Negara Salah Musuh : Kenapa Pecandu Dipenjara, Sementara Narkoba Terus Berkuasa?

0
184
Ilustrasi/Ist.

OPINI | HUKUM | POLITIK

“Musuh utama adalah narkoba dan jaringan yang memperdagangkannya. Dan perang yang salah sasaran hanya akan melahirkan korban baru, tanpa pernah memenangkan pertempuran,”

Oleh : I Nyoman Adi Peri

MARI kita mulai dengan pertanyaan paling tidak nyaman: mengapa negara begitu cepat memenjarakan pecandu, tetapi begitu lambat mematikan jaringan narkoba?

Jika perang narkoba adalah perang ideologi, maka kita sedang salah menembak sasaran. Yang kita hukum adalah korban ketergantungan, sementara sistem peredaran terus hidup, tumbuh, dan beradaptasi.

Kasus Ammar Zoni membuka luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh: negara lebih suka memamerkan ketegasan di permukaan daripada menyelesaikan akar masalah.

Publik disuguhi tontonan hukuman, tetapi jarang diajak melihat kegagalan sistemik di baliknya. Pecandu dijadikan simbol ketertiban hukum, padahal mereka adalah cermin kegagalan kebijakan kesehatan publik.

GANNAS mengambil posisi yang jelas dan keras: pecandu harus direhabilitasi, bukan dikriminalisasi. Dukungan kami terhadap Ammar Zoni sebagai justice collaborator bukan sekadar pembelaan personal—ini strategi perang. Jika negara ingin menghancurkan sindikat, maka suara dari dalam jaringan harus dilindungi, bukan dibungkam dengan stigma dan jeruji.

Penjara bukan ruang pemulihan bagi pecandu. Dalam banyak kasus, ia justru menjadi ruang perkenalan lanjutan dengan jaringan yang lebih kuat dan lebih terorganisir. Tanpa rehabilitasi yang serius, negara hanya memproduksi siklus: tangkap, penjara, kambuh, tangkap lagi. Itu bukan penegakan hukum; itu rutinitas kegagalan.

Yang lebih berbahaya adalah budaya publik yang haus hukuman. Netizen dan media sering kali menghakimi dua kali: secara hukum dan sosial. Pecandu dipermalukan, diseret menjadi simbol moralitas sempit, dan dilupakan sebagai manusia yang sakit. Padahal stigma adalah bahan bakar utama ketakutan untuk berobat. Semakin besar stigma, semakin banyak pecandu bersembunyi—dan semakin kuat pasar gelap tumbuh dalam bayang-bayang.

Sudah saatnya negara memilih keberanian yang sesungguhnya: memisahkan dengan tegas antara korban dan pelaku peredaran. Bandar dan pengedar harus dihantam tanpa kompromi—itu musuh nyata bangsa.

Tetapi pecandu membutuhkan pendekatan medis, rehabilitasi berkelanjutan, dan reintegrasi sosial. Tanpa perubahan paradigma ini, kita hanya mengulang kesalahan dengan wajah baru.

GANNAS berdiri di garis depan untuk menantang paradigma lama yang lebih emosional daripada ilmiah. Kami siap menghadapi opini publik yang menuntut hukuman keras, karena keberanian sejati bukan mengikuti amarah massa, tetapi menyelamatkan generasi bangsa dengan pendekatan yang benar. Rehabilitasi bukan kelemahan—itu strategi nasional.

Pada akhirnya, sejarah akan menilai: apakah negara ini memilih populisme hukuman, atau keberanian reformasi? Karena satu hal pasti—musuh utama bangsa ini bukan pecandu. Musuh utama adalah narkoba dan jaringan yang memperdagangkannya. Dan perang yang salah sasaran hanya akan melahirkan korban baru, tanpa pernah memenangkan pertempuran.

*Penulis Adalah Ketua Umum Gerakan Anti Narkoba Nasional (GANNAS), Alumni Lemhannas RI Angkatan 43.