Jembatan Sejarah di Majene, Pertemuan Haru Dua Pejuang “Bunglon” dan Kompi 1 Sulemana, Wariskan Api Perjuangan Untuk Gen Z

0
202
PROFILE
“Pertemuan ini bukan sekadar nostalgia keluarga, melainkan simbol kuatnya jembatan sejarah yang menghubungkan nilai-nilai pengorbanan masa lalu dengan tantangan bangsa di masa depan,”
Pamboang | Majene | SULBAR | Lapan6Online : Sebuah momen langka yang sarat emosi dan nilai sejarah terjadi di Kelurahan Lalampanua, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene pada Selasa (14/04/2026).
Dua sosok saksi hidup perjuangan kemerdekaan, Gandeng Bin Patarai (103) dan Camo’ing (90-an), bertemu kembali untuk merajut ingatan kolektif tentang perlawanan mengusir penjajah Belanda di tanah Mandar.
Pertemuan ini bukan sekadar nostalgia keluarga, melainkan simbol kuatnya jembatan sejarah yang menghubungkan nilai-nilai pengorbanan masa lalu dengan tantangan bangsa di masa depan. Meskipun keduanya tidak mengejar tanda jasa formal, rekam jejak mereka di medan tempur menjadi bukti nyata dedikasi tanpa pamrih bagi kedaulatan NKRI.
Taktik “Bunglon” dan Keberanian Kompi 1
Gandeng Bin Patarai (Daeng pawuang), yang kini berusia melampaui satu abad, mengenang masa-masa bergerilya di kedalaman hutan benteng Adolang.
Dengan gaya “Bunglon” yang legendaris—taktik kamuflase dan infiltrasi yang cerdik—beliau berjuang bersama tokoh-tokoh besar seperti Kapiten Pattimura, Puanna Isuddin, Ammana Iwewang, Ammana Pattola Wali, hingga Sauda. Keahliannya mengecoh lawan di medan yang sulit menjadi kunci keberhasilan operasi-operasi gerilya pada masanya.
Di sisi lain, Camo’ing, veteran dari Pasukan Kompi 1 Sulemana, membawa cerita tentang keberanian militer yang taktis.
Beliau mengisahkan bagaimana pasukannya melakukan penghadangan di jalur-jalur strategis yang dilewati tentara Belanda. Strategi “cegah jalan” ini tidak hanya melumpuhkan pergerakan lawan, tetapi juga berhasil merebut senjata musuh untuk memperkuat persenjataan pejuang lokal yang kala itu sangat terbatas.
Ikatan Darah dan Semangat Perjuangan
Selain ikatan seperjuangan, keduanya ternyata memiliki hubungan kekerabatan yang erat. Camo’ing merupakan menantu dari tokoh pejuang Aco Pocer Daenna Maniara, sementara Gandeng adalah keponakan sepupu dari tokoh yang sama.
Pertemuan yang berlangsung di Tadzuang ini diwarnai isak tangis haru saat keduanya saling bertukar cerita tentang kawan-kawan seperjuangan yang telah gugur.
Pesan untuk Generasi Z
Pertemuan ini mengirimkan pesan kuat bagi Generasi Z (Gen Z). Di tengah gempuran era digital, semangat pantang menyerah dan kemampuan adaptasi (seperti gaya “Bunglon” Gandeng) serta ketegasan sikap (seperti taktik Kompi 1 Camo’ing) adalah relevansi yang harus diambil oleh pemuda masa kini.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Melihat beliau berdua, kita belajar bahwa kontribusi untuk negara tidak selalu tentang pengakuan atau tanda jasa, tapi tentang apa yang bisa kita berikan saat negara membutuhkan,” ujar salah satu perwakilan keluarga di lokasi.
Momen bersejarah di Pamboang ini diharapkan mampu memicu semangat patriotisme baru bagi generasi muda di Sulawesi Barat dan Indonesia pada umumnya untuk terus berkontribusi mengisi kemerdekaan dengan karya dan inovasi. (*HGDP/Lpn6)