Daging Ayam Ras dan Cabai Merah Mendorong IPH Sinjai jadi Tertinggi di Sulsel

0
141
Pegawai BPS Sinjai memantau harga konsumen di pasar rakyat

OPINI | EKONOMI

“Pergerakan harga antarkabupaten di Sulsel masih sangat dipengaruhi komoditas pangan strategis, seperti beras dan cabai. Kenaikan IPH di Sinjai menunjukkan masih adanya tekanan dari sisi pasokan pada beberapa komoditas konsumsi utama rumah tangga,”

Sinjai | SULSEL | Lapan6Online : Kabupaten Sinjai mencatat kenaikan tertinggi Indeks Perkembangan Harga (IPH) di Sulawesi Selatan pada pekan pertama Oktober 2025.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) RI yang diolah dari Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SPPKP) Kementerian Perdagangan, IPH Sinjai naik sebesar 1,27 persen, menjadi yang tertinggi di antara 14 kabupaten/kota pemantauan di provinsi ini.

Kepala BPS Kabupaten Sinjai pada Senin (6/10/2025), mengatakan kenaikan harga daging ayam ras, cabai merah dan telur ayam ras menjadi penyumbang utama peningkatan IPH di wilayahnya.

“Komoditas yang memberikan andil besar terhadap kenaikan IPH Sinjai pekan ini adalah daging ayam ras sebesar 1,524 poin, cabai merah 0,909 poin dan telur ayam ras 0,0568 poin. Ini menunjukkan tekanan harga terutama dari bahan pangan segar,” ujar Syamsuddin.

Sumber: BPS dari PPKP Kemendag

Dari tabel pemantauan, komoditas yang mengalami fluktuasi harga tertinggi selama pekan berjalan di Sinjai adalah beras, menandakan dinamika pasokan dan permintaan beras yang masih tinggi di pasar tradisional.

Jeneponto menyusul dengan IPH 0,75 persen dan Luwu Utara 0,54 persen. Keduanya juga didorong kenaikan harga bahan pangan, terutama udang basah, minyak goreng dan daging ayam ras.

Sebaliknya, beberapa daerah lain mengalami penurunan IPH. Penurunan terdalam terjadi di Takalar (-3,75 persen), diikuti Barru (-2,18 persen) dan Toraja Utara (-1,11 persen). Di daerah-daerah ini, penurunan harga beras menjadi faktor utama turunnya IPH.

“Pergerakan harga antarkabupaten di Sulsel masih sangat dipengaruhi komoditas pangan strategis, seperti beras dan cabai. Kenaikan IPH di Sinjai menunjukkan masih adanya tekanan dari sisi pasokan pada beberapa komoditas konsumsi utama rumah tangga,” tambah Kepala BPS Sinjai.

Data BPS juga menunjukkan fluktuasi harga paling tinggi (koefisien variasi) di Takalar 0,220588, yang dipicu perubahan harga cabai rawit. Adapun fluktuasi terendah tercatat di Enrekang 0,000946, menunjukkan stabilitas relatif harga bahan pokok di daerah tersebut.

BPS menegaskan pemantauan IPH menjadi indikator penting untuk membaca arah pergerakan harga pangan dan daya beli masyarakat di kabupaten. Data IPH pekanan menjadi bahan analisis bagi tim pengendali inflasi daerah, dalam menjaga kestabilan harga dan pasokan menjelang momentum akhir tahun.

*Pewarta : Amrullah Andi Faisal