NGERI! Dugaan Limbah PT Argo Pelindo Sakti (APS) Hitam Cemari Sungai Warga

0
17
Wakil ketua dprd juga cek lokasi menurut dia adakemungkinan sungai terkena limbah/Foto : Ist.

HUKUM | EKONOMI | POLITIK

“Airnya berubah keruh, menghitam. Tudingan masyarakat tajam mengarah: limbah pabrik kelapa sawit PT Argo Pelindo Sakti (APS) diduga menjadi biang keladi,”

Tayan Hulu | Sanggau | KALBAR | Lapan6Online : Langit Kelam Sanggau menyelimuti dua aliran kehidupan: Sungai Engkadan dan Sungai Sekayu. Dua urat nadi bagi warga Dusun Pulo Buwak, Desa Mandong, dan Dusun Sosok I, Desa Sosok, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Kini, urat nadi itu dikabarkan sakit. Airnya berubah keruh, menghitam. Tudingan masyarakat tajam mengarah: limbah pabrik kelapa sawit PT Argo Pelindo Sakti (APS) diduga menjadi biang keladi. Laporan ini merangkai puzzle fakta, investigasi, dan suara-suara dari lapangan.

Awal Laporan
Keluhan warga pecah. Air sungai, sumber kehidupan sehari-hari, tak lagi jernih. Informasi mengenai perubahan warna air di dua sungai itu menyebar cepat. Menanggapi keresahan, aparat bergerak. Sebuah kegiatan deteksi dan pemeriksaan tempat kejadian (pulbaket) digelar pada Kamis, 8 Januari 2025, pukul 08.45 WIB.

Tim Gabungan
Investigasi tak dilakukan sepihak. Sebuah tim gabungan dibentuk, menghimpun unsur keamanan, militer, dan perwakilan perusahaan. Patroli pun dimulai.

Bhabinkamtibmas Desa Sosok, Aipda Herman Julianto, memimpin koordinasi dengan warga.

KSPK II Polsek Tayan Hulu, Aipda Whelia Fatwija, S.H., mendampingi proses hukum.

KSPK III Polsek Tayan Hulu, Aipda Buinen, S.H., turun langsung ke lokasi.

Banit Reskrim Polsek setempat, Briptu Irwan Kurniansyah, mengumpulkan barang bukti.

Banit Intelkam, Briptu Rizki Rinaldi, memetakan informasi.

Koramil Sosok diwakili Praka Sumardinata.

PT. APS mengerahkan tim internal: SSL Julius Pauner, Ass Mill Frans E. Hutasoit, EHS Sinonius Semiden, Asisten Lab Nubertus, dan DC Teo Filus.

Sinergi ini menunjukkan keseriusan menangani laporan masyarakat.

Fakta Lapangan
Tim bergerak menuju lokasi. Fakta-fakta awal berhasil dihimpun.

Hujan Deras : Tercatat, hujan dengan intensitas cukup tinggi mengguyur wilayah kebun dan pabrik PT. APS pada dini hari sebelumnya.

Laporan Warga : Masyarakat mengonfirmasi air sungai berwarna keruh kehitaman.

Cek Kolam : Manajemen PT. APS segera mengecek seluruh kolam penampungan limbah. Hasil awal, tidak ditemukan kebocoran, jebol, atau rembesan.

Hipotese Awal : Diduga, endapan di kolam akhir atau aliran pembuangan terangkat akibat hujan deras, lalu terbawa aliran menuju sungai.

Klaim Baku Mutu : Perusahaan menyatakan air buangan telah memenuhi standar. Mereka mengklaim peringatan akan diberikan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sanggau jika melebihi ambang batas.

Monitor Online : Di areal kolam limbah, terpasang tower pemancar dengan peralatan pengecekan kadar air limbah yang bisa diakses real-time oleh DLH.

Poin Investigasi
Sekitar pukul 09.30 WIB, pemeriksaan lebih detail dilakukan di area kolam limbah akhir dan titik aliran menuju Sungai Engkadan. Temuan tim gabungan cukup mengejutkan.

Kolam Utuh : Tidak ditemukan indikasi kerusakan fisik pada kolam limbah.

Alat Normal : Pembacaan alat pengukur baku mutu air menunjukkan angka dalam batas normal.

Endapan Lumpur : Di aliran pembuangan akhir, terdapat timbunan lumpur.

Warna Normal : Yang menarik, kondisi air di muara pertemuan aliran pembuangan dan Sungai Engkadan dilaporkan berwarna normal.

Situasi selama proses pemeriksaan berjalan aman dan kondusif.

Analisa Kasus
Dari seluruh rangkaian fakta, beberapa catatan kritis bisa ditarik.

Tindak Lanjut: Kegiatan deteksi ini merupakan respons langsung atas informasi yang beredar di masyarakat.

Tak Ada Kebocoran: Hasil pemeriksaan lapangan secara teknis tidak menemukan bukti kebocoran kolam limbah.

Hujan Faktor Kunci: Penyebab dominan air keruh diduga kuat adalah hujan deras yang mengangkat endapan lumpur dari kolam dan aliran pembuangan, membawanya ke sungai.

Perlu Monitoring: Tim merekomendasikan kegiatan deteksi dan pemantauan perkembangan situasi serta respons masyarakat pasca-kejadian berlanjut.

Laporan ini diserahkan kepada pimpinan untuk ditindaklanjuti dengan kebijakan dan arahan lebih lanjut.

Profil Mendalam
Kasus ini adalah potret klasik konflik lingkungan di wilayah pertumbuhan industri, khususnya perkebunan kelapa sawit. Di satu sisi, perusahaan memiliki serangkaian klaim kepatuhan: alat monitoring online, pernyataan baku mutu, dan inspeksi internal. Di sisi lain, masyarakat menyaksikan langsung perubahan ekosistem sungai mereka. Warna air yang keruh dan menghitam bukan sekadar estetika, melainkan alarm bagi kesehatan, perikanan, dan keseimbangan alam.

Meski temuan lapangan tak menunjukkan kelalaian teknis akut seperti kebocoran, keberadaan “endapan lumpur” di aliran pembuangan menjadi catatan penting. Endapan itu, ketika terkena daya dorong air hujan deras, berubah menjadi polutan yang mengalir bebas. Pertanyaan kritisnya: apakah standar baku mutu hanya mengukur cairan, atau juga beban endapan yang suatu saat bisa bermobilisasi?

PT. APS dalam kasus ini menunjukkan upaya kooperatif dengan membuka diri terhadap investigasi gabungan. Namun, kepercayaan masyarakat tidak bisa hanya dibangun dengan laporan normal alat dan ketiadaan kebocoran. Transparansi data monitoring yang bisa diakses publik, dialog rutin dengan komunitas terdampak, dan upaya nyata mengurangi potensi endapan menjadi langkah wajib untuk memulihkan kepercayaan.

Kisah Sungai Engkadan dan Sekayu adalah pengingat: harmoni industri dan lingkungan bukanlah dongeng. Ia memerlukan bukti konkret, kewaspadaan tinggi, dan akuntabilitas tanpa akhir. Laporan ini bukan penutup, melainkan pembuka bagi babak baru pengawasan kolektif. (*BM/SPL/Lpn6)