OPINI | POLITIK | HUKUM | MANCANEGARA
“Sejarah membuktikan, penjajahan tidak pernah berakhir hanya dengan diplomasi dan doa, melainkan melalui perjuangan jihad yang terorganisir. Dan juga edukasi massif menjadi kunci kesadaran umat, dimana umat wajib menyebarkan narasi bahwa Palestina adalah isu akidah, bukan sekedar kemanusiaan,”
Oleh : Selvi Safitri
SERANGAN brutal Israel kembali menarget jurnalis dan tenaga medis di Gaza. Pada 25 Agustus 2025, Rumah Sakit Nasser di Khan Younis dihantam dua kali serangan.
Serangan pertama mengenai lantai atas, menewaskan juru kamera Reuters, Hussam al- Masri, saat tengah menyiarkan secara langsung ( Reuters, 25-08-2025 ). Serangan kedua menyasar tangga luar, tempat berkumpulnya jurnalis, tim medis, dan relawan penyelamat.
Akibatnya, 20 – 22 orang tewas, termasuk 5 jurnalis dari Reuters, Associated Press, dan Al Jazeera ( AP News, 25 – 08 – 2025 ). Sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, lebih dari 240 wartawan Palestina gugur akibat agresi militer Israel. (Reuters, 25- 08- 2025 ).

Tragedi ini menyingkap beberapa realitas pahit diantaranya adalah : pertama, dunia internasional tahu, tapi tidak bertindak. Seperti serangan terhadap rumah sakit dan jurnalis jelas melanggar hukum humaniter internasional. Namun, respon global masih sebatas kecaman tanpa langkah nyata untuk menghentikan agresi. Kedua, dua miliar kaum muslimin belum mampu bersatu. Dukungan moral memang ada, tapi belum mampu diwujudkan dalam tekanan politik yang memaksa para penguasa mengirimkan kekuatan nyata untuk membela Gaza. Ketiga, solusi syar’i belum menjadi kesadaran umum. Meski jihad sebagai jalan pembebasan tanah Gaza dan merupakan kewajiban yang sudah diakui dalam islam, pemahaman ini belum menjadi opini umum dan solusi dari mayoritas umat.
Dari fakta dan analisa tersebut, ada jalan menuju solusi hakiki yang perlu ditegaskan yaitu meyakini bahwa Palestina adalah tanah kaum muslimin yang dirampas Zionis. Bukan sekedar konflik politik, tetapi perampasan tanah dan hak umat wajib direbut kembali. Kemudian pembebasan Palestina butuh jihad yang nyata. Sejarah membuktikan, penjajahan tidak pernah berakhir hanya dengan diplomasi dan doa, melainkan melalui perjuangan jihad yang terorganisir. Dan juga edukasi massif menjadi kunci kesadaran umat, dimana umat wajib menyebarkan narasi bahwa Palestina adalah isu akidah, bukan sekedar kemanusiaan.
Dan menguatkan pemahaman umat akan kewajiban syar’i dalam membela tanah yang dirampas. Kemudian mengonsolidasikan suara umat agar bersatu menekan penguasa untuk menjalankan peran mereka.
Kesimpulan yang seharusnya umat dapatkan dari banyaknya penjajahan yang dilakukan Israel yaitu saatnya umat bersatu. Serangan di Rumah Sakit Nasser menewaskan jurnalis dan tenaga medis hanyalah satu dari sekian banyak bukti kebrutalan Zionis yang tak terbendung. Dunia tahu, tetapi memilih bungkam. Umat islam pun tahu, namun masih tercerai berai.
Maka solusi hakiki hanya bisa lahir jika umat disadarkan kembali akan kewajiban yang harus dijalankan oleh mereka yaitu bersatu dalam jihad untuk membebaskan Palestina. Edukasi, persatuan, dan pejuangan nyata menjadi langkah awal yang harus terus digaungkan, agar Palestina benar- benar terbebas dari penjajahan. (**)
*Penulis Adalah Mahasiswa Sastra Jepang USU


















