Mati Karena Lapar di Negeri Kaya, Bukti Sistem Ini Gagal Menjadi Penyelamat

0
100
Randika Alzatria Syahputra (28), anak rantau asal lubuklinggau, Sumatera Selatan, ditemukan meninggal dunia di depan rumah warga di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat ( 17/10/2025 ).

OPINI | POLITIK

“Kematian Randika bukan sekadar tragedi individu semata semata, tapi ini potret nyata dari kegagaln sistem kapitalis dalam menjamin hak hidup rakyatnya. Sistem ini menciptakan jurang dalam antara si kaya dan si miskin,”

Oleh : Selvi Safitri

RANDIKA Alzatria Syahputra (28), anak rantau asal lubuklinggau, Sumatera Selatan, ditemukan meninggal dunia di depan rumah warga di Cilacap, Jawa Tengah, pada Jumat ( 17/10/2025 ).

Randika diduga meninggal karena kelaparan. Ia tak memiliki ongkos untuk pulang ke kampung halaman. Kisah tragisnya viral di media sosial setelah ditemukan surat peninggalannya.

Randika hanyalah satu dari jutaan rakyat kecil yang berjuang keras untuk sekedar bertahan hidup ditengah mahalnya biaya hidup, ia tak malas, ia hanya kalah oleh sistem yang menindas. Ironisnya, semua ini terjadi di negeri yang katanya “ kaya sumber daya alam .”( Tribunnews, 31-10-2025 )

Selvi Safitri/Foto : Ist.

Kematian Randika bukan sekadar tragedi individu semata semata, tapi ini potret nyata dari kegagaln sistem kapitalis dalam menjamin hak hidup rakyatnya. Sistem ini menciptakan jurang dalam antara si kaya dan si miskin. Di satu sisi, segelintir orang bisa makan enak tiga kali sehari bahkan lebih, sementara di sisi lain, ada Randika yang mati karena perut kosong.

Data membuktikan, kemiskinan masih menjadi wajah kelam negeri ini. Berdasarkan perhitungan SMERU, ada 78 juta orang Indonesia yang masuk kategori rentan miskin ( 2023 ). Bank Dunia bahkan memperkirakan angka kemiskinan mencapai 44 juta orang ( 2022 ), angka yang jauh dari klaim optimis pemerintah.

Pemerintah boleh bicara soal “ bantuan sosial “ dan “ pengentasan kemiskinan “, tapi faktanya program – program itu hanya seperti obat penenang. Penyalurannya sering salah sasaran, bahkan jadi ajang pencitraan politik. Sementara akar masalahnya tak pernah disentuh yang mana sistem ekonomi hanya berpihak pada pemilik modal.

Kapitalisme menempatkan rakyat sebagai konsumen dan tenaga murah. Negara hanya berperan sebagai “ penonton dan regulator “, sementara urusan pangan, energi, dan kebutuhan dasar rakyat diserahkan ke tangan korporasi. Akibatnya, hidup makin mahal, kerja keras tak lagi menjamin kenyang, dan rakyat miskin makin terpinggirkan.

Apakah ini salah Randika karena tak cukup “ berusaha “? Tidak. Ini salah sistem yang menjadikan manusia bersaing seperti binatang demi sesuap nasi. Salah satunya kekayaan sumber daya alam yang ditujukan untuk kepentingan umat tapi dikuasai hanya oleh segelintir orang.

Berbeda dengan sistem sekuler kapitalisme yang membiarkan rakyat hidup atau mati tergantung kekuatan pasar, islam memandang kehidupan sebagai amanah yang wajib dijaga oleh negara. Dalam sistem islam, negara ( khilafah ) memiliki tanggung jawab langsung untuk memastikan setiap warga mendapat kebutuhan pokoknya : sandang, pangan, papan, keamanan, pendidikan. Rasulluallah SAW bersabda “ Imam ( kepala negara ) adalah pengurus rakyat. Ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus.” ( HR. Bukhari )

Jika ada rakyat yang kelaparan, maka dosa dan tanggung jawab itu bukan pada rakyat tapi pada pemimpinnya. Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata saat masa paceklik “ celaka aku jika aku kenyang sementara rakyatku kelaparan.” Beliau bahkan menolak makan daging hingga rakyatnya kembali sejahtera. Karena dalam islam, kesejahteraan bukanlah hasil belas kasihan, tapi hak rakyat yang wajib ditunaikan negara.

Sistem islam menutup celah kemiskinan dengan tiga hal, pertama menjamin distribusi kekayaan secara adil. Tidak boleh ada monopoli sumber daya oleh korporasi. Kedua, menjamin pekerjaan bagi laki – laki yang mampu. Jika tidak mampu, maka baitulmal wajib menanggung kebutuhan mereka. Ketiga, melarang komersialisasi kebutuhan pokok yaitu Air, listrik, minyak, gas, dan tanah adalah milik umum, bukan barang dagangan.

Dengan begitu, tak akan ada lagi kisah seperti Randika, seorang anak muda yang mati bukan karena tak bekerja, tapi karena sistem menutup aksesnya pada kehidupan yang layak. Randika adalah wajah dari jutaan rakyat berjuang sendirian ditengah tumpukan janji kosong. Mereka tak butuh belas kasihan, mereka butuh sistem yang berpihak pada manusia. Sampai sistem islam ditegakkan, kisah Randika akan terus berulang dengan nama yang berbeda, tapi luka yang sama, mati perlahan di negeri yang katanya kaya. (**)

*Penulis Adalah Mahasiswa Sastra Jepang USU