GREY Rilis Single Baru “LET IT BLEED” : Berani Merasa, Meski Harus Terluka Karenanya

0
28

INTERMEZZO

“Terdapat pula sentuhan penyangkalan dan keputusasaan yang bercampur dengan keinginan untuk bertahan, meski menyadari bahwa segalanya mungkin sudah terlambat,”

Malang | JAWA TIMUR | Lapan6Online : Unit emo/alternative asal Kota Batu, Malang, Jawa Timur, Grey, resmi merilis single terbaru mereka berjudul “Let It Bleed” di bawah label independen Haum Entertainment.

Lagu ini menyuarakan pergolakan batin antara hasrat untuk membuka diri dan ketakutan akan luka, pengkhianatan, serta kehilangan. Dengan pendekatan lirik yang mentah dan aransemen yang rapat, Grey menciptakan lanskap emosional yang intens dan reflektif.

“Let It Bleed” membawa pendengar ke dalam konflik batin yang berulang, di mana frasa seperti “let it bleed” dan “should it pass or should I trust?” menjadi semacam mantra dalam menghadapi ketidakpastian dan trauma.

GREY digawangi oleh ; Ivan Fadhilah, Andrian Adianto, Farkhan Ghani, Fildzany Wildan, dan Reyhan Rahendra/Foto : Ist.

“Di lagu ‘Let It Bleed’, kami mencoba menangkap momen ketika seseorang berada di ambang kepercayaan dan ketakutan. Ada dorongan untuk membuka diri, tapi di saat yang sama muncul kecemasan akan dikhianati atau ditinggalkan. Keterbukaan itu juga beriringan dengan potensi untuk terluka, sesakit luka fisik yang berdarah,” jelas Ivan kepada awak media, pada Jum’at (01/08/2025).

Lagu ini memotret perasaan penyangkalan, keputusasaan, hingga kerinduan untuk tetap bertahan meski tahu semuanya mungkin sudah terlambat.

“Frasa berulang seperti “let it bleed” dan “should it pass or should I trust?” mencerminkan dilema antara membebaskan emosi yang terpendam, merangkul kerentanan, atau justru menyerah pada keadaan. Terdapat pula sentuhan penyangkalan dan keputusasaan yang bercampur dengan keinginan untuk bertahan, meski menyadari bahwa segalanya mungkin sudah terlambat,” tambah Ivan.

Lirik ditulis oleh Ivan Fadhilah sang vokalis, sementara proses aransemen digarap kolektif oleh Ivan Fadhilah, Andrian Adianto, Farkhan Ghani, Fildzany Wildan, dan Reyhan Rahendra. Proses produksi dilakukan di berbagai tempat: drum direkam di Move Records, vokal di Haum Studio, serta gitar dan bass di KLNX House. Mixing dan mastering ditangani oleh Satrio Utomo dari Griffin Studio, menghasilkan audio yang kuat namun tetap menyimpan atmosfer penuh kepedihan dari isi lagunya. (*Rls/B@ms)