menjaga alam dan menegakkan keadilan dalam kehidupan.

Karena itu, pemulihan sekolah dan pesantren pasca bencana harus menjadi bagian dari penerapan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan. Inilah saatnya umat dan Negara kembali menjadikan islam sebagai pedoman, bukan sekedar symbol. Dengan penerapan Islam yang kaffah, pendidikan akan benar-benar menjadi sarana melahirkan generasi khoiru ummah – generasi yang beriman , berilmu, dan siap membawa rahmat bagi seluruh alam. Allahuakbar! (**)

*Penulis Adalah Aktivis Dakwah